DIBALIK pekerjaannya yang hanya sebagai juru parkir (jukir), siapa sangka jika Dg Lolo adalah salah satu orang yang sangat berjasa bagi negeri ini. Dia adalah seorang veteran. Rakyat yang berjuang merebut kemerdekaan bangsa dari penjajah.
Laporan: NUGROHO
Siapa sangka jika ia adalah salah satu saksi sejarah bangsa ini. Namun, saat ini apa lah arti dari perjuanganya. Seakan jasanya disanjung hanya sampai pada saat Indonesia mendapatkan pengakuan dunia. Setelah itu, seakan tak ada penghargaan baginya.
Tempat tinggalnya pun tidak menetap Dg Lolo kerap berpindah-pindah tempat tinggal karena dulunya ia tidak punya rumah tetap.
Pernah suatu hari Dg Lolo tinggal bersama keluarganya di sekitar Jalan Cendrawasih yang sekarang menjadi Stadion Andi Matalatta. Ia pun harus merelakan rumahnya digusur saat itu karena area tersebut akan menjadi kawasan stadion. Untung saja pemerintah saat itu mau membayar ganti rugi sehingga Dg Lolo harus mencari rumah baru lagi.
Sebelum menjadi jukir, Dg. Lolo berprofesi sebagai tukang becak. Profesi tersebut sudah ia lakukan sejak tahun 1957 silam. Ia baru beralih profesi sebagai jukir sejak lima tahun lalu karena sudah tak sanggup lagi mengayuh becak.
Selama kurang lebih 55 tahun ia menjadi tukang becak. Sejak masih muda, Dg Lolo telah hidup dalam kesederhanaan. Hal itu ia jalani dengan ikhlas demi menghidupi keluarganya.
Ia baru beralih menjadi jukir setelah merasa tak sanggup lagi menarik becaknya. Wajar saja, usianya sekarang sudah tergolong renta. Seharusnya ia pun tak perlu lagi bekerja. Namun karena desakan ekonomi keluarganya, ia masih harus tetap mencari nafkah.
Pertama kali Dg Lolo menjadi jukir, saat itu ia ditawari oleh pemilik toko Era Photo yang saat ini menjadi area kerjanya. Dg Lolo menceritakan jika saat itu pemilik Era Photo merasa iba kepadanya yang masih bekerja sebagai tukang becak padahal usianya sudah sangat tua. “Dia kasihan sama saya, makanya dipanggil k jadi tukang parkir depan tokonya supaya ringan-ringan bede kerjaanku,” kenang Dg Lolo.
Hasilnyapun tiap hari Dg Lolo tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk bekerja. Hanya duduk sambil menjaga kendaraan, ia bisa mendapat keuntungan. “Walaupun tiap hari biasa hanya 30 sampai 40 ribu ku dapat, tapi Alhamdulillah ndk capek-capek ma kayak dulu,” kata Dg Lolo.
Selama ini Dg Lolo mengatakan jika terkadang mendapat bantuan dari pemerintah. Namun itu tidak rutin sehingga Dg Lolo tidak berharap banyak dari bantuan yang diberikan. “Kalau dikasih ya Alhamdulillah, Kalau tidak ya ndak apa-apa,” kata Dg Lolo sambil sedikit tersenyum.
Ia juga menambahkan, terakhir dirinya mendapat bantuan adalah lima bulan lalu. Sampai sekarang ia belum pernah mendapatkannya lagi.
Dg Lolo juga sedikit bercerita tentang perayaannya saat lebaran tiba. Terkadang ia ingin sekali pulang ke kampung halamannya di Jeneponto untuk bertemu sanak saudara. Namun biaya pulang-pergi Jeneponto Makassar yang mencapai Rp 60 ribu per-orang sangat berat baginya. Alhasil, jika ia mendapatkan rezeki lebih sebelum lebaran tiba, maka ia akan pulang kampung. Namun jika tidak, terpaksa ia berlebaran di Makassar.
Selama menjadi jukir, Dg Lolo mengatakan jika ia tak pernah mendapatkan masalah sedikitpun dengan orang lain. Hal tersebut karena Dg Lolo mengaku jika ia sering menjaga ucapannya. Baginya, muutnya adalah sebuah modal untuk dirinya. “Kalau mulut salah, maka salahlah kita,” tutup Dg Lolo.(nug/war/b)

