pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

”Mereka Mengalami Kelainan Gen, Ingin Berbaur ke Kita”

MENGUBAH persepsi masyarakat terhadap perilaku serta kebiasaan orang tidaklah mudah. Perlu penelitian yang mendalam dan ditinjau langsung keberadaannya. Hal yang cukup sulit, namun inilah yag dilakukan Rezky.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SEBELUM menuju tempat tinggal orang-orang To Balo, banyak mitos yang beredar di kalangan masyarakat tentang mereka. Masyarakat setempat pun meyakini bahwa kelainan kulit orang-orang To Balo sebagai kutukan dewa.
Rezky mengatakan, berdasar penuturan salah satu sumbernya di sana, alkisah suatu hari ada satu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Namun mereka tidak hanya menyaksikan peristiwa tersebut. Tapi juga menegur dan mengusik tingkah laku kedua kuda itu.
Maka Sang Dewa pun marah, hingga akhirnya mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang atau belang. Lantaran malu dengan keadaan kulitnya yang belang, keluarga itupun memilih untuk hidup di pegunungan nun jauh dari keramaian.
Ada juga cerita versi lain. Para kelompok To Balo yakin jika manusia dan kuda turun bersama dari langit kala bumi pertama diciptakan. Artinya, hewan berkaki empat itu bersaudara dengan manusia.
Padahal faktanya tak seperti itu. Kelainan yang dialami masyarakat To Balo hingga saat ini bukanlah penyakit, melainkan gen bawaan. Dengan kata lain, belang atau bercak di badan mereka memiliki sifat turun temurun dari leluhurnya yang mempunyai gen dominan.
Artinya, saat pria dan wanita keturunan To Balo meresmikan pertalian hubungan perkawinan dan mempunyai regenerasi To Balo pula, maka sudah pasti salah satu diantara keduanya mempunyai gen dominan pada anaknya.
Selama berada di wilayah penelitiannya, Rezky menjelaskan bahwa orang-orang To Balo membantah jika mereka dikatakan sebagai sebuah suku. Mereka hanyalah sebuah keluarga besar yang turun menurun mewarisi gen langka ini.
Orang-orang To Balo kini berjumlah sekitar 30-an orang. Mereka terdiri dari beberapa keluarga yang sebenarnya masih saling memiliki ikatan keluarga satu sama lain. Namun dari jumlah keseluruhan itu, ternyata tidak semua yang berkulit belang. Yang memiliki kulit belang sampai saat ini hanya sisa enam orang.
“Inilah mereka yang masih terlihat sulit berbaur dengan masyarakat. Berbeda dengan yang tak memiliki belang,” ucap Rezky.
Orang-orang To Balo, dikatakan Rezky, juga tak terlalu memisahkan diri dari pemukiman warga setempat. Hanya saja kondisi wilayahnya di sana yang masih berupa perkampungan yang dikelilingi hutan. Makanya, letak antara satu rumah dengan yang lainnya tampak berjarak cukup jauh.
“Warga di luar sana memang seakan menganggap To Balo berbeda. Namun jika kita lihat beberapa warga sekitar dan orang-orang To Balo sendiri, mereka tak sedikitpun terlihat seakan ingin memisahkan diri ataupun tak mau berbaur. Justru malah sebaliknya,” tambah Rezky.
Dari hasil pengamatan serta penelitiannya, Rezky hanya ingin menyampaikan bahwa To Balo tidak seperti anggapan kebanyakan orang. Keprihatinannya pun membuahkan hasil pada kesimpulan yang kuat untuk meyakinkan masyarakat, bahwa orang-orang To Balo juga ingin seperti kebanyakan orang normal lainnya.
Rezky menyimpulkan bahwa ternyata orang-orang To Balo juga sangat ingin berbaur dengan masyarakat lain. Bahkan salah seorang To Balo yang ia wawancarai, mengatakan sangat berharap jika masyarakat sekitar bisa membuka diri akan keberadaannya.
“Mereka bukan suku. Mereka itu hanya mengalami kelainan gen. Juga tidak menutup diri dan ingin berbaur ke kita. Semua cerita dan mitos tentang mereka selama ini ternyata keliru. Karena itu, sayapun sangat berharap masyarakat bisa lebih memperbaiki persepsinya tentang orang-orang To Balo,” kuncinya. (*/rus/b)



×


”Mereka Mengalami Kelainan Gen, Ingin Berbaur ke Kita”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar