TANPA diketahui orang tuanya, Aswar terus berlatih dan menekuni olahraga karate secara sembunyi-sembunyi. Keseriusannya untuk menekuni karate pun berbuah prestasi.
Laporan: Rahmawati Amri
SAAT ada kejuaraan karate tingkat mahasiswa se-Indonesia Timur, Aswar yang belum banyak memiliki pengalaman tanding, nekad ikut kejuaraan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung menyabet emas dan mengalahkan karateka berskala nasional.
Prestasi itu sampai di telinga orang tuanya. Itupun secara tak sengaja karena ada kerabat yang memberi ucapan selamat ke orang tua Aswar atas prestasi yang telah diraih. Disitulah, anggapan orang tuanya terhadap karate yang ditekuni anaknya, mulai berubah.
“Ternyata orang tua tidak lagi melihat jika karate yang saya tekuni hanya sekadar untuk gagah-gagahan. Tapi untuk prestasi,” ungkapnya.
Dari situ, secara perlahan, lelaki ini mulai menapaki tangga prestasi. Secara perlahan, melalui latihan keras dan disiplin, diapun meraih berbagai gelar kejuaraan.
Dia sudah pernah mengalami berbagai kejadiaan saat latihan. Seperti pernah kena tendangan keras sampai sebulan harus istirahat. Saat itu kakinya serasa mau lepas. Pernah juga pingsan karena latihan terlalu keras. Itu semua dianggap sebagai risiko yang harus dihadapi.
“Saya harus bangkit melawan rasa sakit dan tidak boleh trauma menghadapi itu,” katanya.
Banyak cerita dan pengalaman menarik yang dialami selama menekuni olahraga karate. Karakternya yang pantang menyerah dan kemauan yang keras untuk juara diyakini menjadi tangga menuju kesuksesan.
Salah satunya, saat bertanding di Sea Games 2006 di Thailand.
Beberapa hari sebelum tanding, Aswar terserang penyakit tipes. Diapun terpaksa harus diinfus. Namun semangat baja untuk mengharumkan nama negara dan meraih emas mampu mengalahkan penyakit yang sedang menderanya.
Pada hari H pertandingan, walau kondisi kurang prima, dengan demam yang cukup tinggi, dia memaksa untuk melepas infusnya dan berlaga di ajang bergengsi itu. Ternyata, upayanya tidak sia-sia. Dia bersama rekan setimnya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.
“Soal sakit waktu itu, saya sembunyikan dari keluarga agar mereka tidak cemas,” ungkapnya.
Dia tak mau latihan yang dilakukan selama 20 bulan untuk persiapan Sea Games, terhapus sia-sia jika dirinya tidak berlaga di arena.
“Di situ saya percaya jika kesungguhan dan tekad yang kuat, ditambah doa, bisa mengalahkan segalanya,” jelas Aswar.
Buah dari kerja keras dan prestasi mengharumkan nama daerah dan negara sudah dituai saat ini. Karena prestasinya, Aswar pun berhasil menjadi pegawai negeri sipil (PNS) melalui jalur prestasi. Dia tercatat sebagai salah satu PNS di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbanpol) Pemprov Sulsel.
Selain itu, Aswar juga sudah mempersembahkan rumah untuk orang tuanya. Selain itu, memberangkatkan haji kedua orang dihormatinya itu.
“Ibu sudah berhaji. Insya Allah, tahun depan, bapak menyusul,” jelasnya.
Pada 14 September mendatang, dia bersama tim akan bertolak ke Bandung untuk berlaga di Pekan Olah Raga Nasional (PON) XIX. Tentu saja, tanpa neko-neko target untuk kembali mempersembahkan emas bagi Sulsel terbuka lebar.
Karena prestasinya pula dia bisa melanglang buana ke berbagai negara. Tak terhitung lagi negara yang didatangi. Mulai yang terdekat seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Istambul, hingga ke sejumlah negara Eropa. (*/rus)

