MAKASSAR, BKM — Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan meningkatkan pengamanan pascaledakan bom pada tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5). Khusus di Kota Makassar, sedikitnya 2.507 personel yang dikerahkan untuk memperketat penjagaan 153 gereja.
Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar Kombes Pol Irwan Anwar bersama Karo Ops Polda Sulsel Kombes Pol Stephen Nauri, serta Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Sulsel Kombes Pol Adeni Muhan, turun langsung memantau gereja yang ada di kota ini. Di antaranya Gereja Katedral dan Gereja Mariso.
”Kami sengaja turun memantau gereja untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat Kota Makassar. Terutama bagi jemaat kebaktian pada hari Minggu ini. Untuk pengamanan ibadah umat Kristiani pada siang, sore hingga malam hari di 153 gereja, kita turunkan 2.507 personel,” ungkap Irwan Anwar, kemarin.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, menjelaskan bahwa sejak terjadinya kericuhan di Markas Komando (Mako) Brimob Kepala Dua, siaga satu diberlakukan di Sulsel. Menyusul peristiwa ledakan bom pada tiga gereja di Surabaya, pihak kepolisian di daerah ini semakin meningkatkan pengamanan.
Menurut Dicky, pengamanan dan pengawasan dilakukan bersama unsur TNI. Saat ini, intelejen kepolisian dan TNI terus melakukan deteksi di tengah-tengah masyarakat agar keberadaan teroris bisa diketahui.
Ia juga berharap peran serta semua elemen masyarakat. Khususnya di tingkat kelurahan dan desa, agar bisa mendeteksi setiap aktifitas mencurigakan di wilayahnya masing-masing. Di tingkat RT/RW pun harus terlibat dalam pengawasan pergerakan teroris itu.
“RT/RW harus mengetahui siapa-siapa saja warganya. Kalau ada orang baru harus ditahu asalnya dari mana dan mereka mau bikin apa. Kalau ada mencurigakan, segera laporkan,” ucap Dicky.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Masjid Musallah Indonesia Muttahidah (DPP IMMIM) Prof Sewang, sangat prihatin terhadap aksi terorisme yang terjadi di Surabaya. Dia menegaskan, semua aksi kekerasan tidak boleh dilakukan oleh seluruh umat beragama. Apalagi oleh umat Islam yang menjunjung tinggi akhlak rasulullah yang mencintai kedamaian.
Dia mengaku cukup miris melihat apa yang telah terjadi, dan mengutuk keras orang-orang yang sudah menebar aksi teror di bumi Indonesia.
“Perbedaan pendapat dalam Islam adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh dipecah belah,” ungkap Prof Sewang, Minggu (13/5).
Dia melanjutkan, seharusnya kita mencontoh Rasulullah SAW yang menghargai perbedaan. Ketika ada seorang Yahudi yang meninggal, Nabi Muhammad Saw tetap menghormati atas dasar kemanusiaan.
“Seharusnya kita mencontoh Nabi Muhammad yang menaklukkan orang dengan akhlakul karimah. Bukan dengan menakut-nakuti atau meneror orang-orang. Apalagi kita hidup di bumi Indonesia dengan beragam perbedaan, budaya, agama, dan latar belakang,” terangnya.
Kata guru besar sejarah dakwah UIN Alauddin Makassar ini, sudah menjadi kodrat manusia sejak lahir ada perbedaan antara satu dengan yang lain.
“Siapa yang tidak menghargai perbedaan, menghargai toleransi, tidak berhak untuk hidup di bumi Indonesia. Perbedaan itu adalah rahmat, ” tegasnya.
Dia melihat memang ada kecenderungan mashab, aliran, atau sekte tertentu yang merasa paling benar. Namun sejauh ini, pemerintah dinilai belum tegas dalam menyikapi persoalan tersebut.
Kepada seluruh umat muslim, khususnya yang ada di Sulawesi Selatan, dia mengimbau agar tetap menjaga solidaritas antarsesama. Menjaga kedamaian, saling menghargai serta berpegang tangan untuk menghadirkan rasa aman dan tenteram di tempat kita berpijak.
Khawatir dan Prihatin
Peristiwa pengeboman gereja di Surabaya menimbulkan keresahan bagi umat Kristiani di Makassar. Mario David, salah seorang tokoh Kristiani di kota ini menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinannya atas peristiwa berdarah tersebut. Langkah antisipasi harus segera dilakukan agar peristiwa yang terjadi di Surabaya tidak terulang di kota lain, khususnya Makassar.
”Kami mengecam perbuatan itu (pengeboman gereja di Surabaya). Tega-teganya mereka melakukannya. Padahal yang datang itu mau beribadah. Tidak mengganggu agama lainnya, kan,” ujar Mario David, Minggu (13/5).
Anggota DPRD Makassar ini menyebut, pelaku pengeboman adalah orang yang tidak ingin melihat Indonesia aman. Karenanya, Mario David berharap aparat bisa lebih meningkatkan pengawasan dan pengamanan.
”Tindakan seperti ini sangat tidak pantas dan saya mengecamnya. Kita mohonlah untuk saling menghormati,” imbuhnya.
Erick Horas, legislator Makassar lainnya berharap agar peristiwa pengeboman gereja di Surabaya tidak berdampak buruk terhadap aktivitas ibadah umat Kristiani di kota ini.
”Dengan kejadian di Surabaya, aparat di Makassar agar lebih memperketat pengamanan. Khususnya di rumah-rumah ibadah. Bukan hanya di gereja, tapi juga rumah ibadah lainnya,” ujar wakil ketua DPRD Makassar dari Partai Gerindra ini.
Ledakan bom, kemarin menyasar tiga gereja yang ada di Kota Surabaya. Masing-masing Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro dan GPPS Sawahan di Jalan Arjuna. Belasan orang disebutkan meninggal, dan puluhan lainnya terluka dalam peristiwa ini. (mat-ita-rhm/rus)

