MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas Perhubungan telah membangun cukup banyak halte bus rapid transit (BRT). Sejak tahun 2013 hingga 2016, total halte BRT yang sudah terbangun berjumlah 110 halte untuk melayani beberapa rute yang saat ini telah dan belum beroperasi.
Namun, banyak dari halte yang telah selesai dibangun itu belum difungsikan. Kalaupun sudah dimanfaatkan, sebagian diantaranya tak berfungsi maksimal. Bahkan dijadikan sebagai tempat tidur.
Seperti yang terlihat di halte BRT Jalan Urip Sumoharjo depan kampus Universitas Bosowa (Unibos), Makassar, Senin (14/8). Seseorang dengan mengenakan sarung tampak asyik tertidur di dalam halte. Tak jauh darinya terlihat menggantung sepasang sepatu serta tas warna hitam.
Lain lagi kondisi halte depan kantor gubernur Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo. Sarana penunjang di dalamnya telah rusak dan dibiarkan terhambur berantakan.
Yang lebih memiriskan lagi halte BRT di wilayah Kabupaten Gowa. Telah hampir setahun selesai dibangun, yakni sejak 2016, namun halte tersebut belum juga digunakan.
Akhirnya, halte-halte ini hanya menjadi tempat nongkrong para pengguna jalan, khususnya pengayuh becak maupun pabentor. Seperti halte busway yang terletak tepat depan SMAN 1 Sungguminasa, Jalan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa. Setiap hari, halte tersebut dijadikan tempat kumpul pabentor yang menantikan bubarnya jam sekolah.
Kondisi yang hampir sama terjadi di halte busway yang terletak di batas kota Jalan Sultan Hasanuddin, poros Panciro, Bajeng dan Bontonompo.
“Kita tidak tahu mau difungsikan apa halte ini. Sepertinya dibangunji saja, tapi buswaynya tidak pernah ada yang mampir,” cetus Dg Rani, salah seorang pabentor di depan SMAN 1 Sungguminasa.
Belum lagi difungsikan, empat halte di Gowa disebut-sebut akan dibongkar untuk dipindahkan lantaran terkena pelebaran jalan. Dinas Perhubungan Sulsel mengaku telah menyerahkan pemindahan halte bus tersebut ke Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN). Alasannya, Dishub belum memiliki anggaran pemindahan pada tahun 2017 ini.
Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Ilyas Iskandar yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya, mengaku telah bersurat ke BBPJN untuk pemindahan halte. “Pihak balai sudah janji untuk pindahkan. Mereka minta surat terkait itu, dan kami sudah surati. Karena mereka yang punya anggaran,” kata Ilyas, kemarin.
Ilyas menambahkan, pihaknya belum memiliki anggaran tahun ini. “Saya bilang, kalau mau menunggu kami masukkan anggaran 2018. Tapi mereka tidak bisa menunggu. Jadi mereka minta kami bersurat, jadi saya bersurat,” jelasnya.
Terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) III Metro Makassar, Malik yang dihubungi mengaku pihaknya tidak bisa menunggu hingga tahun depan. Pasalnya, batas waktu pengerjaan pelebaran poros Gowa-Takalar tinggal empat bulan lagi hingga Oktober mendatang.
“Kalau soal pemindahan tidak masalah. Cuma kami belum lihat juga berapa anggaran pemindahannya,” ujarnya.
Untuk proyek pelebaran jalan poros Gowa-Takalar memang terdapat empat halte busway yang terpaksa harus dipindahkan karena menghambat pekerjaan. Khususnya yang terdapat di wilayah Bontonompo, Kabupaten Gowa.
Ditambahkan Kadishub Sulsel, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap keberadaan halte busway yang telah dibangun. Dari hasil evaluasi itulah nantinya bisa diketahui halte mana saja yang kondisinya masih baik dan telah rusak. Setelah itu, pihaknya akan menghitung kebutuhan dananya untuk kemudian diusulkan pada penganggaran tahun depan.
“Kami sudah melakukan inventarisasi halte BRT. Setelah itu dievaluasi mana yang perlu diperbaiki, dicat dan lainnya. Setelah itu dihitung-hitung kebutuhan anggarannya, kemudian diusulkan untuk perbaikan tahun depan,” terangnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Transportasi Mamminasata Dishub Sulsel Pahlevi, inventarisasi tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi dan kelayakan halte yang telah dibangun.
Menurut Pahlevi, dari hasil inventarisasi di lapangan, ada beberapa yang memang mengalami kerusakan, beberapa cat sudah pudar, ada yang tidak punya papan nama, dan kondisi lainnya.
“Jadi kami sudah melakukan pemantauan fisik setiap halte yang sudah dibangun. Semua jelas lokasi dan titik koordinatnya. Selanjutnya, pemantauan itu akan diinventarisasi sesuai kebutuhan masing-masing,” ungkap Pahlevi.
Namun, dia tidak bisa menjelaskan secara spesifik berapa halte yang mengalami kerusakan dan seperti apa penanganannya.
“Saya cuma ditugaskan melakukan inventarisasi seperti apa fisik setiap halte yang dibangun. Memang ada yang mengalami kerusakan. Namun data lengkapnya ada di kantor. Saya tidak mampu jelaskan secara rinci letak halte yang rusak tersebut,” jelasnya.
Saat ini, BRT baru beroperasi di empat koridor di kawasan Mamminasata. Padahal menurut perencanaan, ada 11 koridor yang akan dioperasikan. Artinya, masih ada tujuh koridor lagi yang harus digenjot kehadirannya.
Armada BRT kini baru melayani koridor I Bandara-mal GTC, koridor II Mal GTC-Mal Panakkukang, koridor III Terminal Daya-Terminal Pallangga, dan koridor IV Terminal Daya-Terminal Maros.
Sementara koridor yang belum terlayani koridor V, Untia-Terminal Pallangga, Koridor VI Terminal Pallangga-Mal GTC, Koridor VII Terminal Pallangga-Terminal Takalar, Koridor VIII Terminal Takalar-Mal GTC. Koridor IX Terminal Daya-Terminal Pallangga, Koridor X Terminal Daya-Terminal Pallangga via lingkar luar Bontomanai dan Koridor XI Terminal Maros-Barombong. (sar-rhm/rus)
Halte BRT Berantakan dan Jadi Tempat Tidur
×

