SATU lagi moda transportasi untuk pelajar dihadirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Perhubungan. Namanya Pasikola. Singkatan dari Petepete Anak Sekolah. Bagaimana konsepnya, dan seperti apa wujudnya?
Laporan: Juni Sewang
PADA sebuah sudut di Jalan Veteran Selatan, depan toko penjual onderdil kendaraan roda dua. Satu unit mobil angkutan umum petepete tampak berbeda dari yang lainnya.
Cat bagian luarnya tidak polos sebagaimana warna khusus petepete di Makassar. Eksterior mobil ini dihiasi dengan gambar-gambar. Pada bagian pintunya tertera tulisan berwarna hitam; Pasikola dengan latar belakang kuning. Seorang lelaki terlihat duduk di belakang kemudi.
Kehadiran angkutan jenis ini berawal dari lokakarya design thinking bagaimana menciptakan transportasi publik yang dicintai masyarakat. Pemkot Makassar, Dishub dan Organisasi Angkutan Darat (Organda) dalam workshopnya mendapatkan enam ide dari enam kelompok.
Masing-masing kelompok terdiri dari berbagai unsur elemen masyarakat seperti akademisi, pemerintah daerah, komunitas kreatif hingga penyandang disabilitas. Hadir pula perwakilan Organda, Dishub dan kepolisian. Keenam ide itu muncul dari diskusi kelompok, yang kemudian dimatangkan pada sesi ujicoba bagi warga sekitar.
Pada bagian akhir lokakarya yang berlangsung, keenam kelompok mempresentasikan ide mereka dihadapan Pavaani Reddy, UNDP Bangkok Regional Hub dan Mario Said, Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar.
Sesi presentasi itu dikembangkan dalam tahapan inkubasi yaitu Petepete Anak Sekolah, disingkat Pasikola. Ide ini mengoptimalkan petepete yang sudah ada untuk digunakan sebagai angkutan khusus bagi anak-anak sekolah. Pasikola akan melalui trayek dari kawasan pemukiman ke sekolah-sekolah.
Angkutan jenis ini solusi untuk transportasi anak sekolah yang aman dan sarat dengan nilai edukasi, disertakan sistem informasi e-nassami. Sistem tracking ini memungkinkan orang tua dan sekolah melacak kendaraan dan menerima pemberitahuan pada saat kedatangan dan waktu penjemputan.
Selama bulan Maret-April, tim kerja proses inkubasi juga mengembangkan konsep program. Termasuk model bisnis dan juga mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk periode piloting. Ujicoba ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017.
Ujicoba pertama dijalankan oleh empat anggota tim bekerja sama dengan Dishub Kota Makassar, Organda, Dinas Pendidikan dan difasilitasi oleh BaKTI. Mereka sebelumnya terlibat aktif pada workshop design thinking dan tahap inkubasi.
Piloting pertama dibagi dalam tiga tahap. Untuk tahap pertama satu kendaraan melayani satu SMP. Tahap kedua, dua kendaraan. Satu kendaraan melayani satu SMP dan satu lainnya melayani satu SD. Sementara tahap ketiga empat kendaraan. Masing-masing dua kendaraan melayani satu SMP dan dua lainnya melayanin satu SD.
Jasman Launtu, Kepala Bidang Moda Transportasi Dishub Makassar menyebut, ada beberapa kegiatan sebagai tahapan persiapan sebelum pelaksanaan ujicoba. Antara lain modifikasi mobil. Pada tahapan ini, tim Pasikola memodifikasi satu petepete regular menjadi angkutan anak sekolah.
Pengerjaan mobil petepete itu melalui dua tahap, yakni perbaikan bodi dan interior mobil. Item-item perbaikan bodi dan interior mobil berdasarkan masukan orang tua siswa dan siswa saat proses prototyping dan tahap inkubasi.
Pelatihan pengemudi Pasikola. Pemberian teori dan on the job training melibatkan Dishub Kota Makassar, Organda, psikolog anak, dan pengemudi angkutan antar jemput dalah satu sekolah di Makassar.
Selanjutnya, kordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar. ”Saat itu Dinas Pendidikan merekomendasikan SMPN 3 Makassar, dengan pertimbangan lokasi sekolah ini terletak di kawasan yang rawan macet. Dalam koordinasi ini juga Disdik Makassar menghubungkan langsung ke pihak sekolah,” jelas Jasman.
Selain tiga kegiatan di atas, pada ujicoba tahap pertama telah dilakukan juga koordinasi dengan Pihak SMPN 3 Makassar, rapat pemantapan Pasikola, pertemuan dengan wali kota Makassar dan orang tua siswa. Termasuk cek lokasi rumah siswa dan rute penjemputan.
Pada ujicoba ini, aplikasi sistem informasi e-Nassami Pasikola masih dalam proses pengembangan. Karenanya, sistem tracking masih menggunakan se tracker dan Google Maps, serta komunikasi via Whatsapp antara tim Pasikola, driver dan orang tua siswa. (*/rus/b)

