MAKASSAR, BKM — Dua bakal pasangan calon (bapaslon) akan bertarung dalam pemilihan wali kota Makassar, 27 Juni mendatang. Mereka adalah petahana Moh Ramdhan Pomanto-Indira Mulysari Paramastuti dan Munafri Arifuddin-A Rachmatika Dewi.
Semakin mendekati perhelatan demokrasi lima tahunan ini, kedua kubu saling klaim kekuatan. Mereka menyebut telah menguasai hampir semua wilayah di kecamatan. Baik di tingkat kelurahan, maupun hingga rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT).
Ketua DPD II Partai Golkar Makassar Farouk M Betta, menyatakan keyakinannya jika sejumlah wilayah berada di basis pemenangan untuk pasangan Appi-Cicu. Menurutnya, jika pengurus, kader dan simpatisan dari 10 partai politik pengusung pasangan ini bergerak, maka praktis hampir semua pemilih akan ikut kepada partai yang pernah didukungnya.
“Jumlah kursi partai politik pendukung Appi-Cicu di DPRD Makassar sebanyak 43. Mereka ini tentu punya konstituen di semua wilayah. Itu kekuatan besar, karena calon kami mengandalkan kekuatan partai politik dan suara masyarakat,” ujar ketua DPRD Kota Makassar ini, Selasa (16/1).
Sementara Nasran Mone, tim pemenangan DIAmi (Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti), menegaskan bahwa pertarungan head to head di pilwali Makassar sangat menguntungkan sang petahana.
“Kalau saya melihat pertarungan head to head pasangan DiaMi dan Appi-Cicu, ini amat sangat menguntungkan Danny. Karena Pak Wali Kota telah lama menanam investasi sosial di masyarakat. Baik di saat menjabat, maupun sebelum menjadi wali kota,” ujar Nasran, kemarin.
Selain itu, Nasran yang juga politisi Partai Golkar ini menilai, dengan majunya Dany melalui jalur perseorangan atau independen, maka masyarakat merasa punya ruang penyaluran aspirasi.
“Ini suara yang tanpa diintervensi oleh partai. Partai pendukung Appi yang memiliki kader potensial dan punya pengaruh besar di masyarakat, nyebrang mendukung Danny. Itu akibat akumulasi kekecewaan terhadap partainya, sehingga pastilah mereka semua itu akan bekerja keras untuk memenangkan petahana,” terang mantan anggota DPRD Makassar ini.
Pengamat politik Arief Wicaksono, menilai jika bicara soal basis elektoral, untuk saat ini masing-masing pasangan calon punya basis yang cukup merata di 15 kecamatan. Namun demikian, Arief menilai jika Danny-Indira masih cukup kuat.
“Saya lihat DIAmi di wilayah kepulauan, Kecamatan Makassar, Panakukkang, Ujungpandang, Bontoala, Rappocini, Tamalate. Sedangkan Appi-Cicu juga sudah cukup kuat di Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, Mariso, Ujung Tanah, Wajo dan Mamajang. Perbedaannya hanya sumber calon suaranya,” terang Arief, kemarin.
Kalau DP-Indira, sebutnya, sumbernya dari birokrasi kewilayahan, seperti RT/RW hingga camat. Plus infrastruktur dapil sebagian kader PPP dan Demokrat. Sedangkan Appi-Cicu, sumbernya dari infrastruktur dapil kader partai pendukung, dapil Cicu, mesin politik IAS dan juga kelompok-kelompok relawan supporter PSM. Termasuk relawan bisnis keluarga.
Sementara itu, dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad, mengemukakan bila secara geopolitik masing-masing pasangan cenderung merata berdasarkaan pergerakan politiknya selama ini. “Danny lebih menguasai basis potensial. Apalagi massifnya RT/RW memberikan dukungan. Indira dan Cicu memiliki basis pemilih loyal di dapil masing-masing selama menjadi anggota legislatif,” ucap Firdaus.
Ke Mana Dukungan DIAji?
Menjelang menduduki jabatan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Makassar, Samsu Rizal MI kembali mengingatkan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Makassar untuk profesional atau alias tetap netral menghadapi pilwali. Menurut Deng Ical -panggilan akrab Samsu Rizal, saat dirinya menjabat sebagai plt wali kota pada Februari nanti, tidak akan banyak perubahan yang terjadi. Namun hal paling penting diperhatikan adalah memastikan seluruh ASN bekerja dan bersikap secara profesional.
“Itu yang paling utama, dan kemudian kita lanjutkan. Kan RPJMDnya jelas. Program dan peraturannya juga jelas. APBDnya sudah jalan. Jadi hampir tidak ada masalah dalam pelaksanaannya,” kata Deng Ical, Selasa (16/1).
Sikap profesionalisme ASN di tahun politik, menurut Deng Ical, begitu sangat penting untuk memastikan program yang sudah direncanakan tetap berjalan. Jangan sampai ASN sibuk berpolitik, lalu mengesampingkan program-program yang ada hingga membuat pemerintahan tak lagi terurus dengan baik.
“Jangan sampai ASN berpolitik dan tidak lagi memiliki energi mengurus pemerintahan. Tidak perluji ditanya soal sanksinya karena sudah jelas dalam PP 53 dan surat edaran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB),” jelasnya.
Ditanya soal sikap DIAji terhadap pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar, Deng Ical mengaku belum menentukan arah dukungannya. Ia masih perlu konsultasi bersama tim DIAji ke mana arah dukungannya.
“Kalau dukungan belumpi. Tapi yang pasti adaji. Ini soal feeling dan misi politik mana paling pas. Terutama sekali apa yang diinginkan tim DIAji. Kan saya orientasinya tidak egois, karena kami bukan laki-laki egois. Jadi kalau tim menghendaki seperti itu, maka kita putuskan sesuai keputusan tim,” tambahnya. (arf/rus)

