MEMBANGUN pondasi usaha yang dimulai dari dasar benar-benar tak mudah. Mereka yang sukses dari hasil kerja kerasnya tak sedikit yang memiliki cerita gagal di belakangnya.
REPORTER: NUGROHO NAFIKA KASSA
KEGAGALAN sepertinya menjadi bagian dari kesuksesan. Tanpa kegagalan, seseorang seolah akan sulit mengetahui sisi lemahnya. Karena hakikatnya, sisi lemah seseorang bisa menjadi faktor yang menunjang kekuatan berusaha.
Contohnya adalah St Zulaeha, pemilik Nones Ice. Wanita asal Kabupaten Jeneponto ini pernah mengalami kegagalan dalam mencoba merintis usaha.
Ia memulai sebuah usaha dari keberaniannya, mengalami kegagalan, dan akhirnya kini sukses. Bahkan ada peluang baginya untuk menjadi lebih sukses lagi.
BKM menemui Uul, panggilan akrab St Zulaeha di Pancious Pancake House, Jalan Hertasning Makassar. Saat itu ia ditemani oleh tiga orang temannya sedang menikmati sore di cafe tersebut. Wanita berkulit putih ini menyapa BKM dengan ramah saat pertama kali bertemu.
Perbincangan hangat berlangsung di salah satu sudut ruangan. Ia lalu berkisah tentang usahanya dan tentang bagaimana ia jatuh bangun membesarkannya.
Uul sendiri wanita kelahiran Makassar, 28 Juli 1994. Namun sejak kecil bersama orang tuanya ia berdomisili di Kabupaten Jeneponto. Ayahnya bernama Yusuf dan ibunya Kasmawati. Wanita yang hobi berenang ini tinggal di Makassar sejak ia kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2012.
Nones Ice adalah usaha yang didirikan Uul. Ia sengaja mengambil lokasi di dalam kampus supaya lebih dekat dengan mahasiswa. Tepatnya berada di dalam kampus UNM Gunung Sari.
Nones Ice menjual berbagai minuman kemasan, seperti es cincau, greentea, dan thai tea. Dengan harga yang cukup terjangkau, para pelanggan bisa menikmati hidangan minuman di tempat milik Uul ini.
Sebenarnya, bukan usaha ini yang awalnya didirikan pertama kali oleh Uul. Melainkan nasi campur.
Saat awal-awal di tahun 2013 mulai menjual, usaha jualan nasi campur itu berjalan dengan lancar. Namun, lama-kelamaan ternyata Uul mengalami banyak kendala dalam menjalankannya. Hasilnya malah merugi.
Sampai di situ, Uul merasa malu jika ia harus menyerah. Meski sudah tak lagi memiliki dana, ia tetap merasa yakin bahwa dirinya akan meraih sukses.
Dengan berat hati, Uul mencoba meminjam dana dari temannya. Beruntung, ada seorang temannya yang berniat baik meminjamkannya dana untuk keperluan usahanya. Dari pinjaman sebesar Rp4 juta, ia kemudian memulai lagi melanjutkan usaha yang telah digeluti.
Sampai pada akhirnya ia berpikir untuk mengubah haluan. Uul merasa ada yang salah ketika harus terus menjual nasi campur di kampus. Makanya, ketika melihat adanya inovasi minuman cincau saat itu, ia pun mendapat ide baru.
“Saat itu memang ada es cincau, tapi belum banyak orang yang jual. Saya lihat ada peluang disitu. Saya akhirnya menghentikan jual nasi, lalu buat usaha minuman,” kata Uul.
Kini usahanya telah berbuah hasil. Dana yang dipinjam dari temannyapun telah lama ia berhasil kembalikan. Kini omzetnya sudah mencapai Rp1 juta setiap hari. (*/rus/b)

