MODAL besar menjadi salah satu hal yang paling utama dalam mendirikan sebuah usaha. Namun, tidak semua orang memandang seperti itu. Banyak juga yang berpendapat bahwa modal besar menempati posisi kedua dalam pengembangan usaha.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
TIDAK sedikit orang yang terkadang menyerah, ketika dalam proses mengembangkan usahanya mereka kehabisan modal. Banyak pula yang enggan memulai karena merasa tak punya modal besar.
Memang benar jika sebuah usaha pasti butuh modal. Namun bagi Farah, modal menjadi hal belakangan. Yang terpenting baginya adalah kemauan mengubah diri. Modal modal yang besar akan ikut beriringan dengan kemauan berusaha dan kerja keras yang tinggi.
Selain menjual pakaian bekas, saat kuliah dulu ternyata Farah juga pernah bekerja di sebuah perusahaan tahun 2012. Ia bekerja selama satu tahun, hingga akhirnya bisa membeli satu unit sepeda motor. Disinilah awal perjalanan usaha Farah dimulai.
Di akhir masa kuliahnya, Farah melakukan penelitian di Kecamatan Pattallassang, Gowa. Di sana ia bertemu dengan seorang petani bayam. Sang petani kerap berkeluh kesah kepada Farah karena bingung ke mana memasarkan bayam hasil pertaniannya.
“Petani bayam itu curhat sama saya. Katanya mau dibuat apa ini bayam-bayamnya. Kalau mau dijual di pasar, katanya sudah banyak yang jual bayam. Dia kebingungan,” cerita Farah.
Akhirnya, Farah mulai mencari tahu tentang berbagai manfaat bayam. “Saya searching di internet tentang manfaat bayam. Ternyata di Jawa sudah banyak orang yang membuat bayam menjadi keripik, tapi belum ada yang berani branding. Makanya, itu bisa sekaligus menjadi kesempatan,” lanjut Farah.
Ia akhirnya nekat membuat usaha kecil-kecilan dengan menjadikan keripik bayam sebagai bahan baku utama. Modal awalnya kala itu hanya Rp50 ribu.
Lama-kelamaan, ia merasa bahwa usahanya ini harus lebih dikembangkan lagi. Dengan modal kepercayaan diri tinggi, ia kemudian menjual sepeda motornya demi usaha yang tengah digeluti.
Farah lalu mencoba memasarkan produknya di kampus, ke teman-temannya, juga ke dosennya. Ternyata produk Farah mendapat tanggapan positif dari teman-teman serta para dosennya. Mereka tertarik dan akhirnya mensupport apa yang dilakukan Farah.
Ada-ada saja jalan bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh. Untuk menambah lagi modal usahanya, Farah sempat mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). PMW sendiri adalah program yang didanai oleh Dikti, yang ditujukan kepada mahasiswa dengan tujuan mengenalkan dan mengembangkan kewirausahaan.
Setelah mengikuti seleksinya saat itu, Farah terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang diberikan bantuan modal sebesar Rp14 juta.
Di tengah karirnya, tanpa sengaja Farah kembali mendapatkan modal usaha lagi. Kali ini dari salah satu investor di Arab Saudi.
Kala itu, co-founder Ospinachi, Arif Budiono memposting kutipan tentang usaha milik Farah ini. Seorang senior yang berada di Arab Saudi pun tertarik dan datang langsung ke Indonesia menemui Farah dan dua co-foundernya untuk mendengarkan presentasi Ospinachi. Usai presentasi, investor Arab Saudi ini pun tertarik dan langsung mengajak Ospinachi untuk bekerja sama. “Ada saja jalan yang ditunjukkan Allah. Bersyukur sekali kami bisa mendapat kemudahan seperti ini,” tutur Farah.
Dengan berbagai modal usaha yang diterimanya, saat ini Ospinachi telah memiliki pabrik sendiri di Ruko Antang Bisnis Centre. Di pabrik inilah semua hal mengenai Ospinachi dilakukan. Mulai dari produksi, pengemasan, sampai pada strategi pemasaran.
Namun, di balik semua kemudahan permodalan yang ia dapatkan, Farah ternyata juga pernah kehabisan modal. Saat itu bahkan ia merasa bahwa Ospinachi akan bangkrut.
Tapi ia tak memilih untuk menyerah. Sebaliknya, Farah mengambil pelajaran bahwa sebuah usaha ternyata harus selalu berinovasi. Dengan inovasi dan sebuah keyakinan, walaupun modal sempat habis, usaha tetap bisa terus dijalankan.
Pemasaran Ospinachi saat ini telah merambah hingga Surabaya dan Pekanbaru. Ke depannya, Farah akan menyasar ke Bali. Karena di sana dikatakannya merupakan salah satu pasar yang potensial. Bahkan ia menargetkan untuk tiga sampai lima tahun ke depan, Ospinachi bisa melakukan ekspansi ke pasar nasional, bahkan Internasional. “Kita sekarang lagi cari investor lagi di Arab dan Cina, supaya bisa mendirikan pabrik di sana. Kalau ada pabrik di sana kan kita sudah tidak dikenakan lagi bea cukai,” jelas Farah.
Salah satu kendalanya saat ini adalah soal pemasaran melalui iklan. Beberapa snack mainstream lainnya lebih unggul dalam beriklan di televisi. Sedangkan Ospinachi, untuk saat ini belum memiliki modal yang cukup dalam melakukannya.
“Ya, kita belum bisa beriklan di televisi. Itu sih kesulitannya,” kata Farah.
Ia berharap, ke depannya ia bisa mendirikan tempat pelatihan kepada siswa SMP maupun SMA untuk bercocok tanam bayam. Selain itu juga bisa berlatih memproduksi sampai memasarkan bayam tersebut.
“Hindari namanya gengsi. Lakukan yang kecil tapi berpikir besar. Mimpi harus menyatu dengan usaha. Karena berwirausaha tanpa mimpi dan tujuan jelas, sama saja tak ada gunanya,” itu sedikit tips dari Farah. (*/rus/b)

