28 Juni, 19 tahun yang lalu. Sebuah koran di Makassar menapaki untuk terbit harian. Namanya Binabaru. Media harian ini hadir setelah eksis selama beberapa tahun di jalur mingguan.
Dari sebuah ruangan kecil di lantai dua gedung Harian Fajar di Jalan Racing Center, koran harian ini dirintis. Dimulai dari perekrutan wartawan. Ratusan wartawan dan wartawati muda menjalani seleksi secara ketat. Namun yang diterima hanya sebagian saja.
Mereka inilah yang kemudian menjadi ujung tombak terdepan dalam mengisi halaman di Harian Binabaru. Diantara wartawan dan wartawati muda itu, ada nama seperti Rahman Pina, Syamsuddin Alimsyah, Andi Mariattang, Muliaty Mastura dan sejumlah nama lainnya. Termasuk Nurmal Idrus yang ikut bergabung setelah Binabaru berganti nama menjadi Harian Berita Kota.
Sementara sebelum menjadi harian, sudah ada nama seperti Fadli, Wakhyono, Herman Hapsa serta beberapa yang lain.
Nama-nama yang disebutkan di atas memang sudah tidak lagi bergabung dengan Berita Kota Makassar (BKM). Mereka kini menggeluti profesinya masing-masing.
Rahman Pina misalnya. Ia kini tercatat sebagai anggota DPRD Kota Makassar dari Partai Golkar. Sudah dua periode ia duduk sebagai wakil rakyat. Rahman pernah menjadi redaktur halaman metro, olahraga dan politik.
Syamsuddin Alimsyah kini menjadi Direktur Kopel (Komite Pemantau Legislatif) Indonesia. Sementara Andi Mariattang adalah mantan anggota DPRD Sulsel dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Syamsuddin dan Andi Mariattang awalnya merintis karir di Harian Binabaru. Dari sini pula keduanya dipertemukan hingga akhirnya menjadi pasangan suami istri hingga sekarang.
Demikian pula Nurmal Idrus. Mantan redaktur halaman olahraga itu kini menjadi salah satu dari Badan Pengawas PDAM Kota Makassar.
Mereka semua tentu punya kenangan manis yang tak terlupakan selama menjadi bagian dari BKM. Dihubungi secara terpisah di sela-sela kesibukannya masing-masing, mereka berbagi cerita tentang apa yang didapatkannya selama bergabung dengan BKM.
Dalam kurun waktu 10 tahun kebersamaan Rahman Pina dengan BKM, diakui banyak pengalaman dan ilmu yang diperolehnya. Banyak pula kisah, baik suka maupun duka yang tidak bisa dilupakannya.
”Bagi saya pribadi, BKM itu sebuah ‘universitas’ terbaik. Menjadi tempat kuliah tentang bagaimana membangun jaringan, bekerja secara kolektif dan menguatkan idealisme serta integritas. BKM bahkan telah membangun karakter saya. Saya juga banyak dikenal orang karena BKM,” ujarnya.
Diakui putra Enrekang ini, cukup banyak pembelajaran yang ia dapatkan selama berkarir di BKM. Mulai dari belajar tentang proses meraih jati diri, dan yang paling penting mengetahui banyak tentang dunia informasi.
“Saya belajar tentang banyak hal, tentang proses. Semua usaha harus lewat proses. Berita yang baik butuh perjuangan, butuh narasumber yang benar, tidak sekadar berita instan. Saya mengawali karier dari magang,” terangnya.
Sejak tahun 1997 hingga 2007 Rahman Pina bekerja di BKM. Memulai dari proses magang, menjadi reporter, asisten redaktur, redaktur olahraga, metro, redaktur politik sampai manajer bisnis hingga manajer iklan.
“Banyak proses yang sudah saya lalui. Jadi memang karakter saya dibangun di BKM. Karena saya bekerja lama disana,” bebernya.
Yang paling berkesan dan tak pernah dilupakan oleh politisi yang akrab disapa RP itu, adalah saat dirinya baru magang di Berita Kota ketika itu. Ia mendapat tugas untuk meliput pertandingan PSM Makassar.
Saat itu dia ikut bus supporter PSM. Di tengah perjalanan RP diturunkan dari mobil oleh Syamsuddin Umar, mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel.
”Saya masih kuliah semester dua waktu itu. Saya magang di Berita Kota. Saya ditugaskan meliput pertandingan PSM. Saya ikut di bus supporter. Di tengah jalan saya diturunkan oleh Syamsuddin Umar, karena dikira saya anak kecil. Tubuh saya memang kecil. Masih kurus. Itu pengalaman yang paling berkesan dan tak pernah saya lupakan,” tuturnya.
Pengakuan dan kisah menarik lainnya disampaikan Nurmal Idrus. Menjabat sebagai Dewan Pengawas PDAM saat ini, ia mengaku selalu merindukan penyajian berita di BKM, khususnya di halaman kriminal yang menjadi kekuatan di tengah persaingan media cetak saat ini.
