pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jadi Tukang Cuci Mobil Sepulang Sekolah

BAGI sebagian anak, bersekolah menjadi tugas utama yang harus dilakoninya. Mereka tidak perlu susah-susah mencari uang untuk membiayai sekolah dan kehidupan sehari-hari. Tapi tidak dengan Vikar Rahman.

Laporan: Samiruddin

KEPALA Sekolah Dasar Negeri(SDN) 71 Parepare, Muh Syukur Salman memanggil seorang muridnya bernama Vikar Rahman untuk masuk ke dalam ruangannya. Murid kelas VI itupun bergegas. Dalam hati dia bertanya, ada apa gerangan kepala sekolah memanggil dirinya. Apalagi dengan keberadaan BKM di dalam ruang kerja kepsek.
Bocah laki-laki yang lahir di Balikpapan, 28 Oktober 2003 itu baru tahu kalau dirinya dipanggil oleh kepsek sekadar untuk diwawancarai tentang prestasi yang telah ditorehkannya selama ini. Menariknya, karena Vikar berasal dari keluarga kurang mampu yang kehidupannya serba terbatas, jika tak ingin disebut miskin.
Dari mulutnya terucap pengakuan jika Vikar merupakan pemegang juara I lomba catur tingkat kecamatan, serta juara I lomba sains IPA tingkat Kota Parepare.
Dua piala yang diboyongnya telah membuat bangga pihak sekolah, guru dan kepseknya. Apalagi Vikar telah membawa harum nama sekolahnya.
Hal serupa juga dirasakan kedua orang tuanya, Abdul Rahman yang merupakan tukang masak di kapal barang Tanjung Harapan, dan Sri Dalaita, seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka bangga anaknya bisa mengukir prestasi di sekolah di tengah keterbatasan ekonomi orang tua.
Vikar amat jarang bersama dengan bapaknya. Karena Abdul Rahman biasanya berada di rumah selama tiga hari. Setelah itu berlayar lagi ke Kalimantan. Penghasilannya yang sebesar Rp500 ribu per bulan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Pasangan suami istri ini memiliki sembilan orang anak. Satu diantaranya sudah berkeluarga dan kini menetap di Balikpapan. Sementara delapan lainnya masih menjadi tanggungan orang tua.
Sebenarnya Vikar pernah tinggal bersama kedua orang tua dan sauda-saudaranya di Balikpapan. Namun karena persaingan hidup yang begitu keras di sana, orang tuanya semakin tidak mampu mencukupi biaya hidup keluarga.
Mereka kemudian kembali ke Parepare. Karena keluarga bapaknya, Abdul Rahman berada di kota ini. Abrul Rahman berada di Balikpapan sekadar mencari nafkah.
Vikar merupakan anak keempat. Saat ini hanya tiga saudaranya yang masih bersekolah. Kakak perempuannya yang kedua bekerja di minimarket. Kakak ketiganya bersekolah di SMK 2 Parepare. Adik Vikar yang merupakan anak kelima masih duduk di bangku SD. Sementara anak keenam di TK. Dua lainnya belum bersekolah karena masih kecil.
Sebagai seorang anak laki-laki, Vikar tidak tinggal diam menghadapi hidup. Ia berusaha mencari uang sendiri. Mencuci mobil truk milik keluarganya, merupakan pekerjaannya usai bersekolah. Biasanya, Vikar diberi upang Rp15 ribu hingga Rp20 ribu usai membersihkan kendaraan besar tersebut.
Kepala SDN 71 Parepare, Syukur Salman mengakui, Vikar merupakan murid berprestasi. Ia telah membuktikan kemampuannya dengan memboyong dua piala juara satu ke sekolah.
”Anaknya pintar, rajin dan berprestasi. Kami tahu dia anak dari keluarga kurang mampu. Ayahnya harus menanggung delapan orang anak dengan bekerja sebagai tukang masak di kapal,” terang
Syukur.
Walau hanya peringkat 18 dari 36 murid di kelasnya, untuk ukuran seorang murid dari keluarga tidak mampu, menjadi penilaian khusus bagi pihak sekolah. Karena yang menduduki peringkat di atas Vikar rata-rata berasal dari keluarga yang tergolong mampu.
Biasanya, untuk ke sekolah Vikar berjalan kaki. Beruntung, jarak dari tempat tinggalnya di RT 3/RW 7 Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreng ke sekolah hanya berkisar 500 meter. Vikar tinggal di kolong rumah saudara bapaknya. Kamar seluas 3×6 meter ditempati ibu dan saudara-saudaranya.
”Kalau bapak saya jarang pulang. Kalau datang, biasanya hanya tiga hari. Setelah itu pergi lagi berlayar. Ia mencari uang untuk kami,” kata Vikar dengan lugu.
Meskipun tempatnya bernaung amat sempit, tidak menjadi kendala bagi Vikar untuk meraih prestasi di sekolahnya. Ia bahkan menjadi motivasi bagi saudara-saudaranya yang lain dalam meraih prestasi.
Andi Langkoke, paman Vikar menuturkan, ponakannya itu bersama orang tuanya tinggal di kolong rumahnya karena mereka tidak punya tempat tinggal.
”Biasanya Vikar membantu mencari uang dengan mencuci mobil truk milik keluarga. Mobil itu biasanya kotor setelah melakukan perjalanan jauh. Vikar disuruh membersihkannya dan diberi upah,” ujar Andi Langkoke yang juga Ketua RT 3 Jompie. (*/rus)



×


Jadi Tukang Cuci Mobil Sepulang Sekolah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar