SEBUAH doa bisa menjadi kekuatan besar. Apalagi doa dari orang tua. Namun, itu perlu dibarengi dengan ikhtiar serta kerja keras.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DENGAN doa, apapun mimpi dan cita-cita anda bisa terwujud.
Doa bukanlah sebuah pengharapan, namun lebih kepada mempercayai kekuatan besar Tuhan untuk membantu mewujudkan yang kita mau. Doa yang baik dari orangtualah, yang mampu memuluskan tujuan kita menjadi berprestasi. Rahma benar-benar mempercayai dan mengaplikasikan hal itu.
Semua yang ia lakukan dan semua yang ia capai ternyata tak lepas dari doa orang tua. Saat ingin memulai sesuatu dan setelah melakukannya, dia tak lupa meminta doa kepada orang tuanya. Ia percaya betul, bahwa doa orang tuanyalah yang bisa mengatasi kesulitannya.
Sebenarnya, orang tua Rahma sempat menolak sang buah hati untuk mengikuti berbagai event. Alasannya, ia tak boleh melakukan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan kuliah. Rahman diminta fokus kuliah untuk mendapatkan nilai dan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang baik. Harapan orang tua Rahma yang bermukim di Kabupaten Bone itu wajar adanya.
Rahma dibesarkan di Bone. Ia bersekolah di SD Inpres 377 Masago, SMPN 2 Salomekko, dan SMAN 1 Kahu. Barulah saat kuliah, ia berada di Makassar, tepatnya kuliah di UNM.
Masa sekolahnya cukup unik. Orang tuanya benar-benar memfilter setiap kegiatannya. Mulai dari tidak boleh jajan makanan yang mengandung MSG. Harus tidur siang. Jam 4 sore harus belajar. Waktu nonton televisi dibatasi. Siaran televisi yang ditonton telah ditentukan. Sampai menontonpun harus ditemani orang tua.
“Saat sekolah, orang tua saya benar-benar memperhatikan saya. Mereka menjadi orang yang membentuk diri saya,” kata Rahma.
Saat pertama kali ia lolos event nasional, orang tuanya sempat melarang. Namun saat itu ia tetap nekat mengikuti dan berjanji akan membuktikannya ke orang tua.
“Saat itu karena kemauan, saya nekat. Terus sempat dimarahi orang tua, katanya ini anak perempuan tidak mau sekali dengar orang tua,” kenang Rahma sambil tersenyum.
Sampai pada akhirnya setelah event tersebut selesai, ia menceritakan semuanya kepada orangtuanya. Ia menceritakan betapa bermanfaatnya mengikuti event-event tersebut. Hingga akhirnya orang tuanya pun luluh. Bahkan saat ini mereka selalu mendukung jika Rahma mengikuti sebuah event.
Mulai saat itu pula, orang tuanya terus mendukung dan selalu mendoakannya yang terbaik. Hingga suatu hari saat ia mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi UNM. Kekuatan doa itu terbukti.
Ketika seleksi di tingkat fakultas saja, Rahma sempat minder. Bagaimana tidak, dari semua saingannya, IPK Rahma yang paling rendah.
Namun ternyata dia memiiki kelebihan lain. Prestasinya selama ini dianggap lebih gemilang dari yang lainnya. Terlebih ia pernah berprestasi di tingkat internasional. Selain dari itu, kualitas karya tulis yang ia paparkan saat itu dianggap cukup baik. Walaupun dengan persiapan yang pendek.
Sampai di tingkat universitas, ia lagi-lagi minder karena melihat saingannya yang ia anggap memiliki kemampuan lebih baik dibanding dirinya. Namun sebelum berangkat melakukan seleksi, terlebih dahulu ia menghubungi orang tuanya.
Sebelum presentasi di depan juri, ia kembali meminta untuk didoakan. Sesaat setelah usai seleksi, lagi-lagi ia menghubungi orang tuanya meminta doa.
“Pokoknya saya hubungi terus orang tua. Saya minta didoakan. Dan mereka benar-benar mendukung dan selalu mendoakan saya,” ujarnya dengan nada haru.
Akhirnya, ia pun dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi UNM tahun 2017. Selanjutnya akan mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi tingkat nasional.
Kala itu Rahma menangis terharu. Tak lupa sujud syukur. Ia sempat tak percaya dengan apa yang diraihnya. Dia meyakini bahwa semua ini tak lepas dari doa orang tua dan orang-orang terdekatnya.
Dengan pencapaiannya saat ini, bolehlah jika Rahma kemudian berbagi tips kepada orang-orang yang ingin berprestasi. Kata dia, setiap orang jangan cepat menyerah, karena kegagalan adalah hal yang wajar. Jangan dijadikan sebagai keluhan. Namun justru harus dijadikan tangga menuju kesuksesan.
“Yang saya yakini, semakin banyak kegagalan, maka akan semakin dekat dengan kesuksesan,” kuncinya. (*/rus/b)

