ADA banyak cara yang dilakukan untuk memakmurkan masjid. Apa yang dilakukan pengurus Masjid Ash-Sholihien di Jalan Mappaoddang ini patut dicontoh. Seperti apa?
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
WAKTU untuk menunaikan salat Jumat pada 21 Juli lalu belumlah terlalu kasip. Masih ada kira-kira satu jam lamanya.
Namun, suasana parkiran Masjid Ash-Sholihien sudah mulai ramai. Kendaraan milik para jamaah telah terparkir rapi. Pemiliknya sudah masuk ke dalam masjid dan bersiap-siap melaksanakan salat.
Ukuran masjid ini sebenarnya tidaklah terlalu besar. Namun dibangun berlantai tiga. Lantai dua dan tiga dijadikan sebagai ruang utama untuk salat. Sementara di lantai satu, juga ada tempat salat serta berwudhu. Namun lebih banyak difungsikan untuk menjamu para jamaah.
Ya, ada sebuah tradisi yang rutin dilakukan pengurus masjid di sini. Mereka menyediakan minuman seperti teh, kopi dan aneka kue-kue. Kudapan ringan tersebut biasanya dinikmati usai para jamaah menunaikan salat Jumat berjamaah.
Saat memasuki masjid, BKM melihat ada dua buah termos berukuran besar di sebuah meja utama. Di sekelilingnya terdapat banyak cangkir. Masing-masing termos telah diisi kopi dan teh.
Namun, kedua jenis minimun hangat itu baru bisa dinikmati usai salat Jumat. Biasanya, para jamaah berkumpul sambil bercengkarama ketika menyantapnya. Suasana yang begitu hangat begitu terasa.
Ketua Pengurus Masjid Ash-Sholihien Muhammad Ilham Tajjuddin, mengatakan kebiasaan menjamu jamaah ini bermula sebelum ramadan lalu. Kala itu, perjamuan seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengurus masjid. Namun seusai bulan puasa, para pengurus kemudian berinisiatif untuk mengajak serta masyarakat menikmati hidangan bersama.
Efeknya ternyata sangat baik. Untuk saat ini saja, Ilham mengaku telah ada sebanyak 17 remaja yang selalu datang ke masjid dan memohon langsung untuk diajari tentang baca tulis Alquran. “Alhamdulillah, hanya dengan kopi yang kami sajikan, kemarin ada 17 remaja yang minta langsung diajar mengaji. Kamipun langsung memfasilitasi mereka dengan menyediakannya tenaga pengajar,” kata Ilham.
Ia berhadap, apa yang mereka lakukan ini berdampak pada aktivitas salat berjamaah di masjid. “Kita mau masjid ini seperti bunga. Bunga itu kan kalau harum akan didatangi oleh lebah-lebah. Nah, kita disini menyajikan kopi untuk para jamaah yang menunaikan salat Jumat,” terang Ilham.
Untuk menyediakan kue dan minuman hangat, pengurus mendapatkan dana dari kas pengurus. Namun, kata Ilham, tidak tertutup kemungkinan jika ada masyarakat yang ingin berpartisipasi memperadakan makanan ringan lainnya, pihaknya terbuka untuk menerimanya. (*/rus/b)

