SELAMA ini Kabupaten Sidrap dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Hal heran jika daerah ini ditetapkan menjadi penyanggah pangan nasional. Kontribusinya cukup besar dalam memenuhi target pemenuhan produksi beras di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Laporan: H PURMADY
UNIVERSITAS Hasanuddin (Unhas) Makassar telah menjadikan Sidrap sebagai sasaran untuk program pengabdian. Saat ini, Unhas sudah berusaha melakukan penjajakan berbagai sektor. Terutama pada sektor pertanian.
Rektor Unhas, Prof DR Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA saat berkunjung ke Sidrap beberapa waktu lalu mengaku tertarik mengembangkan program pengabdian masyarakat di Sidrap. Alasannya, Bumi Nene’ Mallomo selama ini dikenal sebagai daerah lumbung padi Sulsel. Juga telah mampu memberikan konstribusi sebesar 20 persen dari target pemenuhan beras sebesar 3 juta ton untuk wilayah Sulsel.
Selain itu, Unhas juga tertarik dengan kessksesan yang dicapai Sidrap sebagai daerah kantong telur. Termasuk daerah pengembangan ternak sapi yang sukses menambah income perkapita masyarakat. Sehingga mampu menjadikan daerah ini sebagai daerah berpenduduk miskin terendah di Sulsel.
Di sektor pertanian, khususnya pertanaman padi, sejak kepemimpinan Rusdi Masse sebagai bupati, produksinya terus meningkat. Data di Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Sidrap, tercatat produksi padi selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Di tahun 2010 misalnya. Produksi padi sebesar 326.063,02 ton. Meningkat menjadi 412.778,56 ton di tahun 2011. Jumlah itu meningkat lagi di tahun 2012 menjadi 457.986,00 ton. Selanjutnya di tahun 2013 produksi padi di Sidrap kembali mengalami peningkatan menjadi 461.617,45 ton. Begitu juga di tahun 2014, peningkatan menjadi 488.882,74 ton.
Sejak dilaksanakannya program percepatan tanam oleh dilakukan Dinas Pertanian, yang didukung Kodim 1420 Sidrap, terjadi peningkatan produksi padi yang cukup signifikan. Yakni mencapai 536.012. Capaian ini menunjukkan peningkatan yang cukup besar dari tahun sebelumnya yang hanya 488.882,74 ton di tahun 2014.
Kesuksesan pengembangan sektor pertanian, khususnya tanaman padi yang menjadi profesi lebih dari setengah masyarakatnya, menjadikan Sidrap saat ini terus mengalami kemajuan. Terutama
pada tingkat kesejahteraan masyarakat.
Terbukti, angka kemiskinan Sidrap saat ini terendah di Sulawesi Selatan. Bahkan terendah kedua di Pulau Sulawesi. Sidrap menempati rangking pertama angka kemiskinan terendah dari 23 kabupaten/kota di Sulsel sejak tahun 2014 sampai sekarang.
Majunya sektor pertanian ini juga mengangkat pertumbuhan ekonomi masyarakat Sidrap melampaui pertumbuhan ekonomi Sulsel. Pendapatan perkapita masyarakat saat ini sudah melebihi Rp32 juta.
Pertumbuhan perekonomian Sidrap juga terus menggeliat hingga sebesar 8,1 persen pada tahun 2015 lalu. Angka ini melampaui target provinsi dan basional hingga tahun 2016, yakni 8,02 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami peningkatan ini sejalan dengan peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) Sidrap. Tahun 2015 IPM mengalami peningkatan 1,47 dari tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran turun dari 7,62 persen menjadi 6,20 persen.
Tak hanya itu, di bawah kepemimpinan H Rusdi Masse pula, beragam penghargaan telah diraih. Bukan hanya pertanian, tapi juga dari sektor lainnya.
Seperti Anugerah Parahita Ekapraya (APE) tiap tahunnya dari berbagai kriteria. Tahun lalu sudah berhasil meraih APE kategori tertinggi.
Penghargaan yang diterima RMS sejak menahkodai Sidrap selama dua periode sudah mencapai angka dua ratusan.
“Saat ini kita fokus bagaimana menghapus angka kemiskinan di Sidrap. Artinya, kita berupaya bagaimana masyarakat Sidrap semakin sejahtera,” tandas Bupati Sidrap, H Rusdi Masse yang saat ini ketua DPW Partai NasDem Sulsel. (*/rus)

