pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Garfiel Malaysia Dibuat dengan Biaya Rp60 Juta

LAYANG-LAYANG bukan hanya dimainkan kalangan anak-anak. Orang dewasa dan orang tua juga menyukainya. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk membuatnya.

Laporan: Arif Alqadry

SUASANA di Pantai Akkarena, Minggu (21/8) siang tampak ramai. Ratusan layang-layang tampak memenuhi udara pantai.
Dari sekian banyak layangan itu, ada satu yang menarik perhatian. Terbang stabil, baik pada saat angin kencang maupun tidak, layangan ini tetap sempurna menari.
Layang-layang ini bernama Garfield. Bentuknya menyerupai binatang kucing seperti di film, warnanya yang orange dengan kombinasi hitam putih.
Setelah ditelusuri, layangan ini berasal dari Malaysia. Pemiliknya bernama H Nasri Ahmad yang tergabung dalam Komunitas Layangking Show Kite.
Ia sudah mendapatkan lisensi dari pencipta Garfield. Dalam 10 tahun terakhir layangan ini sudah diterbangkan. Terakhir, ikut berpartisipasi dalam Festival Layang-layang yang diselenggarakan Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Krearif (Disparekraf).
Ditemui di Pantai Akkarena, kemarin, Nasri Ahmad mengatakan, untuk Festival Layang-layang di Makassar, dia membawa beberapa jenis model layang-layang. Diantaranya garfield, monyet, baby sapi Toraja yang jumlahnya enam ekor.
Selain sebagai ajang silaturahmi, Festival Layang-layang Makassar ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan komunitasnya.
Sedikit bercerita, Nasri Ahmad mengaku menghabiskan 80 ringgit Malaysia, atau sekitar Rp60 juta untuk membuat sebuah layang-layang Garfield. ”Bahannya didatangkan khusus dari Belanda, dan pembuatan warna di Korea dan di Swiss. Proses penyelesaiannya butuh waktu yang cukup lama, bahkan hingga tahunan,” ujarnya.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto juga turut berpartisiapasi dalam kegiatan ini. Ia menerbangkan layang-layang berukuran panjang sekitar satu meter, lebar dua meter dengan warna putih bertuliskan Makassar Everyday is your best time.
Danny, sapaan akrab Wali Kota, juga berkesempatan menaikkan layang-layang bergambar Leak sambil menjatuhkan tumpukan hadiah kupon yang diikatkan di tali yang diundi di akhir acara.
“Saya harapkan tahun depan Festival Layang-layang ini bisa melibatkan lebih banyak peserta dengan skala internasional dan dilaksanakan di CPI. Karena lokasi di CPI jauh lebih baik, karena dapat disaksikan masyarakat dari Anjungan Pantai Losari Makassar,” ujarnya.
Kepala Bidang Pemasaran Disparekraf Kota Makassar, Mohammad Roem mengatakan, Festival Layang-layang yang digelar ini merupakan kegiatan tahunan rutin yang diselenggarakan Pemkot Makassar. Para peserta bukan hanya dari Indonesia, tapi juga mancanegara.
Agustus adalah bulan yang selalu dipilih untuk menyelenggarakan Festival Layang-layang karena angin yang stabil. Sehingga para pecinta Layang layang dapat dengan mudah menaikkan dan memainkan layang-layang mereka.
“Di tahun ini sebanyak 20 peserta ikut meramaikan festival. Dda dua peserta yang berasal dari luar negeri, yaitu Kuala Lumpur dan Serawak, Malaysia. Mereka membawa beberapa layang-layang. Garfield merupakan salah satu layang-layang yang cukup banyak menarik perhatian. Pemiliknya berasal dari Kuala Lumpur,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Museum Layang-layang Indonesia, Endang Ernawati mengatakan, potensi angin di Makassar masuk kategori lima besar terbaik. Dengan angin yang kuat, lanjutnya, memudahkan layangan tiga dimensi berukuran raksasa mengudara. Menurutnya, angin di Makassar setara dengan angin di Parangtritis, Yogyakarta dan pantai di Bali.
“Angin di Kota Makassar masuk peringkat lima besar. Saya baru tiba dari Padang. Di sana anginnya masih lebih kecil daripada angin di Makassar,” katanya.
Dari sisi potensi pariwisata, Endang mengatakan bahwa ada peningkatan dari tahun sebelum. Ia menilai di tahun 2016 ini, antusiasme masyarakat Makassar jauh lebih tinggi. Terlihat dari hadirnya peserta lokal untuk lomba layangan dan jumlah pengunjung.
Museum Layang-layang Indonesia sendiri membawa kurang lebih 50 layang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada pula layangan eksebisi andalannya, yaitu layangan raksasa tiga dimensi berbentuk gurita, cumi-cumi, dan layangan berbentuk ikan pari warna-warni dengan ukuran yang tak kalah besar.
“Museum Layang-layang Indonesia bawa 50 layangan. Karena kita hadir untuk eksebisi, kita bawa andalan kita (layangan gurita dan pari),” jelasnya. (*/rus)



×


Garfiel Malaysia Dibuat dengan Biaya Rp60 Juta

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar