pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

”Dulu PKI Itu Dibikinkan Kampung di Bawah Tanah”

MAKASSAR, BKM — Pada 52 tahun silam di tanggal 30 September. Sejarah kelam bangsa ini terjadi, yakni penghianatan G30S/PKI. Pada tanggal yang sama di hari ini, Sabtu (30/9) 2017, masa itu kembali dikenang.
Mantan Panglima Perang Tokoh Legendaris Kahar Mudzakkar, H Labasse punya cerita tentang masa itu. Dia menyebut, di zaman perjuangan bersama DI/TII, PKI menjadi musuh mereka.
”Dulu saat di zaman PKI itu, tidak ada ampun. Dibikinkan kampung di bawah tanah mereka. Itu istilahnya saat zaman saya dulu,” kata H Labasse yang ditemui di kompleks pesantren Atibyan Desa Senga Selatan, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Jumat (29/9).
Dulu, kata H Labasse, saat perjuangan GGSS (Gerakan Gerilya Sulawesi Selatan), misinya adalah membawa pasukan yang ada di Sulawesi Selatan ketika berlangsung perjuangan revolusi. ”Misi kami, pasukannya Pak Kahar diberi status sebagai anggota TNI sah dan resmi diakui pemerintah pusat,” ujarnya.
Dijelaskannya, gerakan PKI lebih duluan muncul dari perjuangan mereka di tahun 1950 hingga 1951. ”Saat itu sangat jelas sikap Pak Kahar. Dia menolak PKI,” tandasnya.
Soal instruksi Panglima TNI yang menggiatkan nonton bareng film G30S/PKI, H Labasse menyatakan sangat setuju. ”Idu ide bagus. Terus terang saya hormat soal itu,” imbuhnya.
Di zaman perjuangan Kahar Mudzakkar dulu, H Labase tergabung dalam Pasukan Pengawal Perang Kahar Mudzakkar (P4). Di zaman sekarang istilahnya Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden).
Ia juga menyinggung soal pemberontakan sebelum PKI. Ada namanya pasukan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang berkedudukan di Maros.
”Saat itu Pak Kahar menumpasnya selama empat bulan. Saya juga bingung apa misi yang mereka (APRA) bawa. Saya juga terlibat dalam penumpasan APRA di Sulsel,” ujarnya, sambil menyebut pemberontakan APRA seolah hilang dari sejarah.
H Labasse menjadi pengikut setia Kahar Mudzakkar selama 15 tahun. Terhitung sejak tahun 1950 hingga 1967. Ia kembali bergabung dengan masyarakat umum setelah turun gunung usai negosiasi dengan pemerintah.
”Sekarang umur saya sudah 96 tahun. Saya masih ingatdulu di Luwu Raya ini pengkaderan PKI terdapat di daerah Malili, Wotu meliputi Mangkutana dan Bone-bone. Semua lokasi pengkaderan PKI di Luwu Raya itu dihancurkan tanpa ampun oleh pasukan saya atas perintah Pak Kahar,” jelasnya penuh semangat.
Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel Asmanto Baso Lewa, mengatakan pada prinsipnya, di permukaan tidak terdeteksi pergerakan dan aktifitas PKI di Sulawesi Selatan.
Namun, pihak terkait yang punya tugas dan kewenangan menjaga stabilitas serta keamanan wilayah tidak boleh terlena dengan kondisi ini. Karena dikhawatirkan pergerakan bawah tanahnya tetap ada.
Asmanto menegaskan, apapun namanya, PKI maupun sempalannya sudah menjadi momok bagi anak bangsa yang selalu harus diwaspadai kebangkitannya. Apalagi ada beberapa fakta yang ditemukan jika beberapa kali, lambang-lambang PKI terlihat di beberapa tempat.
“Fakta pernah memang ada muncul dalam bentuk lambang di beberapa daerah. Seperti Takalar dan Bone. Itu ditemukan beberapa tahun lalu. Awal tahun ini juga. Di salah satu percetakan juga ditemukan lambang-lambang,” ungkapnya, Jumat (29/9).
Dia melanjutkan, tidak dapat dinafikan jika hingga saat ini masih tersebar eks PKI di sejumlah daerah.
Menurutnya, data yang diperoleh Kesbangpol, di Makassar saja, tercatat masih ada lebih dari 1.500-an eks pendukung partai komunis tersebut. Itu belum termasuk di kabupaten/kota lain yang ada di Sulsel.
Meskipun sejauh ini tidak ditemukan atau terdeteksi bentuk gerakan di permukaan yang terang-terangan bisa mengancam ideologi bangsa, namun seluruh komponen bangsa harus tetap waspada. Karena gerakan yang dilakukan PKI bersifat massif dan tidak kelihatan.
Di era teknologi canggih seperti saat ini, bisa saja partai terlarang itu melancarkan serangan untuk melemahkan bangsa dengan menggunakan media sosial, atau proxy war dengan tangan ketiga.
Banyak agenda yang dilakukan untuk mewaspadai munculnya gerakan PKI. Salah satunya, dengan menyadarkan dan membuka mata masyarakat akan bahaya PKI. Khususnya di kalangan generasi muda yang lahir jauh setelah aksi biadab PKI terjadi.
“Dengan menonton film terkait kekejaman PKI, itu salah satunya saya rasa perlu untuk membuka mata masyarakat akan kekejaman PKI, ” kata Asmanto.
TNI dan seluruh aparat juga tak pernah tidur untuk memastikan tidak ada gerakan sekecil apapun yang bisa dilakukan PKI di Indonesia.
“Kesbang dan Komite Intelijen Daerah selalu waspada dan tidak pernah mengabaikan sekecil apapun indikasi yang mencurigakan bisa mereka lakukan. Apalagi pergerakan komunis itu menyusup dari bawah hingga ke atas, ” jelasnya. (wan-rhm/rus)



×


”Dulu PKI Itu Dibikinkan Kampung di Bawah Tanah”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar