SEMUA agama pasti mengajarkan hal yang baik. Namun dewasa ini, menjadi pertanyaan besar mengapa masih banyak orang yang tidak mengamalkan ajaran agama. Apakah karena mereka menyepelekan ajaran tersebut? Atau mungkin karena menganggap kalau pembelajaran agama terkesan begitu monoton sehingga membuat bosan?
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SAAT ini, sebagian anak-anak terasa sulit untuk didekatkan dengan ajaran agama jika menggunakan metode pendekatan yang sama dari sebelumnya. Karena itu, mungkin sebagian orang bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh pengurus Masjid Ash-Sholihien.
Mereka mengajak masyarakat dan anak-anak untuk dekat masjid dengan cara yang sangat sederhana. Yaitu dengan menyediakan berbagai makanan dan minuman untuk dinikmati selepas salat Jumat.
Ketua Pengurus Masjid Ash-Sholihien, Muhammad Ilham Tajjuddin mengatakan tradisi rutin ini terinspirasi dari kisah pemikiran Nabi Ibrahim. Dikisahkan, Nabi Ibrahim kala itu senantiasa memberi makan kepada setiap orang, baik yang dikenalnya maupun tidak.
Inspirasi kedua tentunya dari Nabi Muhammad SAW. Ilham mengatakan jika Masjid Madinah yang kerap ditempati Nabi Muhammad bukan hanya dijadikan tempat mencari amal rohaniyah, namun juga batiniyah. Itulah mengapa sampai saat ini pengurus Masjid Ash-Sholihien kerap menyediakan kopi, teh, dan berbagai makanan ringan untuk para jamaahnya, khususnya di hari Jumat.
Upaya yang dilakukan oleh para pengurus masjid tampak berhasil. BKM melihat jelas bagaimana para anak-anak dan remaja yang senantiasa menyediakan makanan dan minuman tersebut. Memang dikatakan oleh Ilham bahwa pihaknya benar-benar merangkul anak-anak dan remaja di sekitar lingkungan masjid tersebut.
“Ini dulu anak-anak semua tidak terarah pergaulannya. Tapi setelah kita mulai membuka ruang dengan hal seperti ini, lihat sendirimaki. Mereka semua yang bantu di sini,” jelas Ilham.
Mulai dari menggelar karpet, menyediakan meja dan menata makanan, anak-anak inilah yang mengaturnya. Sampai pada acara makan dan minum bersama usai, anak-anak ini pulalah yang membereskan semuanya. Termasuk mencuci gelas dan piring kotor yang telah dipakai. Para penguruspun terlihat amat ramah memperlakukan mereka. Benar-benar suasana yang sangat hangat.
“Kita mengajarkan mereka semuanya. Bukan cuma menyiapkan ini semua. Tapi rutin kita bimbing mereka kepada ajaran agama. Hasilnya, lihatlah mereka tampak ceria,” tambah Ilham.
Bukan hanya anak-anak dan para remaja saja yang mendapatkan efek positifnya. Namun sejumlah jamaah masjid terlihat sangat mengapresiasi kegiatan semacam ini.
Salah satu jamaah, Taufik mengatakan senang melihat suasana seperti ini. Ia yang tinggal di Jalan Ratulangi ini sengaja melaksanakan salat Jumat di masjid ini tiap Jumat, karena adanya suasana silaturahmi yang terjalin diantara para jamaah.
Memet, jamaah lainnya pun merasa senang. Memet yang tinggal di Benteng Somba Opu mengaku sudah dua kali salat Jumat di masjid ini. Ia mengatakan, tidak ada masjid lain dengan suasana menyenangkan seperti ini.
“Baru kali ini saya lihat masjid yang seperti ini. Bagus sekali suasana silaturahminya,” ujar Memet.
Memet menambahkan, dengan adanya tradisi seperti ini, akan menimbulkan efek positif yang sangat besar. “Kalau ada masalah, bisa kita rembukkan melalui kegiatan macam ini. Suasana seperti ini bisa memecahkan masalah,” jelas Memet.
Selain jamaah, para orang tua dari anak-anak dan remaja yang kini aktif di masjid merasa senang. Ilham mengatakan lagi, selama ini para orang tua dari anak-anak ini bersyukur karena anaknya bisa aktif di masjid dari pada harus nongkrong di tempat yang tidak jelas.
Terakhir, Ilham mengatakan jika tujuannya memang adalah agar masyarakat supaya dekat dengan masjid. Olehnya, ia berharap kepada orang-orang yang hendak mendekatkan dirinya kepada lingkungan masjid, harusnya terus didukung.
Ia pun berharap, apa yang dilakukan pengurus Masjid Ash-Sholihien ini bisa menjadi motivasi juga buat yang lainnya demi tujuan agama. (*/rus/b)

