SELAIN rajin meneliti, Wahidah juga sering menjadi pembicara di beberapa konferensi dan aktif di pengabdian masyarakat. Tak heran jika anugerah sebagai dosen berprestasi mampu disandangnya. Sebagai seorang wanita, hal ini menjadi sangat luar biasa.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
AKTIFITAS sehari-harinya tergolong sangat padat. Meski begitu, semangat wanita asal asal Kabupaten Pinrang ini seakan tak pernah kendur. Kesibukan tak membuat dirinya melupakan tugasnya juga sebagai seorang ketua prodi yang harus mengurusi banyak mahasiswa. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat baik dalam hal manajemen waktu.
Banyak karya ilmiah yang telah ia tulis dan diterbitkan di jurnal. Ada yang merupakan penelitian pribadi. Sebagian dikerjakannya secara berkelompok. Bahkan ia kerap berkolaborasi dengan dosen-dosen lintas fakultas.
“Ada beberapa (karya ilmiah). Pernah sama dosen Fakultas Teknik. Pernah juga dosen Ekonomi. Termasuk dosen Fakultas Bahasa,” tuturnya.
Wahidah juga biasa menjadi pembicara dalam berbagai konferensi nasional maupun internasional. Antara lain di Makassar, Bali, Jakarta hingga Negeri Jiran Malaysia.
“Salah satunya waktu Dies Natalies UNM kemarin. Itu ada rangkaiannya konferensi internasional. Kebetulan saya menjadi pembicara di konferensi tersebut,” jelasnya.
Wahidah juga aktif di berbagai pengabdian masyarakat. Yang paling dikenal adalah pembuatan kerupuk ikan di Kabupaten Pinrang.
Berawal dari melimpahnya hasil tangkapan ikan para nelayan di Bumi Lasinrang, namun belum bisa dikelola dengan maksimal. Nelayan yang biasa langsung menjual ikan hasil tangkapannya, tak mengerti harus diapakan ikan-ikannya jika tak habis terjual.
Biasanya, ikan-ikan tersebut hanya didiamkan saja sampai membusuk. Hal inilah yang menggugah Wahidah untuk lebih memberdayaan sumberdaya ikan yang ada di sana. Daripada harus tinggal membusuk, naka idenya amatlah cocok. Yaitu membuatnya menjadi kerupuk ikan.
Wahidah mengatakan, saat ini program pengabdiannya tersebut tinggal menunggu izin produksi dan label halalnya saja. Jika itu sudah ada, maka produk hasil pengabdiannya bisa terdistribusi dengan baik. Tentu hal ini akan lebih membantu para nelayan di kampung halamannya.
Dari semua kesibukannya itu, akhirnya di tahun 2017 lalu Wahidah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai dosen berprestasi tingkat universitas. Penganugerahannya begitu spesial, karena saat itu bertepatan juga dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 tahun.
“Saya tidak menyangka juga bisa dianugerahi seperti ini. Karena banyak dosen di UNM juga yang memiliki reputasi baik. Apalagi saya melihat saingan waktu itu cukup berat. Di FMIPA sendiri banyak juga dosen yang tak kalah berprestasi, seperti dosen dari Biologi maupun Geografi. Tapi Alhamdulillah bisa terpilih,” paparnya.
Di bagian akhir wawancara, ia berucap bahwa setiap orang harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya supaya lebih produktif. Pesannya juga disampaikan untuk dosen dan mahasiswa, agar selalu bisa melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat. (*/rus/b)

