pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berawal dari Kerap Jadi Imam Salat Tarawih

KREDIBILITAS seseorang dipertaruhkan dari seberapa besar ia mampu mengemban amanah dan tanggung jawab yang dibebankan di pundaknya. Itulah yang menjadi acuan DR Muammar Bakry dalam menunaikan amanah yang dipercayakan kepadanya sebagai imam besar Masjid Al Markaz Al Islami.

Laporan: Rahmawati Amri

LAHIR di Ujungpandang, 22 November 1973. Dalam sebulan terakhir ia melaksanakan tanggung jawab yang cukup besar di salah satu masjid terbesar di kawasan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang turun tangan langsung memintanya menjadi imam masjid.
Ustad Ammar, demikian ia akrab disapa, menuturkan asal muasal ketika dia terpilih untuk menjadi imam bagi ratusan ribu, bahkan jutaan jamaah Masjid Al Markaz Al Islami.
Kepada BKM, Kamis (28/7), dia menceritakan, usai menyelesaikan kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, sekitar tahun 1997, dia kerap diminta untuk menjadi imam salat tarawih di masjid itu ketika Ramadan tiba. Dan itu terus berlanjut hingga tahun 2000.
Lulusan Pesantren DDI Mangkoso, Kabupaten Barru ini kemudian memutuskan untuk melanjutkan program doktoralnya di Jakarta pada tahun 2000 itu. Selama empat tahun, dirinya konsentrasi belajar untuk meraih gelar bergengsi tersebut.
Tahun 2004 dia pulang ke Makassar dan kembali aktif di Masjid Al Markaz Al Islami sebagai pengurus masjid besar itu. Dia dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengkajian Ibadah dan Dakwah, sambil tetap rutin memimpin salat di masjid tersebut.
Konsistensinya sebagai imam salat ternyata mendapat penilaian tersendiri dari orang nomor dua di Indonesia, yakni Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Wapres menginginkan ada regenerasi atau pelanjut dari imam besar yang ada saat ini. JK berharap imam besar Masjid Al Markaz Al Islami tidak lebih dari 60 tahun. Maka mulailah diseleksi sejumlah kandidat. Empat calon kuat pun diusulkan. Ternyata nama Ustad Amar yang terpilih.
Dia mengaku, sempat menghindar beberapa kali agar bukan namanya yang terpilih. Pasalnya, dia menyadari betul tugas dan tanggung jawab seorang imam besar itu sangat berat. Berbeda dengan jabatan duniawi lain yang diemban.
Namun takdir berkata lain. Dirinya dipercaya dan diberi amanah untuk tugas mulia tersebut.
“Bagi saya, imam besar bukan sekadar imam salat yang tugasnya memimpin salat rawatib atau tarawih dan lainnya,” ungkap Ustad Muammar.
Pandangan dan perspektif masyarakat pada imam masjid, apalagi imam besar Masjid Al Markaz Al Islami, adalah sosok yang sempurna alias perfect. Orang yang harus menjadi panutan. Memberikan bimbingan serta contoh teladan yang baik bagi masyarakat.
Padahal, seorang imam masjid itu sebenarnya hanyalah manusia biasa. Karenanya dia harus berusaha menjaga sikap dan semaksimal mungkin memberi panutan kepada umat.
“Sebagai seorang imam masjid, harus disadari betul posisi kita. Mulai dari tutur kata, penampilan, gerak gerik, itu harus dijaga,” jelasnya. (*/rus)



×


Berawal dari Kerap Jadi Imam Salat Tarawih

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar