BANYAK cara pejabat untuk memaknai maupun menjalani bulan suci ramadan. Mulai dari aktivitas kantoran, hingga kebiasaan unik yang jarang dilakukan sehari-hari dalam keluarganya. Hal itu semata-mata sebagai upaya meningkatkan kualitas ibadah selama berpuasa.
Laporan: Saribulan
SELAMA bulan ramadan, ada kebiasaan unik dan baru dilakukan Dr Salam,MPd. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa ini mengaku kegiatannya di saat puasa justru lebih banyak. Bukan hanya rutinitas kantorannya setiap hari. Tapi juga kegiatan tambahan setiap jelang berbuka puasa maupun di saat sahur.
Dalam berpuasa, Salam merupakan sosok yang tidak banyak maunya. Baginya, apa saja yang disiapkan istri, itulah yang dimakannya. Selain sebagai bentuk kesyukurannya kepada Sang Pencipta, juga merupakan kewajibannya menghargai jerih payah sang istri yang selalu berusaha menyiapkan yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya di saat berbuka maupun sahur.
“Saya itu tidak banyak maunya. Tapi saya selalu menghindari makan makanan berbuka yang sudah dalam kemasan yang dijual, baik di supermarket maupun di pinggir jalan. Saya lebih suka kalau diolah sendiri di rumah. Beli bahannya saja kemudian dibuat sendiri oleh istri. Lebih terjamin higienis dan sehatnya,” kata pejabat yang berkarier di dunia akademik sebelum menjabat kepala dinas di lingkup Pemkab Gowa ini.
Di kantornya, di saat tidak lowong dari kunjungan tamu, Salam mengisinya dengan tadarusan Alquran. Saat ditemui BKM di ruang kerjanya, Senin (5/6) siang, Salam tampak khusyuk bertadarus.
“Alhamdulillah, habis ramadan ini tadarusan saya juga bisa khatam 30 juz,” katanya sambil tersenyum.
Ditanya apa harapannya dalam menjalani ibadah puasa ini, menurut dia hanya satu, yakni lebih dekat kepada Allah SWT. Baginya adalah bagaimana ibadah yang dilaksanakan menghasilkan pahala yang lebih dari hari-hari biasanya.
Selama ramadan ini, ada aktivitas unik yang dilakoni Salam. Untuk persiapan sahur, ia rela ronda hingga tengah malam sekalipun sekadar menunggu munculnya penjual sate ayam. ”Saya lagi suka makan sate ayam. Jadi setiap sahuran sate ayam selalu ada. Terpaksa marondaka menunggui penjual sate lewat depan rumah. Asyik juga,” ucapnya tersenyum.
Lagi lagi jika ketika sore menjelang berbuka. Pejabat yang masih aktif mengajar di UNM hingga saat ini, seusai salat ashar sepulang dari kantor, mobil dinas DD 64 B disimpan di garasi rumahnya Jalan Andi Tonro, Kecamatan Somba Opu.
Selanjutnya, mengambil sepeda motor lalu berkeliling jalan-jalan. Yang dicarinya, buah nangka matang yang segar, pepaya serta buah rabbis. Buah ini biasanya dibeli untuk persiapan selama tiga hari. Jika habis, Salam kembali menyusuri jalanan mengendarai sepeda motor. Ia menyebutnya ngabuburit.
”Saya tidak mau beli buah campur yang sudah dikemas dan dijual di pinggir jalan. Bukannya tidak yakin. Tapi lebih afdal rasanya diolah oleh istri. Rasanya lebih segar dan nikmat. Kadang saya mencari buah-buah ini sampai di Petta Rani (Makassar). Padahal kata orang banyakji juga dijual di wilayah Sungguminasa dan sekitarnya. Cuma saya kurang yakin, ada tidak saat saya menuju ke sana…he…he.he…,” kata ayah empat putri, buah pernikahannya dengan Dra Hj Nurhayati Salam, guru SMP 1 Kabupaten Takalar.
Sama-sama sibuk, Salam menyebut keluarga kecilnya saling menjunjung tinggi menghargai satu sama lain. Saat ini, ramadan dinilainya sedikit kurang lantaran putri sulungnya menetap di Kuala Lumpur, dan bekerja di negeri Jiran tersebut.
Sementara putri keduanya tengah aktif menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi UMI Makassar. Demikian pula putri ketiganya, juga fokus kuliah program Bahasa Inggris di UNM Makassar. Sementara putri bungsunya baru masuk ke SMA Unggulan di Kota Malino, Gowa. (*/rus)

