FILM layar lebar Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui kini hadir meramiakan industri film nasional Indonesia. Banyaknya nilai-nilai budaya Bugis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar yang bisa ditunjukkan ke masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda, menjadi alasan kehadiran film ini.
Sesuai dengan targetnya, yaitu anak muda dan konsep film yang mengangkat budaya Bugis, film inipun siap menjadi salah satu highlight di perhelatan akbar tahunan Makassar di ajang F8. Untuk pertama kalinya, teaser trailer film diputar di acara ini.
“Film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui rencananya akan ikut serta meramaikan festival ini, sebagai salah satu film yang mengangkat budaya Bugis-Makassar. Dalam kesempatan festival tersebut, untuk pertama kali akan diluncurkan teaser-trailer film kami yang bakal diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia yang rencananya akan ditayangkan di akhir tahun 2017 ini,” ucap Ichwan Persada, Produser film ini.
“Dalam beberapa tahun belakangan, ada kegairahan untuk mengangkat isu-isu lokal. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Sebagai putra daerah, tentu saja saya juga ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari kampung halaman saya, Makassar. Dan saya percaya kearifan lokal bakal menjadi kekuatan baru di perfilman Indonesia,” lanjut Ichwan.
Film yang mengangkat isu yang tak lekang oleh jaman di kalangan Bugis-Makassar ini dibintangi oleh sederet aktor muda Indonesia. Seperti Bisma Karisma, Andania Suri, Dewi Irawan, serta aktor lokal berbakat Makassar Nurlela M. Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah. Juga didukung sejumlah pemain-pemain berbakat Makassar lainnya, dengan melakonkan kisah cinta sepasang anak muda yang terhalang status.
Karya ketujuh dari produser Ichwan Persada ini diproduksi atas kerjasama Inipasti Communika bersama Indonesia Sinema Persada dan Maogi Production, melibatkan sineas-sineas muda Indonesia hasil kolaborasi Makassar dan Jakarta. Sebut saja Wisnu Adi dan Kunun Nugroho sebagai sutradara, penulis skenario Oka Aurora, Luna Vidya sebagai pengarah peran.
“Film yang sarat dengan budaya Bugis namun khas anak muda ini memperlihatkan sejumlah nilai-nilai budaya yang baik yang bisa ditiru. Mungkin judulnya terkesan negatif, namun justru menurut saya disitulah jalan untuk menyampaikan sejumlah nilai-nilai baik,” ungkap Ichwan yang sebelumnya telah sukses memproduksi film La Tahzan, Miracle dan Hijabers in Love. (rls)
Ada Trailer Film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui
×

