LAIN ladang lain belalang. Lain orang lain pula kebiasaannya. Begitu pula di kalangan birokrat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel. Tak terkecuali Annas GS, Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Selatan.
Laporan: Rahmawati Amri
ANNAS GS lahir dan besar di Kabupaten Jeneponto. Daerah ini identik dengan ternak kudanya. Tidak heran jika pria yang akrab disapa Karaeng Jalling ini tak bisa dipisahkan dengan hewan yang satu ini.
Kecintaan lelaki kelahiran Jeneponto, 27 Desember 1958 terhadap hewan tangguh itu diawali ketika dirinya duduk di bangku SMP. Saat itu, dia tinggal bersama pamannya bernama Karaeng Nuru’ yang memiliki beberapa kuda pacu.
Malah, ada beberapa kuda milik pamannya cukup terkenal di seantero Sulsel. Salah satunya adalah kuda pacu yang diberi nama Bintang Timur. Hewan itu langganan juara jika turun bertanding pada event pacuan kuda di Parang Tambung, Makassar. Mampu mengalahkan kuda-kuda tangguh milik bupati Maros dan Polmas kala itu.
Setiap hari, Karaeng Jalling diberi tugas untuk memberi makan dan memandikan kuda-kuda peliharaan pamannya itu. Secara otodidak, diapun mempelajari segala hal tentang kuda.
Setiap akan memandikan kuda-kuda pacu itu, mantan kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel ini membawanya ke Sungai Allu, Bangkala. Sambil memandikan kuda-kudanya, dia kerap bertarung pacuan kuda dengan orang-orang yang juga memandikan kudanya di sungai tersebut.
Kecintaannya terhadap kuda kian dalam ketika dirinya semakin mahir menunggangnya. Diapun kerap ikut bertanding di berbagai event pacuan kuda. Hingga dewasa dan bekerja, terangkat sebagai PNS lingkup Pemprov Sulsel, rasa cintanya tak pernah berkurang.
Ketika sudah menjadi pejabat di Dinas Perkebunan, dia mulai mengoleksi kuda. Awalnya, tiga ekor yang dipelihara. Itupun baru kuda ternak biasa.
Namun, karena selalu ikut pacuan kuda, baik di Parangtambung (Makassar), Jeneponto, hingga Polmas, dan kudanya selalu kalah dengan kuda blasteran, diapun mulai membeli kuda untuk pacuan.
“Saya selalu ikut pacuan kuda. Tapi kuda saya sering kalah lawan kuda blasteran. Saya kemudian memutuskan untuk beli kuda blasteran langsung di Manado dan Jakarta, ” ungkapnya.
Kepiawaiannya dalam berkudapun semakin terasah.
Menjelang tahun 2005, presiden waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono mengampanyekan penghematan bahan bakar minyak (BBM). Seluruh pejabat di tanah air pun memilih berbagai kendaraan alternatif bebas BBM untuk ke kantor. Seperti sepeda dan becak.
Dia memilih untuk berkuda ke kantor. Tentu saja aksi tersebut mendapat perhatian masyarakat dan menjadi sorotan media.
Saat itu, Annas GS menjabat Kepala Tata Usaha (KTU) Dinas Perkebunan. Diapun makin terkenal sebagai seorang pecinta kuda.
“Disitulah masyarakat mulai tahu jika saya ini penggemar kuda. Orang mulai kenal saya. Padahal kecintaan terhadap hewan tersebut sudah sejak kecil,” jelasnya.
Bila ada kegiatan pernikahan atau event yang membutuhkan kuda, banyak yang datang meminta izin kepada Annas untuk meminjam kudanya mengikuti berbagai prosesi seremonial. Permintaan datang dari berbagai kalangan. Hingga pihak perbankan, TNI/Polri pun kadang meminjam kuda untuk acara-acaranya.
Pernah ada kegiatan penanaman lontara di bandara, dia menurunkan sembilan ekor kudanya untuk mengawal masing-masing pohon yang akan ditanam di sana. Sembilan lontara yang dikawal itu untuk membuat tala’ salapang di bandara.
Kian lama, kuda peliharaannya berkembang dan beranak pinak. (*/rus)

