LAYAKNYA seorang mahasiswi, Nulo orangnya periang. Hal itu ditampakkannya ketika BKM mengunjungi rumahnya di Kompleks Hartaco Indah, Jalan Daeng Tata, Makassar. Karakternya, bisa cepat akrab dengan orang lain. Ia pun tetap mengenakan jilbab, walaupun berada di rumahnya sendiri.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SAAT ini Nulo kuliah di Jurusan Manajemen STIEM Bongaya, Makassar. Ia sama sekali tidak punya dasar mengajar. Apalagi bagi anak-anak. Namun, hatinyalah yang mendorongnya untuk terjun ke pergerakan sosial pendidikan ini.
Pertama kali masuk di Sigi, Nulo masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Ia adalah alumni SMAN 8 Makassar. Nulo bercerita kalau awalnya ia masuk di Sigi karena ingin punya kegiatan. Itu saja. “Waktu itu kelas 3, mauma kuliah. Nanti kalau kuliah saya tidak mau hanya jadi mahasiswa yang kerjanya kampus-rumah-kampus. Itu terus. Makanya saya coba cari kegiatan dan bertemulah saya dengan Sigi,” kenang Nulo.
Awal bergabungnya ia hingga pertama kalinya mengajar, Nulo mengaku memang agak kesulitan. Ia mengatakan tak tahu caranya mengajar. Bahkan berbicara di depan orang banyak pun dirinya cukup kesulitan. Apalagi harus berinteraksi yang baik dengan anak-anak. Bagi Nulo itu merupakan hal yang tak biasa dan membuatnya harus terus belajar.
Setelah bergabung dengan Sigi dan terus mengembangkan kemampuan dirinya, lambat laun ia sudah mulai bisa mengubah diri. Yang tadinya tak bisa mengajar, mulai ia bisa lakukan. Sekarang juga ia tak canggung lagi berbicara di depan umum. Nulo mengakui jika saat ini ia sudah benar-benar cinta keada anak-anak.
Nulo bersama Sigi rutin menjalankan program sosialnya. Antara lain ada Carakde (sekolah non formal Sigi). Receh Kahuripan (mengumpulkan koin sesama anggota untuk kegiatan Sigi). Asiteru (Aksi Tebar Buku serta menerima donasi buku yang siap disebar ke daerah dan sekolah yang membutuhkan).
Ada pula Project Berbagi (misalnya bedah panti, berbagi seragam, dan lainnya). Serta Teater Keliling (bioskop mini untuk anak-anak). Masing-masing program ini dijalankan secara rutin oleh Nulo dengan waktu kegiatan yang berbeda-beda pula.
Nulo biasa memanfaatkan teras-teras rumah warga sebagai tempat mengajarnya. Bersama program ini, banyak tempat yang pernah disinggahinya selama menjadi pengajar di Sigi.
Nulo menyebut pernah mengajar anak-anak di Desa Nelayan Untia. Pernah juga di Pulau Lakkang. Wilayah Pandang Raya yang digusur beberapa waktu lalu. Asrama Dayung Jalan Daeng Tata 3, Adhyaksa, dan Rajawali. Tentu semuanya adalah tempat anak-anak kurang mampu yang membutuhkan pendidikan.
Adapun beberapa kelas yang diajarkan kepada anak-anak, diantaranya agama, bahasa, matematika, baca tulis, dongeng, prakarya, bercerita, aksara lontara, serta kelas kolaborasi dengan komunitas lain.
Banyak sudah suka duka yang dilalui oleh Nulo. Ia mengisahkan, bahwa pernah suatu waktu ia mengajak anak-anak utuk belajar. Namun mereka tidak mau karena hanya ingin bermain layang-layang. Nulo pun langsung menangis saat itu teringat akan ibunya.
“Diajakmi belajar, tapi mereka bilang malas belajar. Maunya hanya main layang-layang. Deh langsungka menangis. Mungkin inimi juga yang narasa ibuku kalau disuruhka belajar terus tidak mauka,” kenang Nulo sambil tersenyum.
Pernah juga ia mengajar alfabeth kepada anak-anak. Namun karena ia lihat ada anak yang bermain-main, ia pun menegur anak itu. Tanpa diduga, anak tersebut malah membentaknya.
“Itu anak main-main. Terus saya tegur. Eh dia malah bilang janganki marahika, anaknyaka Daeng Kebo. Deh, langsung kayak bagaimana sekalika,” cerita Nulo.
Semua itu telah menempa Nulo untuk terus semangat dalam berbagi. Ia berharap kepada anak-anak muda sebayanya untuk terus berbuat sesuatu yang positif. “Karena berbagi tidak membuat kalian rugi,” seru Nulo. (*/rus/b)

