MAKASSAR, BKM — Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, menilai pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuang Baji masih lamban. Komentar itu dikemukakan usai melakukan kunjungan ke RS tersebut, Jumat (11/5).
Menurut Soni, setelah melihat sistem yang diterapkan RS Labuang Baji, mulai dari pendaftaran hingga pemeriksaan, dia melihat masih ada kekurangan di tingkat pendaftaran.
Rumah sakit yang telah menghabiskan anggaran hingga Rp65 miliar, bahkan totalnya hingga Rp170 miliar untuk rehabilitasi itu, masih menerapkan pelayanan manual yang berdampak pada antrean tunggu pasien menjadi sangat lama.
Sumarsono berharap, dengan anggaran yang dikucurkan, RS Labuang Baji dapat memanfaatkan teknologi yang berkembang untuk mempersingkat waktu administrasi pelayanan publik.
“Kita bisa manfaatkan KTP elektronik itu. Saya mau melihat sistem, mulai dari pendaftaran sampai dengan pemeriksaan bisa lancar. Sekarang sudah berbasis eletronik, sudah tidak perlu dibaca. Ada track langsung scan,” ujarnya.
Sumarsono berharap, apabila pengerjaan proyek pembangunan gedung sudah rampung, maka RS Labuang Baji disetarakan dengan RS swasta lainnya.
“Mimpinya seperti itu. Hanya dimungkinkan kalau sarana dan prasarananya bagus. Terus kemudian juga tenaga SDMnya berkecukupan dari segi kualitas. Saya yakin itu bisa. Sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Itu melebihi rumah sakit swasta,” ungkapnya.
Sumarsono juga ingin semua rumah sakit naungan Pemerintah Provinsi Sulsel dapat bersinergi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) terkait perekaman singel identity number.
“Chip yang bisa kebaca data, sehingga konek dan rumah sakit ini akan konek dengan e-KTP mulai golongan darah riawayatnya apa, itu sudah terecord semua. Nanti pendaftaran cukup hanya lima menit,” paparnya.
Sebelumnya, beberapa gedung baru RS Labuang Baji telah diresmikan. Di antaranya ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD), instalasi rawat jalan yang memiliki 20 poliklinik, ruang Intensif Care Unit (ICU) dan CVCU untuk perawatan khusus penyakit jantung. Turut diresmikan juga ruang operasi yang memiliki kapasitas delapan ruangan.
Sementara untuk gedung kedua merupakan ruang perawatan ibu dan anak. Dan satu gedung lagi renovasi untuk pelayanan CT scan bagi pasien penderita stroke hingga tumor, serta pelayanan hemodialisis atau cuci darah.
Direktur RSUD Labuang Baji dr Mappatoba menjelaskan, gedung baru yang diresmikan 12 Maret lalu itu menghabiskan anggaran hingga Rp43,2 miliar. Sumbernya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2017 dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2017 dengan total Rp43,2 miliar.
Untuk tahap dua, kata Mappatoba, anggarannya sudah siap. Bersumber dari APBD dan DAK dengan nilai total sebesar Rp47 miliar.
“Untuk proses lelang dan pengerjaannya, kita serahkan ke ULP. Diharapkan bisa dikerja secepatnya dan rampung pada Oktober atau November mendatang,” kata Mappatoba. (rhm/rus)
Soni Sebut Layanan RS Labuang Baji Lamban
×

