ADA banyak momen yang dirindukan kala ramadan tiba. Khususnya ketika santap sahur dan buka puasa bersama. Itu pulalah yang diimpikan DR HM Taufan Pawe.
Laporan: Samiruddin
ADA yang berbeda dalam keluarga Taufan Pawe sebelum dan setelah menjabat sebagai wali kota Parepare. Ia jarang berkumpul dengan ketiga anaknya, baik untuk sahur maupun berbuka.
Maklum saja, menjadi orang nomor satu di kota kelahiran BJ Habibie, Taufan disibukkan dengan berbagai aktivitas keseharian. Di hari-hari biasa saja begitu banyak rutinitas yang mesti dilakoninya. Apalagi di bulan ramadan. Ia harus meluangkan waktu memenuhi undangan dari warga. Mulai dari buka puasa bersama, salat tarawih hingga kegiatan amaliah ramadan lainnya.
Pada saat bersamaan, tiga orang buah hatinya memiliki aktivitas berbeda. Yang pertama, seorang perempuan kini telah menjadi seorang dokter. Anak kedua yang juga perempuan, sementara kuliah di Fakultas Hukum Unhas. Sementara si bungsu, seorang laki-laki masih duduk di bangku SMA.
Meski begitu, ada satu yang tak berubah dalam keseharian Taufan Pawe. Konsep kesederhanaan selalu dipegang teguh, baik sebelum maupun setelah menjadi wali kota. Hal itu pula yang diterapkannya dalam menjalankan ibadah puasa.
Ramadan ini merupakan tahun keempat kepemimpinan di Parepare. Selama empat tahun menunaikan ibadah puasa dengan status sebagai wali kota, tidak ada perbedaan berarti. Semuanya tetap dalam batas wajar.
”Yang sedikit berbeda, dulu sebelum jadi wali kota, bisa berkumpul secara utuh dengan istri dan anak-anak menjalankan ibadah puasa. Sekarang, jadinya jarang berkumpul bersama. Bahkan biasa hanya berdua dengan istri makan sahur dan buka puasa. Menjabat wali kota selaku pelayan dan milik masyarakat, kita harus lebih banyak turun ke lapangan. Termasuk untuk buka puasa bersama,” terangnya.
Di bulan penuh berkah ini, kebersamaan dengan istri tercinta, Ny Hj Erna Rasyid Taufan semakin dipupuk. Taufan yang sebelumnya penyuka makanan khas Bugis, jadi tergoda untuk menikmati menu soto banjar yang dibuat sendiri oleh sang istri.
”Sebenarnya saya sukanya makanan khas Bugis. Kalau soto banjar, saya mau makan kalau istri yang buat. Bukan yang dijual di luar,” tuturnya.
Hanya saja, soto banjar buatan Ny Erna Taufan baru bisa dinikmati dalam momen-momen tertentu. Seperti dalam buka bersama yang dilaksanakan baru-baru ini. Itu karena kesibukan sang istri yang aktif melalui kegiatan-kegiataan keagamaan.
”Lidah saya tidak manja. Tetap seperti rakyat biasa. Apa yang disiapkan di dapur, itulah yang saya makan. Saya tidak mau membebani orang lain,” ujarnya. (*/rus)

