MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) hampir pasti tidak akan maju lagi di Musyawarah Daerah (Musda) partai Golkar Sulsel untuk periode kedua. Ia terganjal peraturan organisasi yang tidak membolehkan calon ketua memiliki garis keturunan langsung yang aktif di partai lain.
Putri sulung SYL, yakni Indira Chunda Thita Syahrul aktif di Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai anggota DPR RI dua periode.
Tak hanya enggan bertarung di Musda Golkar Sulsel, SYL kini diwacanakan akan bergabung dengan Partai Nasdem pimpinan Surya Paloh. Mantan calon ketua umum DPP Golkar pada Munaslub di Bali ini juga sudah bertemu Paloh. Terakhir, Syahrul telah mengizinkan kakaknya, Hj Tenri Olle YL bergabung di Partai Nasdem Sulsel.
Ketua DPW Nasdem Sulsel, Sri Sajekti Sudjunadi mengaku jika Paloh dengan SYL seperti saudara atau adik dan kakak. “Pak Surya Paloh dengan Pak Syahrul itu seperti saudara sejak dulu,” ujar Jeanette, panggilan akrab Sri Sajekti saat berkunjung ke redaksi BKM, Rabu (24/8).
Saat ditanya kapan SYL gabung Nasdem, Jeanette hanya tersenyum. Dia lalu berujar bahwa hal biasa jika orang pindah partai.
Menurutnya, pindah partai itu bukan kutu loncat. Sama ketika Surya Paloh yang puluhan tahun mengabdi di Golkar akhirnya mendirikan Nasdem.
Meski demikian, Jeanette tak membantah kedekatan Nasdem dengan SYL. Salah satu bukti adalah masuknya kakak SYL, Tenri Olle gabung Nasdem. “SYL dan Ibu Tenri Olle itu juga kakak kita,” ujar Jeanette singkat sebelum turun masuk lift.
Dosen politik UIN Alauddin, Dr Muhammad Sabri menilai jika benar SYL hengkang dan siap ke Nasdem, sebagai sesuatu hal yang wajar. “Pindah-pindah partai itu sebuah fenomena. Kalau Pak Syahrul benar hengkang, bukan karena kecewa. Tapi hal tersebut disebut ‘ijtihad politik’. Artinya, karena pintu untuk mengembangkan dirinya di Golkar sudah sangat tertutup rapat, maka sebagai anak bangsa SYL harus mengaktualisasikan diri sebagai aset nasional dari Sulsel,” ujar Sabri, Rabu (24/8).
Sabri beralasan, SYL tentu akan mengembangkan dirinya. Sebab delapan caketum Golkar saat Munaslub lalu, hanya dia (SYL) satu-satunya yang tak diakomodir. Kedua, yakni SYL melakukan ‘hijrah politik’.
“Saya tak sependapat jika menggunakan istilah kutu loncat,” jelas Sabri, yang mengambil analogi ketika Rasulullah SAW yang lahir di Mekkah, namun akhirnya menuju Madinah karena ada satu hal sehingga meninggalkan tempat kelahiran. Tapi hijrah menciptakan sebuah perubahan yang dahsyat bagi perkembangan umat Islam.
Hal senada disampaikan dosen politik Unismuh Makassar, Arqam Azikin. Menurut dia, saat ini wacana kepindahan SYL ke Nasdem semakin santer.
“Semua peluang politik terbuka bagi SYL. Apakah ke Nasdem atau partai lain. Karena daya tarik SYL masih kuat untuk masuk ke level pengurus pusat partai manapun,”ujar Arqam.
Selain itu, Arqam menilai jika jaringan SYL di kabupaten/kota juga masih cukup baik. Relasiantar provinsi juga masih bagus, mengingat posisinya sebagai koordinator gubernur se-Indonesia. (rif/rus)
Jeanette Sebut Paloh-SYL Seperti Saudara
×

