MENJADI seorang birokrat tak selamanya berkutat dengan rutinitas kantor semata. Ada banyak aktivitas lain yang bisa dilakoninya. Termasuk olahraga. Bahkan menjadi seorang pelatih karate.
Laporan: Rahmawati Amri
POSTURNYA tegap. Di usianya yang sudah melebihi setengah abad, lelaki dengan nama lengkap Ni’mal Lahamang ini tetap energik. Dia tercatat sebagai pejabat eselon II lingkup Pemprov Sulsel.
Jabatannya salah satu staf ahli gubernur. Namun posisi itu belum lama ini diemban. Sebelumnya, Ni’mal adalah Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, serta Sekretaris Dinas Bina Marga Sulsel.
Lepas dari posisinya sebagai seorang birokrat, lelaki tegas itu adalah seorang pelatih dan juri berskala internasional dalam olahraga karate.
Lelaki kelahiran Makassar, 22 April 1962 itu mulai bergelut dengan olah raga karate sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Bukan tanpa alasan sehingga dia menekuni olah raga beladiri yang satu ini.
Ayahnya, Pak Lahamang adalah seorang guru atau sensei karate yang cukup terkenal di Makassar. Ni’mal dan lima saudaranya yang lain secara langsung dilatih oleh sang bapak. Apalagi, bapaknya punya dojo atau tempat latihan karate sendiri di Jalan Andi Mangerangi. Cukup banyak yang berlatih di sana.
Dari karate, begitu banyak medali maupun piala yang telah dikoleksinya. Salah satunya pernah menjadi juara nasional tingkat mahasiswa.
Ada pengalaman menarik saat mengikut kejuaraan karate tingkat mahasiswa di Manado. Kendati mampu meraih juara II, namun karena semangat tanding yang tinggi, giginya sempat patah.
Namun itu tidak ada apa-apanya. Juga tidak menyurutkan semangat untuk terus berkarate. Pernah juga saat latihan yang cukup keras, rahangnya nyaris lepas dan terpaksa harus berurusan dengan dokter. Terkadang juga pingsan.
“Tapi saya tidak pernah kapok. Tidak gentar. Karate mengajarkan saya untuk menjadi orang yang militan, sportif, ” tegasnya.
Banyak sifat positif yang diperoleh setelah bergelut di dunia olah raga karate. Dia tumbuh menjadi pemuda yang percaya diri, mandiri, tegas, dan mental yang kuat. Setia kawan dan rasa solidaritasnya juga tinggi. Ketika ada teman sekolahnya yang diganggu, dia adalah orang yang berada di garsa terdepan untuk membela.
“Bukan berarti rewa (berani). Sepanjang teman kita benar dan diperlakukan tidak adil, kita patut membela,” ungkapnya.
Sayangnya, Ni’mal tidak terlalu fokus meraih prestasi untuk skala internasional. Dia lebih memilih untuk menekuni birokrasi. Selain itu, Ni’mal mulai menjadi pelatih.
Cukup banyak orang terkenal yang telah dilatihnya. Sejumlah guru besar alias professor di Unhas antre untuk dilatih. Nama-nama terkenal seperti Prof Lambang Basri, Prof Ahmad Gani, Prof Thamsil, hingga Prof Hatta Fattah dilatih olah tubuh melalui karate. Mereka dilatih untuk menjaga kebugaran tubuh di sela-sela kesibukan sebagai guru besar. (*/rus)

