MENJADI seseorang yang bisa mengharumkan nama daerah bukanlah pekerjaan mudah. Ada banyak rintangan, serta butuh kerja keras untuk menggapainya. Khuznul pun mengakui kesulitannya di awal rutin latihan.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
KHUZNUL pertama kali berlatih serius bermain bulutangkis kala ia masih duduk di bangku SMA. Pelatihnya adalah orangtuanya sendiri. Ayahnya yang turun tangan langsung. Sementara ibunya, biasa mengingatkan Khuznul untuk selalu berlatih.
Hal terberat di awal latihan yang dirasakan bagi Khuznul adalah kedisiplinan. Bangun pagi menjadi faktor penghambatnya saat ingin memulai latihan.
“Saya biasa latihan pagi-pagi dulu waktu masih sekolah. Saya akui, awalnya sangat susah bangun pagi,” tuturnya.
Rutinitasnya sehari-hari adalah latihan, sekolah dan latihan lagi. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, ibunya sudah membangunkan untuk latihan main dengan ayahnya. Setelah latihan barulah ia berangkat ke sekolah. Setelah pulang dari sekolah, ia kembali harus berlatih. Sungguh hidupnya dipenuhi dengan aktivitas bulutangkis.
Jika sulit bangun, Khuznul bahkan kerap dipukul oleh ibunya. Meski begitu, Khuznul seakan tak mau berhenti untuk menggeluti olahraga bulutangkis. Ia tetap latihan terus mengikuti kemauan orang tuanya. Alhasil, kondisi seperti itu hanya ia jalani selama sebulan. Selebihnya ia mulai bisa mandiri. Mulai bangun sendiri di pagi hari, dan latihan tanpa dipaksa.
Setelah ia menyelesaikan sekolahnya dan mulai kuliah di UNM, Khuznul lalu bergabung di PB Yanti Jaya. Awalnya ia hanya ikut-ikutan karena mengenal pemilik PB tersebut. Namun siapa sangka, keahliannya bermain bulutangkis selama bergabung di PB Yanti Jaya semakin terasah.
Khuznul mengatakan, porsi latihan di PB Yanti Jaya sebenarnya tidak terlalu ketat, namun sangat efektif. Ia hanya dilatih oleh seorang pelatih dari Rabu sampai Sabtu. Itupun dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Selebihnya, ia berlatih sendiri dengan teman-temannya.
Kebiasaan dilatih orang tua sejak SMA membuatnya mandiri. Tanpa harus dipaksa latihan, ia terkadang memulai latihan sendiri. Ini pula yang menjadi salah satu kunci kesuksesannya.
Kerja kerasnya pun akhirnya berbuah hasil. Ia dipanggil mewakili Susel di kejuaraan nasional lalu. Ia merasa sangat senang, bahkan berjanji memberikan yang terbaik atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Sebulan sebelum pelaksanaan kejurnas, Khuznul benar-benar mempersiapkan diri. Porsi latihan pun ia tambah dari sebelumnya. Fokusnya benar-benar mengarah pada kejurnas.
“Satu bulan saya persiapkan. Latihan terus. Itu saja intinya. Fokus saya saat itu benar-benar kejurnas,” kata Khuznul.
Lawan terberatnya saat itu, ia katakan berasal dari Yogyakarta. Memiliki skill yang baik, sehingga mengalahkannya di semifinal. Namun Khuznul tak mau berkecil hati. Ia akan terus berusaha agar di kejuaraan nasional berikutnya bisa mendapat hasil yang lebih baik.
Di bagian akhir pembicaraan, Khuznul menaruh harapan agar pemerintah di daerah ini memberikan perhatian terhadap perkembangan dan pembinaan atlet bulutangkis. Agar di tahun-tahun berikutnya akan semakin banyak lagi atlet-atlet Sulsel yang mampu berbicara di tingkat nasional.
“Pembinaan harus lebih ditingkatkan lagi. Saya harap ke depannya akan banyak lagi atlet-atlet bulutangkis berprestasi dari sini. Karena saya tahu, anak-anak di Sulsel juga banyak yang berbakat,” Khuznul optimistis, dan mengakhiri wawancara. (*/rus/b)

