pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berijazah Paket A, Jalan Kaki Jual Beras saat SD

JANGAN pernah takut untuk memulai, meski banyak yang mencaci, menganggap enteng dan menertawakan. Yakini saja, keberhasilan akan tiba suatu waktu kelak.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SOSOK ramah dan murah senyum menjadi ciri khas pria bernama lengkap Harianto Albar ini. Keseriusan dalam memberi solusi bagi permasalahan desanya, membuat Harianto kini bak pahlawan bagi masyarakat Kampung Ampiri, Desa Bacu-Bacu, Kabupaten Barru. Awalnya ditertawakan, kini masyarakat disana memandangnya sebagai seorang pemecah masalah.
Listrik, menjadi salah satu masalah besar di kampung ini. Selama bertahun-tahun, masyarakat Kampung Ampiri tidak pernah merasakan manfaat dari adanya listrik. Itu semua dirasakan sebelum Harianto datang memperkenalkan karya buatannya pada 2008 silam.
Apa yang dilakukan Harianto? Membiayai seluruh keperluan PLN supaya listrik bisa masuk dan dirasakan semua warga? Atau membangun sendiri gardu listrik di kampung tersebut? Bukan. Harianto saat itu bukan orang dari kalangan berada.
Layaknya Thomas Alfa Edison yang selalu ditertawai saat merancang bola lampu, Harianto juga memiliki nasib yang sama. Pemikiran masyarakat kampung yang sedikit kolot membuat Harianto kerap ditertawai. Bahkan dinilai mustahil saat ia akan menciptakan sendiri Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di kampungnya.
Wajar saja warga kampung mentertawainya, mengingat ijazah SD Harianto adalah hasil dari ujian kesetaraan Paket A.
Harianto kecil bukanlah anak yang dilahirkan dari keluarga berkecukupan. Kedua orang tuanya hanyalah seorang petani. Sejak usia 10 tahun, ia memang sudah dituntut untuk bekerja keras membantu keluarga.
Saat SD, Harianto kerap berjalan kaki setiap harinya untuk menjual beras, mulai subuh hari sebelum berangkat ke sekolah. Bukanlah jalur yang dekat untuk ditempuh. Kurang lebih 20 kilometer harus ia tempuh untuk menjualnya di sebuah pasar yang berada di kampungnya.
Setelah beras terjual, ia akan kembali berjalan kaki ke rumahnya. Biasanya ia pulang dengan membawa ikan kering yang ia beli dari hasil jualan beras. “Selesai subuh saya jualan beras. Kalau sudah jualan biasanya bawama ikan kering,” kata Harianto.
Saat beranjak SMP, Harianto tidak tinggal lagi di rumah orang tuanya. Ia harus menumpang tinggal bersama orang lain, karena jarak sekolahnya yang cukup jauh saat itu.
Hidup mandiri memang sudah menjadi tuntutannya. Setiap subuh hari, ia telah harus berjalan kaki mengambil air dengan menggunakan ember. Hal itu dilakukannya sebelum berangkat ke sekolah.
Sore hari sepulang sekolah, Harianto ke sawah untuk beternak sapi milik si empu rumah yang ditempatinya. Sekaligus mengumpulkan rumput di sore itu pula. Kegiatan ini dilakukan Harianto setiap harinya hingga maghrib menjelang.
Sampai pada akhirnya ia bisa menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat SMA. Bahkan melanjutkannya ke perguruan tinggi. Harianto kemudian kuliah di Jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar (UNM). Jurusan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan alat yang telah ia ciptakan.
Lantas darimana Harianto bisa mempelajari itu semua? Harianto mengatakan jika ia mempelajari semua itu dari berbagai literatur yang ia dapat.
“Saya pelajari di internet, buku-buku, dan beberapa artikel tentang mikro hydro. Semuanya untuk pengembangan kampungku,” jelas Harianto.
Walaupun dianggap tidak mungkin oleh warga kampungnya, namun Harianto tetap optimis. Ia menganggap jika semua yang telah ia pelajari tidak akan sia-sia. Alhasil, dengan kepercayaan tinggi dan tentunya dengan dana yang terbatas, Harianto berhasil menciptakan PLTMH rancangannya sendiri. “Saat itu masih sederhana. Kincirnya saja dibuat pakai bambu,” ungkap Harianto.
PLTMH sendiri adalah pembangkit listrik berskala kecil yang memanfaatkan potensi aliran air yang terdapat di pedesaan sebagai sumber tenaga. Umumnya alat pembangki listrik ini menggunakan kincir dan generator untuk menghasilkan listrik. Harianto sendiri saat itu memanfaatkan aliran air sungai di Kampung Ampiri sebagai sumber tenaganya, dengan menggunakan generator kecil dan kincir dari bambu.
Usaha yang dilakukan pria 28 tahun ini ternyata tidak sia-sia. Dengan alat buatannya, ia berhasil menerangi kampungnya dan semua wargapun berdecak kagum kepadanya.
Karya yang mulai ia publikasikan sejak 2012 ini ia namai Mandiri Pro Nusantara-Indonesia (MPN-Indonesia). Saat ini pembangkit listriknya telah ada di 30 tempat berbeda, yang meliputi beberapa daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Dari hasil karyanya tersebut, Harianto juga berhasil mendapatkan beberapa penghargaan. (*/rus)



×


Berijazah Paket A, Jalan Kaki Jual Beras saat SD

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar