pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mampu Kuliahkan Anak dengan Biaya Sendiri

HIDUP butuh perjuangan. Sekeras apapun itu, harus dilalui. Satu kuncinya, selalu bersyukur dengan apa yang didapatkan.

Laporan: Ardhita Anggraeni

NAMANYA Ismail. Bagi sebagian mahasiswa di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, nama itu tak asing lagi. Ia kerap menjadi tempat curhat mahasiswa yang tengah menghadapi masalah.
Padahal, lelaki yang karib disapa Pak Mail ini bukanlah petinggi di kampus merah. Bahkan hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia kini tercatat sebagai penjaga kampus Unhas sekaligus pengadministrasian umum.
Ada satu kata yang selalu ditekankan kepada mahasiswa ketika mereka berinteraksi. Yaitu bersyukur. Yakini bahwa setiap kerja keras pasti membuahkan hasil yang positif.
Pak Mail mengakui betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan di sebuah kota seperti Makassar. Karenanya, ia begitu bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan seperti dilakoninya saat ini.
”Banyak mahasiswa yang biasa curhat tentang dosen, tugas-tugas hingga masalah keluarga. Saya selalu beri saran ke mereka untuk pintar-pintar bersyukur saja. Bersyukur karena masih bisa kuliah. Apalagi di Unhas,” tuturnya di sela-sela kesibukannya, Selasa (28/2).
Pak Mail kini berusia 44 tahun. Ia memiliki lima orang anak. Dari hasil pengabdiannya di kampus, dia mampu mengantarkan anaknya kuliah strata satu (S1) dengan biaya sendiri.
“Anak saya yang pertama sekarang kuliah di Unhas jurusan Ilmu Pemerintahan semester IV. Dia masuk lewat jalur JNS,” ujarnya.
Ismail bersyukur, sejak tahun 1996 diberikan kepercayaan sebagai tukang bersih-bersih di kampus Unhas. Saat itu Unhas masih memiliki kampus D3 di Bara-baraya.
Di tahun 2005, ia kemudian ditarik di Fakultas Sospol menjadi petugas kebersihan, sekaligus penjaga kampus. Hingga akhirnya tahun 2011 menjadi staf pengadministrasian umum di Program Pascasarjana (PPs) Unhas. Jika ditilik, pengabdiaanya sudah berlangsung selama 21 tahun.
Dari gajinya sebesar Rp3,2 juta per bulan, Pak Mail harus pintar-pintar menyisihkan sebagian untuk biaya kuliah dan pendidikan anak-anaknya.
Sebelum menjadi karyawan di kampus Unhas, Ismail hanyalah seorang tukang sapu dan pembuat teh yang biasa bergelut di jalanan. Dengan pekerjaannya saat ini, setiap hari ia bertugas membuka dan menutup ruangan ketika karyawan selesai bekerja. Juga menyiram tanaman. Sesekali Ismail membantu tugas BAAK untuk melayani foto copy.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kampus memberikan kepercayaan seperti ini. Istri saya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Sebagai kepala rumah tangga, saya ingin anak-anak merasakan yang namanya bangku kuliah, walaupun saya harus banting tulang,” ujarnya.
Karena rutinitas kesehariannya bergelut di kampus, ada sesuatu yang terasa lain ketika Ismail berada di luar. Termasuk ketika di rumah.
”Kalau di rumah, saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya memikirkan kampus. Mahasiswa adalah keluarga saya. Sepertinya saya lebih nyaman kalau di kampus,” tandasnya. (*/rus)



×


Mampu Kuliahkan Anak dengan Biaya Sendiri

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar