MAKASSAR, BKM — Calon rektor incumbent Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu masih yang terkuat di Universitas Hasanuddin (Unhas). Pada proses pemilihan pertama bakal calon rektor kampus merah periode 2018-2022, ia tercatat sebagai peraih suara terbanyak.
Rektor perempuan pertama Unhas ini mampu mengantongi 79 suara dari 82 anggota senat akademik yang hadir. Sementara tiga calon lainnya masing-masing hanya mendapat satu suara. Masing-masing Prof Dr H Muhammad Yunus Zain, Prof Abrar Saleng dan Dr Ir Muh Ramli,MT. Satu calon lainnya, yaitu Prof Dr H Hamka Naping,MSi tak meraih suara.
Ada empat anggota yang tidak hadir. Masing-masing Prof Dr Ir H Ambo Tuwo,DEA, Prof Alfian Noor dan Prof dr Irawan Yusuf PhD yang sedang berada di luar negeri. Serta Prof dr Veni Hadju,PhD yang sedang menjadi pemakalah.
Proses pemilihan berlangsung di Baruga AP Petta Rani Kampus Unhas Jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (24/1).
Setelah Prof Dwia mendapatkan suara terbanyak, selanjutnya dilakukan pemilihan ulang untuk menetapkan dua calon lain. Prof Hamka Naping tak bisa lagi ikut. Sehingga hanya tiga calon peraih satu suara di pemilihan pertama yang maju bersaing.
Hasilnya, Prof Dr H Muhammad Yunus Zain meraih 16 suara. Prof Abrar Saleng 23 suara. Dr Ir Muh Ramli,MT sebanyak 37 suara. Jumlah suara pemilih berkurang, karena sebagian telah meninggalkan baruga.
Berdasarkan hasil pemilihan tersebut, tiga nama calon kemudian diserahkan Majelis Wali Amanah (MWA) untuk dipilih menjadi rektor Unhas. Mereka adalah Prof Dwia, Prof Abrar dan Dr Muh Ramli.
Dalam proses tersebut, bisa terlihat kekuatan Prof Dwia dibanding dua pesaingnya. Hanya saja, saat ditanya soal besar kemungkinan dia akan duduk kembali menjadi rektor, Prof Dwia menyerahkan hasil akhirnya di MWA.
“Kita lihat saja nanti di MWA. Kalau ditanya optimis, saya optimis. Apalagi dalam pemaparan tadi kita dituntut untuk membawa Unhas menuju MCU (World Class University),” ungkap Prof Dwia.
Calon rektor lainnya, Dr Muh Ramli menegaskan bahwa dirinya tidak akan melakukan lobi apapun ke kementerian yang diketahui mempunyai 50 persen suara dalam penentuan rektor.
“Saya tidak punya lobi apapun. Yang saya lakukan hanya menawarkan program kerja ke kementerian, yang tentu punya daya tarik untuk dipertimbangkan,” ujarnya.
Ditanya perihal progrm kerja yang bakal ditawarkan ke kementerian untuk meraih suara, ia belum membeberkan secara gamblang sebelum mengetahui misi dan tujuan kementrian.
“Nanti kita akan lihat dulu maunya kementerian seperti apa, baru saya akan gambarkan program kerja saya,” katanya.
Usai pemungutan suara pertama, calon rektor Prof Abrar tampak sudah pasrah. Ia tak lagi mempersiapkan strategi apapun untuk mengalahkan Prof Dwia.
“Saya tidak punya strategi apa-apa. Biar seperti air yang mengalir. Kita lihat saja bulan depan seperti apa. Kalau kementerian melirik saya, terima kasih. Saya maju jadi calon karena dorongan professor di sini,” terangnya.
Dua kandidat yang tidak terpilih, yakni Prof Dr H Muhammad Yunus Zain dan Prof Dr H Hamka Naping punya rencana yang akan dilakukannya ke depan. Mereka akan kembali menjalankan usaha dan pekerjaannya seperti sediakala. Keduanya tak lupa mengucapkan selamat kepada tiga calon rektor yang terpilih.
“Tidak apa-apa. Semoga kandidat yang terpilih betul-betul bisa menjadikan Unhas sebagai WCU,” ujarnya.
Ketua MWA Unhas Prof Basri Hasanuddin, mengatakan tiga calon yang terpilih selanjutnya akan memperebutkan 19 suara dalam pemilihan berikutnya. Hanya saja, belum adanya satu suara keterwakilan mahasiswa dan Prof Dwia, maka dipastikan MWA hanya punya 17 suara.
“Kita sudah upayakan ada suara mahasiswa, tapi hingga kini belum diputuskan. Bisa jadi hanya 17, karena Prof Dwia tidak boleh memilih meskipun anggota MWA,” jelasnya.
Proses pemilihan rektor selanjutnya, menurut Basri, akan dilakukan pada bulan Maret. Sebab masih ada tahapan lagi yang harus diselesaikan. Sehingga pada bulan April sudah ada rektor terpilih. Selanjutnya dilaksanakan pelantikan pada tanggal 19 April. (ita/rus)
Prof Dwia Masih Terkuat di Unhas
×