Menurutnya, wartawan yang bergabung di BKM memiliki sikap yang tegas dan tidak manja. Hal itu terbentuk ketika mereka bergabung dengan media ini.
”Dari dulu wartawan BKM itu selalu dituntut untuk tegas dan tidak manja, khususnya dalam mencari dan menggali sebuah berita,” ujarnya.
Mantan anggota KPU Makassar inipun bangga dan beruntung karena pernah bergabung menjadi wartawan BKM. Bahkan, karakternya terbentuk sebagai seorang wartawan ketika bergabung dengan BKM.
”Berbagai pengalaman saya rasakan selama di BKM. Saya lama liputan olahraga. Biasa berkunjung ke kota lain, bahkan ke luar negeri. Saya juga sempat merasakan liputan perang di luar negeri,” terang Nurmal.
Pada tahun 2007, Nurmal bercerita, sebuah peristiwa perang terjadi di ibu kota Yaman, Sana’a. Dia pun mendapat tugas untuk meliput secara langsung kondisi di negara itu.
”Pengalaman yang paling berkesan selama saya bergabung di BKM itu ketika saya ditugaskan meliput perang di Yaman selama lima hari. Saya masih ingat, saya harus melaporkan langsung peristiwa melalui telepon ataupun fax. Karena saat itu jarigan internet sulit, sementara laporan saya harus tetap masuk,” kenangnya.
Di usia yang ke-19 tahun ini, dia berharap BKM terus maju meyajikan pemberitaan yang baik, tegas dalam mengontrol masalah kota. Yang tak kalah pentingnya, tidak meninggalkan peristiwa kriminal yang menjadi kekuatan BKM selama ini.
“Saya melihat BKM sudah sedikit beralih ke politik. Padahal kriminal dan kontrol masalah kota adalah wajah dan karakter BKM. Saya merindukan setiap judul dari BKM yang panjang dan menimbulkan tanda tanya,” ujarnya.
Kisah yang tak kalah serunya dikenang Fadli. Mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel ini paling ingat ketika tahun 1996, peralihan Binabaru dari mingguan ke harian.
”Saya masih ingat waktu itu kita biasa dilempar disket oleh redaktur kalau berita yang kita buat tidak becus. Waktu itu masih menggunakan komputer yang pakai disket,” kata Fadli.
Sebagai wartawan pemula ketika itu, Fadli mendapat tugas untuk investigasi kasus pembunuhan sekeluarga di Karunrung. Dari sini ia belajar menulis. Pertama kali pula Fadli mengenal yang namanya wartawan.
”Saya tidak akan pernah lupa apa yang terjadi 20 tahun silam itu. Dari Binabaru waktu itu saya bisa memiliki banyak jaringan. Bukan hanya pejabat, tapi juga preman-preman. Semua itu sangat bermanfaat bagi saya hingga sekarang,” akunya.
Fadli tak menampik, kekuatan jaringannya yang terbentuk saat ini bermula ketika bekerja di Harian Binabaru dan BKM. Bukan pada saat ketika berpindah-pindah kerja di media elektronik.
”Kenal dengan pejabat pemerintah ataupun polisi ketika saya menjadi redaktur kota. Semua halaman di BKM saya pernah menjadi redakturnya, kecuali halaman hukum,” jelasnya.
Fadli merintis karir di Binabaru mulai dari magang. Selama tiga bulan ia mengaku tak digaji. Pertama kali di tahun 1996 ia menerima gaji Rp10 ribu.
”Waktu itu gaji bagi saya belum terlalu dipikirkan. Apalagi masih anak muda. Yang terpenting, saya merintis karir dulu dan menimba ilmu tentang dunia jurnalistik,” tandasnya.
Mantan Ketua AJI ini melihat, media cetak seperti BKM masih mampu bertahan di tengah gempuran media online maupun elektronik, seperti televisi. Bahkan, ‘ketakutan’ orang-orang maupun pejabat masih berada di media cetak harian, bukan media lain.
Direktur Kopel Indonesia, Syamsuddin Alimsyah juga mengaku bersyukur pernah bergabung di BKM. ”Di BKM saya banyak belajar, terutama yang berkaitan dengan kerja-kerja investigasi dan penegakan hukum. Terutama advokasi kasus korupsi,” ujarnya.
Di masa-masa menjadi wartawan di BKM, Syamsuddin awalnya berposko di Polsek Bontoala. Selanjutnya di kejaksaan dan pengadilan. Setelah itu digeser ke DPRD Sulsel.
”Saya menyebut BKM itu sebagai tempat belajar, mengasah pengetahuan, menjaga semangat sekaligus mengajarkan kedisiplinan. Dan yang terpenting, berkarya untuk perkuatan demokrasi,” tandasnya. (ita-arf-rif/rus)
”BKM Itu Sebuah ‘Universitas’ Terbaik”
×

