LAGU daerah Bugi-Makassar tempo dulu memilik tempat tersendiri di naluri bermusik Moexin. Ia pun semakin tertarik untuk mengeksplornya lebih jauh. Menjadikannya sesuatu yang baru, seperti diaransemen ulang dan membuatnya go internasional.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
KALA manggung di Surabaya, keinginan tersebut terbersit di benak Moexin. Ia begitu terinspirasi untuk lebih memperkenalkan lagu Bugis-Makassar dengan arensemen yang diciptakannya sendiri.
Ia pun menghadirkan sesuatu yang baru dalam musik tersebut. Menjadikannya sebuah musik yang semakin berkualitas.
Dawai Makassar adalah album milik Moexin yang dirilis pada 2012 silam. Ia pun baru mempromokannya pada 2013 sampai 2014. Ada sembilan lagu di dalam album tersebut. Empat lagu merupakan aransemen sendiri, dan lima lagu adalah lagu daerah.
Kelima lagu daerah tersebut adalah Anging Mammiri, Ana’kukang, Bulu Alauna Tempe, Ati Raja, dan Marendeng Marampa yang merupakan lagu daerah dari Tana Toraja.
Gayung bersambut, musik Moexin mendapat tempat di hati pecinta musik Tanah Air. Tak heran jika albumnya telah menambus pasar nasional. Album Dawai Makassar telah terjual di berbagai kota di Indonesia Seperti di Jakarta, Tangerang, Surabaya, Pekanbaru, hingga Batam. Termasuk di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, seperti Parepare, Sidrap, Bulukumba, dan Makassar.
Moexin juga mengakui jika albumnya dijual secara daring. “Kita lebih gencar melakukan penjualan secara online. Seperti di iTunes dan Spotify. Supaya semua orang juga bisa melihat,” kata alumni Sastra Inggris UMI ini.
Beberapa artis pun, dikatakan Moexin, pernah berpartisipasi dalam penggarapan karyanya. Seperti Ajir T-Five dan Anto Oktav Edane. Kedua musisi ini turut berpartisipasi dalam album milik pria yang beralamat di Jalan Pampang Raya ini.
Moexin mengakui bahwa tak mudah menyelesaikan album tersebut. Ada banyak hambatan sampai ia benar-benar bisa merampungkannya. Mencari referensi terkait musik yang bisa mengglobal merupakan tantangan utamanya. Karena dalam mengaransemen, ia harus total sehingga karyanya bisa diterima secara luas.
Selain itu, waktu yang sulit diaturnya juga menjadi alasan. Sebab sehari-harinya Moexin mesti manggung di Chopper Cafe & Resto, tempat BKM mewawancarainya.
Sebelum membuat album Dawai Makassar, ternyata Moexin telah mengantongi banyak prestasi sebagai seorang musisi. Sejak tahun 1990, ia sudah mulai kerap mendapatkan penghargaan.
Pernah menjadi gitaris terbaik sebanyak tujuh kali dalam berbagai festival musik di Makassar. Bahkan sempat menjadi juara 1 di salah satu festival, yang kemudian menobatkannya sebagai gitaris terbaik se-Indonesia Timur.
Saat ini, Moexin tengah menyelesaikan album barunya yang berjudul “The String of Celebes”. Beberapa lagu daerah juga menghiasi albumnya kali ini. Salah satunya adalah ciptaannya sendiri yang berjudul Al Makassari.
“Satu lagu saya ciptakan sendiri berjudul Al Makassari. Lagunya bercerita tentang nenek moyang kita yang membawa pesan-pesan bermanfaat buat umat manusia, khususnya umat muslim,” tuturnya.
Moexin juga berharap jika albumnya kelak bisa dikenal di seluruh dunia. Juga mendapat pengakuan di kancah musik Indonesia.
“Kalau harapan untuk musik Makassar sendiri, semoga para musisi daerah ini mengangkat lagi musik yang dulu pernah hits, supaya musik Makassar bisa lebih dikenal luas,” kuncinya. (*/rus/b)

