pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ada Pembeli yang Datang dari Manado

RUSLAN yang saat ini tinggal bersama istri dan dua anaknya memiliki 20 ayam impor. Semuanya terpajang dalam kandang di depan rumahnya. Selain itu, ada juga beberapa bibit ayam impor lainnya yang sedang ia budidayakan di belakang rumah.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SEBENARNYA, Ruslan tak pernah berniat menjual ayam miliknya. Namun jika ada yang tertarik dan ingin membelinya, ia tak sungkan melepas. Makanya, hingga saat ini, yang membeli ayam miliknya adalah para rekannya saja.
Jika ingin membeli ayam milik Ruslan, harganya cukup fantastis namun masih realistis. Bervariasi. Yang paling mahal ada yang sampai Rp1,6 juta. Ada juga seharga Rp1,5 juta dan Rp1 juta. Tergantung dari besar tubuhnya.
Ada beberapa jenis ayam miliknya. Selain ayam Peru dan Filipina, ada pula ayam lainnya seperti Ayam Jet Sweater, Ayam Ninja, dan Ayam Love. Semua ia rawat setiap harinya dengan penuh cinta, layaknya merawat orang yang dicintai.
Suami dari istri bernama Salma ini tiap pagi tak lupa memberi makan ayam-ayamnya. Sesekali ia melepasnya. Tujuannya, agar hewan ternaknya itu tak merasa stres berada di dalam kandang terus.
Selain itu, kadang-kadang ia juga sengaja menjemur ayamnya. Begitupun saat sore hari, ia melakukan hal yang sama.
Pria yang saat kini bekerja di PT Menjangan, selalu saja punya waktu untuk sekadar memperhatikan ayam-ayam miliknya.
“Makanan yang dikasih ke ini ayam juga beda. Kalau ayam biasa kan dikasih makan jagung saja. Kalau ini haruspi jagung giling. Jadi sampainya besar, jagung yang sudahpi digiling baru namakan,” terangnya.
Ruslan mengaku memang telah menyukai ayam sejak kecil. Ia tak tahu pasti mengapa bisa sampai suka. Namun baginya, memelihara ayam itu mudah, tak seperti hewan lainnya. Makanya, kesukaannya itu pun ia geluti sampai sekarang.
Banyak dari rekan-rekannya yang telah membeli ayam miliknya. Setiap orang mengatakan jika ayam milik Ruslan unik, karena ayam impor hasil persilangan. Makanya, banyak teman-temannya dari Palopo, Enrekang, bahkan Manado yang sengaja menemuinya untuk membeli ayam miliknya.
Memelihara ayam ternyata ada risikonya juga. Apalagi jika datang wabah yang rentan menyerang hewan unggas. Mau tak mau hal itu tak bisa dihindari.
Seperti beberapa tahun lalu, saat wabah penyakit flu burung menyerang Indonesia. Ruslan menerima dampaknya. Dari sekitar 20-an saat itu, hanya menyisakan satu ekor saja yang hidup. Semuanya mati. Saat itu, dikatakan Ruslan, adalah waktu terburuk selama hidupnya memelihara ayam.
“Dulu waktu ada wabah flu burung, mati semua ayamku. Hanya satu yang tersisa. Buruk sekali kondisi waktu itu,” jelasnya.
Saat ini, Ruslan memang telah memikirkan untuk memperdagangkan ayamnya secara bebas. Makanya ia membuat peternakan sendiri. Itu menjadi salah satu harapannya ke depan.
“Iya, kemarin-kemarin kan belum saya perdagangkan secara luas. Nanti ini mungkin saya akan perdagangkan kalau bibit yang di belakang itu tumbuh besarmi. Walaupun mahal, ayam ini bagus. Salah satu keunggulannya, kotorannya tidak berbau,” tutup Ruslan. (*/rus/b)



×


Ada Pembeli yang Datang dari Manado

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar