DI kesehariannya, Pak Tatang dikenal dekat dengan masyarakat. Entah itu dari kalangan atas ataupun menengah ke bawah. Tak heran jika ia kemudian begitu peka dengan isu sosial dan kemasyarakatan.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DULUNYA Hasanuddin Tahir adalah seorang penjual koran. Namun, berkat keuletannya dalam bekerja, ia pernah menjadi seorang pimpinan pada salah satu perusahaan media yang ada di Makassar.
Kedekatannya dengan masyarakat bawah ia tunjukkan dalam pergaulannya bersama para preman. Berusaha menyelami kehidupan sehari-harinya. Mencoba mencari tahu permasalahan yang dihadapi hingga memilih menjadi seorang preman.
Bahkan, Pak Tatang sempat membentuk sebuah wadah Persatuan Peminum Ballo, yang menjadikannya kontroversi. Ia beralasan bahwa organisasi yang didirikannya itu tujuannya baik. Bukan ingin membudayakan minum ballo. Melainkan memberdayakan mereka yang selama ini selalu minum ballo, agar berbuat hal-hal yang lebih positif.
Saat ini, Pak Tatang tengah berjuang untuk meyakinkan pemerintah agar mau mengakui keberadaan organisasinya. Dia merasa aneh, karena sampai saat ini seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang didatanginya belum mau mengakui keberadaan Solidaritas Eks Narapidana Indonesia (SENI).
”Apa yang saya lakukan ini semata untuk teman-teman para eks napi,” ujarnya.
Meski pengakuan itu belum ada, SENI tetap eksis membina para anggotanya. Salah satunya ditunjukkan beberapa waktu lalu. Tatang bersama anggotanya menggelar kerja bakti bersama membersihkan Benteng Somba Opu.
”Kalau dilihat sungai di bawah jembatan yang masuk ke Benteng Somba Opu biasa bersih dari enceng gondok, itu teman-teman SENI yang lakukan kerja bakti di sana. Setidaknya ini salah satu bukti kontribusi positif mereka,” terang alumni Unhas ini.
Pemberdayaan yang ia lakukan kepada para mantan napi juga tak asal-asalan. Dimulai dari pengenalan diri terlebih dahulu. Pak Tatang akan melihat apakah orang yang akan diberdayakan tersebut beragama atau tidak. Setelah itu barulah ia akan mulai pengajaran lahiriah dan batiniah.
“Kalau lahiriah itu ada tujuh hal yang perlu diajarkan. Mulai dari mata yang harus diluruskan, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, dan syahwat. Kalau batiniah, mulai dari qalbu dan rohnya,” jelasnya.
Pak Tatang juga menjelaskan bahwa tujuan mereka diberdayakan, bermacam-macam. Semua sesuai keahliannya. Ada yang menjadi security, buruh bangunan, ada juga yang jadi sopir bentor.
Hal-hal yang tak terlalu besar, namun Pak Tatang mengatakan jika itu adalah profesi yang positif setidaknya daripada berbuat kriminal kembali.
Selain itu, ia juga mencontohkan jika sudah ada beberapa mantan napi yang bahkan kini telah sukses. “Ada itu dua orang teman saya, dulu kasusnya pembunuhan, sekarang sudah ada yang jadi PNS. Ada juga yang sudah jadi pegawai bank,” katanya kembali.
Apa yang dilakukan Pak Tatang begitu positif. Ia benar-benar total memperbaiki karakter para mantan napi.
Makanya, ia berharap masyarakat bisa memandang setiap manusia tak ada yang berbeda. Termasuk mereka dengan status mantan narapidana. (*/rus/b)

