pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pembakaran Gedung DPRD Pengalihan Isu?

GOWA, BKM — Tindakan anarkis massa yang merusak dan membakar gedung DPRD Gowa menuai banyak pertanyaan dari berbagai pihak. Salah satunya menganggap, perbuatan yang dilakukan oleh sekelompok massa kecil yang dengan mudahnya masuk dan kemudian merusak bahkan membakar gedung tersebut merupakan pengalihan isu.
Direktur Eksekutif Central Informasi Publik (CIP), Zulfiadi Muis menyebut, kejadian tersebut bisa diindikasikan memiliki tujuan untuk menarik simpati masyarakat.
“Jangan sampai kejadian itu hanya untuk menarik simpati masyarakat kepada oknum yang selama ini mendapat sorotan dari masyarakat terkait Perda LAD (Lembaga Adat Daerah),” kata Zulfiadi Muis, kemarin.
Selain itu, Zulfiadi juga mengindikasikan kejadian tersebut sebagai pengalihan isu. Karena selama dalam beberapa pekan terakhir, pemeriksaan terhadap pembangunan gedung DPRD Gowa dilakukan oleh penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel.
“Pembakaran kantor DPRD menimbulkan banyak pertanyaan. Ada indikasi sebagai tindakan untuk menghilangkan bukti terkait kasus adanya dugaan korupsi pembangunan gedung DPRD Gowa yang saat ini masih dalam pemeriksaan pihak Kejati. Ini bisa diindikasikan penghapusan sesuatu hal yang diduga bisa teridentifikasi adanya korupsi,” terang Zulfiadi Muis.
Meski begitu, ia tidak ingin menuduh atau memojokkan siapapun terkait hal tersebut. Namun tindakan tersebut bisa saja dilakukan oleh pihak ketiga yang ingin memanfaatkan kisruh Perda LAD saat ini.
Sementara Naswari Natsir, seorang saksi mata yang melihat kejadian sebelum massa merangsek masuk ke dalam gedung, menilai kejadian tersebut merupakan hal yang disengaja.
Ia menjelaskan, pada saat massa beraksi, tidak ada aparat keamanan yang berada di lokasi. Bahkan para pelaku beraksi cukup lama sebelum polisi tiba.
”Saat itu polosi hanya berteriak kepada pendemo agar tidak meneruskan masuk dan merusak. Yang sangat disayangkan, karena pelaku hanya sedikit tapi dengan mudah melakukan aksinya. Jumlah mereka lebih kecil dibanding massa yang bentrok di museum Balla Lompoa menjelang pencucian benda pusaka kerajaan, dan ternyata bisa diredam,” terang Naswari Natsir.
Dia juga menduga adanya skenario di balik peristiwa pembakaran itu. Indikasinya, ada kesan pembiaran massa melakukan pengrusakan hingga pembakaran.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera yang dikonfirmasi, kemarin menegaskan, polisi tidak tinggal diam ketika mengetahui adanya aksi massa di gedung DPRD Gowa. Polisi, kata dia, akan bertindak tegas terhadap para pelaku yang terlibat.
Hingga kemarin, belum ada perkembangan berarti dalam pengusutan kasus ini. Tujuh orang yang diamankan sebelumnya masih menjalani pemeriksaan intensif.
Dari pantauan di Mapolres Gowa, kemarin, baru tujuh orang yang didominasi anak di bawah umur fokus diperiksa. Belum ada tambahan pelaku yang ditangkap. Polisi masih terus melakukan pengejaran.
Asriady Arasi, Ketua Komisi IV DPRD Gowa yang ditemui, kemarin mengatakan saat peristiwa pembakaran terjadi, dirinya berada di dalam kantor. Diapun sudah dimintai keterangannya sebagai saksi terkait kronologis kejadian.
“Tidak banyak yang ditanyakan. Intinya ke kronologis kejadian. Itu karena saya dan beberapa anggota dewan ada di dalam saat itu. Massa yang berhasil masuk tidak ada yang saya kenal. Ada yang saya kenal tapi berada di luar kantor. Kalau ada yang saya kenal dan masuk ke dalam, tidak mungkin menyerang saya,” kata Asriady Arasy.
Saat kejadian, Asriady bersama anggota dewan lainnya, yakni Muhammad Fitriady, Robby Harun, Sutihati Dahlan, Nasruddin Dg Sitakka di ruang Komisi II yang berada di lantai satu. Sementara di lantai dua di ruang Komisi I ada Yusuf Harun, Niswah Dg Nginga, Natsir Sega dan di ruang Komisi IV ada Mappaudang Lingka.
Saat pendemo masuk, para anggota DPRD yang ada di lantai satu dilempari batu melalui jeruji besi yang ada di depan ruang aspirasi. “Saya dilempari bambu tapi saya tangkis. Yang saya dengar mereka cari anggota dewan yakni Yusuf Harun, Kasim Sila, Syamsuarni Dg Taco dan ketua DPRD H Ansar Zaenal Bate,” beber legislator Partai Demokrat ini.
Karena diserang membabibuta, Asriady bersama legsilator lainnya berusaha menyelamatkan diri dan mencoba mencari jalan keluar dengan melewati pintu belakang.
Muhammad Fitriady, legislator PKS juga diserang namun berhasil keluar dari kantor menuju mobilnya di parkiran, setelah api mulai menyala di ruang sidang paripurna.
“Saya panik dan berhasil lari keluar dikawal seorang anggota intel. Waktu diluar saya sempat dihadang dan ditanyai, anggota dewan atau bukan. Saya perlihatkan papan namaku lalu mereka bergeser. Sesampai di mobil, ada lagi yang teriakika; periksa itu anggota dewan. Mobil mau dilempari, tapi ada yang halangi sehingga saya bisa membawa mobil keluar kantor,” ungkap Muhammad Fitriady. (sar/rus)



×


Pembakaran Gedung DPRD Pengalihan Isu?

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar