pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ayah Bunuh Balitanya Gegara Kencing

GOWA, BKM — Sungguh malang nasib Abd Mufid. Bocah berusia 4 tahun 7 bulan ini harus menemui ajal di tangan ayah kandungnya sendiri. Sang balita tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh penuh lebam dan luka terbuka.
Mufid diketahui sudah tak bernyawa, Sabtu (5/6) sekitar pukul 19.00 Wita ketika berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekeh Yusuf, Gowa.
Kepergian untuk selama-lamanya bocah yang bertempat tinggal di Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, tak jauh dari Pondok Pesantren Darul Istiqomah, Dusun Tabbusalaya ini awalnya disebutkan gegara terjatuh dari motor. Hal itu sesuai pengakuan ayahnya Hasan Basri (29).
Menurut Hasan, anaknya tiba-tiba jatuh dari boncengan sekembalinya dari jalan-jalan di Pantai Losari, Makassar. Saat melaju di Jalan Tun Abdul Razak, tak jauh dari Masjid Cheng Ho, Hasan Basri mengerem motornya secara tiba-tiba. Saat itulah Mufid terjatuh.
Ketika bocah malang itu dibawa ke rumah sakit, terungkap fakta yang mencengangkan. Terdapat banyak lebam serta luka di tubuhnya. Tidak seperti luka orang usai jatuh dari motor.
Mendapati kejanggalan serta adanya banyak luka pada diri korban, aparat Polres Gowa berkoordinasi dengan petugas medis rumah sakit. Pemeriksaan terhadap luka yang diderita almarhum pun dilakukan.
Saat jenazah Mufid dibawa dari RS ke rumah duka di Pattalassang untuk disemayamkan, petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), SPKT dan Kasat Reskrim Polres Gowa ikut menyertai keluarga korban. Di sini polisi kemudian mengumpulkan informasi tentang penyebab kematian anak laki-laki tersebut.
Hasan Basri selaku ayah korban juga diinterogasi. Awalnya, ia memberi informasi bahwa pada Sabtu pagi dia membawa anaknya ke Pantai Losari menggunakan motor. Sepulangnya pada siang hari, di Jalan Tun Abd Razak, Hasan Basri mengaku mengerem mendadak sehingga anaknya terjatuh.
Sementara menurut petugas medis RS Syekh Yusuf, bocah Mufid yang dibawa sang ayah ke rumah sakit pada pukul 14.00 Wita, sudah meninggal dunia. Korban sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Pattallassang.
Karena adanya kejanggalan, mayat Mufid kemudian diotopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, Minggu (6/5).
”Kami belum terima hasil otopsinya dari RS Bhayangkara. Kalau sudah ada, nanti kita rilis,” ujar Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga, kemarin.
Ia juga mengklarifikasi bahwa lokasi kejadian bukan di pesantren, seperti informasi yang banyak beredar. ”Kejadiannya di luar rumah. Kasusnya kita akan kembangkan guna memastikan motif sebenarnya kematian korban,” tandas AKBP Shinto.
Kapolres menambahkan, pihaknya masih mendalami pengakuan terduga pelaku. Apalagi didapat informasi dari pihak keluarga, bahwa Hasan Basri kerap bertindak keras kepada anaknya.
“Motifnya masih didalami. Yang kami lakukan adalah pendekatan penyelidikan ke scientific investigation, sehingga kami berpedoman pada hasil otopsi. Bukan keterangan subjektif Hasan Basri,” jelas Kapolres.
Informasi yang diperoleh, pada Jumat (4/5), Hasan disebutkan mencubit korban pada sekujur tubuhnya. Ia diduga kesal terhadap kelakuan Mufid yang mengencingi celananya.
Mutmainnah, ibu korban yang ditemui, mengaku melihat tubuh anaknya sudah penuh lebam ketika pulang dari pantai. ” Tidak tahu juga kenapa. Pas pulang ke rumah, sudah banyak lebam di badannya. Mukanya juga,” ujarnya dengan nada sedih.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani yang dikonfirmasi, Minggu (6/5) mengaku telah mendapat informasi tentang peristiwa tersebut dari Polres Gowa. Menurutnya, bocah Mufid diduga dibunuh oleh bapaknya sendiri.
”Dari hasil penyelidikan dan oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP), petugas Polres Gowa berhasil mengungkap penyebab kematian korban. Dia diduga dianiaya oleh ayahnya sendiri gegera dikencingi. Korban digigit pada pipinya dan juga dicubit hingga menyebabkan banyak lebam di tubuhnya,” terang Kombes Dicky.
Kabid Humas membenarkan jika Hasan Basri sebelumnya sempat berkelit tentang penyebab kematian putranya. ”Bapaknya mengaku anaknya jatuh dari motor saat dibonceng. Saat itu kepala korban terbentur aspal jalanan,” jelas Dicky lagi.
Dihubungi kembali semalam, Kapolres Gowa menegaskan bahwa penyidik telah menetapkan Hasan Basri sebagai tersangka atas meninggalnya Abd Mufid, anak kandungnya.
Peningkatan status Hasan Basri ini dilakukan setelah ia terang-terangan mengakui menyiksa korban dengan cara menganiayanya, yang menyebabkan hampir sekujur tubuh anak malang itu lebam dan luka-luka.
”Tersangka dijerat Pasal 80 ayat (3) UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yaitu melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan anak meninggal dunia dengan ancaman pidana 15 tahun penjara,” jelas Kapolres Shinto.

Perlu Tes Kejiwaan

Dosen Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) Widyastuti, mendorong untuk dilakukannya tes kejiwaan terhadap ayah yang menghabisi nyawa anak kandungnya. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tua hingga tega mencubit dan menggigit anaknya sendiri sampai meninggal dunia.
“Miris juga mendengar kejadian itu. Harus dilakukan tes kejiwaan ke bapaknya ini. Kenapa sampai begitu tega menghukum anaknya dengan cara seperti itu, walau hanya persoalan ia dikencingi. Ini anaknya lho, bukan anak orang lain,” kata Widyastuti melalui sambungan telepon selular, Minggu (6/5).
Wanita yang karib disapa Widya ini, juga menyarankan perlunya diselidiki latar belakang keluarga korban. Kemungkinan sang ayah mengalami beberapa masalah yang menyebabkan emosionalnya terganggu. Seperti persoalan keterbelakangan sosial, usai meminum alkohol, ada masalah keluarga atau memiliki riwayat kesehatan jiwa.
“Ada banyak alasan kenapa orang tua melakukan itu. Entah ayahnya memang memiliki riwayat emosional yang tinggi, sehingga tidak dapat mengontrol dan anaknya jadi sasaran. Atau bisa ada masalah lain,” jelasnya.
Belum lagi, tambahnya, saat ini didikan orang tua ke anak banyak yang salah kaprah. Orang tua menilai jika menghukum anaknya dengan keras, mereka akan patuh dan tidak lagi berbuatnakal. Persepsi tersebut, menurut Widya, sangatlah salah.
”Bisa saja sosok ayahnya ini didik dulu sangat keras jika berbuat salah, kemudian ia terapkan ke anaknya saat ini. Padahal bocah umur 4 tahun ini sedang berkembang otaknya. Ia akan merekam kejadian baik dan buruk yang diajarkan orangtuanya,” terangnya.
Widya menduga Hasan Basri saat ini mengidap daddy blues syndrom. Tidak hanya menimpa ibu kandung, tapi juga ayah kandung.
“Anaknya ini kan baru berumur 4 tahun. Bisa jadi ayahnya ini mengalami variabel daddy blues sindrom, yaitu peyakit ketidakmampuan ayah dalam beradaptasi dengan perannya sebagai ayah, yang juga bisa mengarah pada depresi atau Paternal Postnatal Depression (PPND) atau yang bisa disebut postpartum depression. Jadi harus diperiksa dulu, apakah bapak ini dalam keadaan sehat atau sakit dan berapa jumlah anaknya. Jangan sampai semua anaknya dia perlakukan seperti itu, kasihan,” tandasnya. (sar-ish-ita/rus)




×


Ayah Bunuh Balitanya Gegara Kencing

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar