FAKIR MISKIN, orang kaya ataupun pejabat memiliki kedudukan yang sama di mata Allah SWT. Mereka setara. Termasuk dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan.
Laporan: Alpian Alwi
JABATAN boleh sebagai Bupati Luwu Timur. Namun, HM Thoriq Husler punya menu berbuka puasa yang tidak jauh berbeda dengan rakyat biasa.
Bagi orang nomor satu di Bumi Batara Guru itu, menu favorit yang paling utaman disantap pada waktu berbuka adalah simbole gula merah. Makanan ini berbahan baku air kelapa, kepala dan gula merah.
Sejak dulu, dirinya memang sangat menyukai menu tersebut. Disamping mudah dijumpai dimana saja, juga memiliki cita rasa yang nikmat.
“Simbole gula merah merupakan menu nomor satu saya dari dulu. Tapi yang tidak pakai es,” ungkap Husler sambil tersenyum di rumah jabatan (rujab) Bupati, Selasa (21/6).
Selain simbole gula merah, kata Husler, menu favorit kedua adalah kolak pisang. Menu ini juga menjadi wajib disajikan sebagai pengganti simbole jika menu nomor satunya itu lupa untuk disajikan pada saat berbuka puasa.
Sementara untuk waktu sahur, mantan pendamping Andi Hatta Marakarma ini tidak memiliki makanan favorit seperti pada waktu berbuka. Cukup ada sayur, ikan kering dan nasi, sudah dianggap cukup baginya.
“Kalau waktu sahur, saya apa adanya saja. Yang penting ada sayur dan ikan kering. Saya memang suka makan ikan kering. Apalagi ditambah sambel. Biasanya minta nambah,” ungkap Husler, sekali lagi sambil tersenyum.
Usai menjalani sahur, dirinya tidak lupa bertadarus ayat suci Alquran sambil menunggu waktu salat subuh tiba. Biasanya pada pagi harinya, menurut Husler, masyarakat banyak yang menunggu di rujab untuk bersilaturahmi.
“Karena banyaknya masyarakat yang datang, terkadang saya telat masuk kantor. Biasanya saya menyarankan mereka untuk ketemu di kantor saja. Ini wajib saya lakukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat,” kata Husler.
Sepekan memasuki bulan Ramadan, Pemkab Lutim mengagendakan menggelar safari ramadan, yang diawali dengan berbuka puasa. Momen ini digunakan untuk mempererat tali silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat.
“Kita libatkan semua elemen masyarakat dan seluruh agama yang ada di Luwu Timur. Hal itu kita lakukan untuk bertukar pendapat guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkap Husler. (*/rus)

