pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tuna Wicara Kritis Dianiaya, Oknum Polisi Diduga Bekingi Pelaku

GOWA, BKM — Nuna, warga Dusun Nirannuang, Desa Majannang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa hanya bisa meringis kesakitan. Perempuan paruhbaya ini menderita luka di sekujur tubuhnya.
Ia tak mampu bicara. Nuna seorang tuna wicara. Luka yang dideritanya diduga akibat dianiaya oleh dua orang yang merupakan ibu dan bapak, Riama dan Dg Ngunjung.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (10/8) sekitar pukul 13.00 Wita. Persoalannya pun hanya sepele.
Cucu Nuna, Shr (11) dengan dua putri Riama, yakni In dan Ml (10) tidak saling bicara alias baku bombe. Entah bagaimana ceritanya, In dan Ml kemudian mengadu ke ibunya, Riama jika dirinya ditendang oleh Shr hingga terjatuh.
Mendengar pengaduan kedua anaknya, emosi Riama tersulut. Ia lalu mendatangi Shr dan mengomeli sambil menunjuk-nunjukinya. Melihat cucunya diperlakukan seperti itu, Nuna kemudian menghampiri Shr dengan maksud untuk mengambilnya. Saat itu Riama marah.
Tidak lama kemudian datanglah Dg Ngunjung, ayah Riama atau kakek dan In dan Ml. Bukannya melerai, ia malah memegang tangan Nuna lalu memutarnya. Selanjutnya Riama menjambak rambut Nuna hingga tercerabut segenggam jari. Seketika itu juga korban jatuh tak berdaya.
Penganiayaan tak berhenti sampai di situ. Saat terjauh, Nuna lalu diinjak oleh Riama. Setelah itu, Riama dan Dg Ngunjung meninggalkan korban.
Tak lama berselang, korban kemudian bangun dari jatuhnya. Selanjutnya kembali ke rumah untuk mengambil pakaian lalu menginap di rumah saudaranya.
Fikky, cucu korban yang merupakan saksi atas kejadian ini, kemudian menyampaikan peristiwa tersebut kepada Rosi, saudara Nuna. Korban Nuna sudah tuna wicara sejak lahir, sehingga Fikky yang menyampaikan perihal peristiwa tersebut.
Usai mendengar penjelasan Fikky, Rosi kemudian memeriksa tubuh saudara perempuannya itu. Benar saja, korban mengalami kesakitan pada bagian tangannya. Juga ada memar pada wajahnya.
Oleh Rosi, kejadian tersebut disampaikan ke Kanit Binmas Polsek Tinggimoncong Aiptu ST. Namun, ST mengarahkan Rosi untuk mengadukannya ke kepala dusun.
Rosi pun mengikuti arahan Aiptu ST, meski dirinya merasa berat melakukan hal itu. Sebab menurutnya, saran itu tidak sesuai dengan aturan hukum.
Dari pertemuan dengan kepala dusun, Rosi diarahkan lagi untuk melapor ke Polsek Tinggimoncong. Keluarga korban pun mendatangi Mapolsek Tinggimoncong, Senin (14/8).
Namun ada yang ganjal dirasakan oleh keluarga Nuna. Sebab, oknum polisi Aiptu ST yang sejak awal disampaikan kasus penganiayaan tersebut, malah melimpahkannya ke kepala dusun.
Ironisnya lagi, ketika korban dibawa ke puskesmas untuk mendapat perawatan medis lantaran kondisinya yang kritis, Aiptu ST menyampaikan kepada dua keluarga Nuna, yakni Satuang dan Sinar. Ada nada intervensi di dalamnya.
”Kalau ada polisi yang tanya kalian mengenai penyakit yang dialami Nuna, bilang saja hanya sakit kepala biasa,” ujar Sattuang mengutip perkataan Aiptu ST.
Mengetahui hal itu, keluarga korban terima. Menurut mereka, tidak selayaknya seorang oknum polisi berbuat seperti itu. Sementara korban mengalami luka yang cukup serius.
Gita, anak Nuna mengaku kecewa dengan sikap oknum Kanit Binmas Polsek Tinggimoncong tersebut. Ia pun menduga Aiptu ST membekingi kedua pelaku.
”Dari hasil visum, ibu saya mengalami sakit dada, ulu hati dan kepala. Juga ada luka di perut sisi kiri sepanjang 16 cm. Luka lecet pada paha kanan sisi dalam ukuran 2 cm. Luka lecet pada pipi kanan (tulang BSPS) 1 cm. Suspeck posterior dulation copot,” beber Gita,Rabu (24/8).
Tak terima semua itu, Gita dan rombongan keluarganya lalu mendatangi Mapolsek Tinggimoncong. Mereka menemui Kapolsek Iptu Rusdi Rahim Tata dan mengadukan perilaku oknum Aiptu ST.
Mendengar penjelasan keluarga Nuna dan mengetahui ulah anggotanya, Iptu Rusdi Rahim tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia pun berjanji akan menyelesaikan perkara tindak pidana penganiayaan ini terhadap korban, serta memanggil Aiptu ST.
“Saya juga heran, kok itu oknum selama saya bertugas di sini banyak sekali laporan warga yang saya terima. Dia itu selalu mengurusi setiap ada masalah. Namun bukannya masalah selesai. Malah warga kesal,” cetus Kapolsek.
Iptu Rudi Rahim juga membenar, pernah ada kasus pencurian ternak yang berhasil digagalkan. Oknum Aiptu ST muncul lagi dan mengaku kalau yang diamankan itu adalah keluarganya.
Laporan keluarga Nuna yang menjadi korban penganiayaan telah diterima Polsek Tinggimoncong, dengan nomor LP/57/VIII/2017/sek/tinggimoncong.
”Yang bersangkutan akan saya panggil. Kalau memang terbukti melakukan seperti yang disampaikan keluarga korban, pasti kami tindak tegas,” ujar Rusdi. (ish/rus)



×


Tuna Wicara Kritis Dianiaya, Oknum Polisi Diduga Bekingi Pelaku

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar