MAKASSAR, BKM — Zakaruddin, guru olahraga SMA Negeri 1 Makassar kini terbaring lemah di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Dr Wahidin Sudirohusodo, Tamalarea. Ia kritis dan sadarkan usai dianiaya oleh kakak iparnya, yang hingga kemarin masih dalam pengejaran aparat kepolisian.
Tak pernah ada yang menyangka mantan kepala SMAN 1 Makassar itu akan jadi sasaran penganiayaan. Apalagi oleh kerabatnya sendiri. Sebab, korban selama ini dikenal sopan dan lemah lembut.
BKM datang ke ruang IGD tempat Zakaruddin dirawat, Minggu (29/7). Ahmad, putra kedua korban menemani bapaknya bersama keluarga lainnya.
Menurut penuturan sang anak, peristiwa yang menimpa ayahnya terjadi pada hari Sabtu pagi (28/7). Saat itu korban tengah beraktifitas di depan rumahnya Jalan Sermani, Kecamatan Panakkukang, sepulang salat subuh di masjid. Ia berolahraga ringan dan menyapu taman.
Kira-kira pukul 08.00 Wita, datang seorang pengendara motor yang mengenakan helm berpenutup muka (full face) dan berjaket tebal. Tiba-tiba saja dia menyerang korban.
”Adik saya yang bungsu berada di luar rumah dan sempat melihat bapak dipukul. Pelakunya sempat mau menabrak bapak dan hendak memukuli kepalanya dengan besi. Adik saya langsung mengambil batu untuk memukul pelaku. Dia juga berteriak memanggil saya yang ada di dalam rumah,” terang Ahmad.
Karena usahanya membela sang ayah, anak bungsu Zakaruddin terluka di bagian kaki. ”Kalau saya tidak cepat keluar, bisa lebih gawat lagi. Saya juga melawan dan sempat lihat mukanya pelaku, walaupun dia tutupi pakai helm. Saya mau kejar, tapi tidak sempat. Karena saya lihat bapak sudah mengeluarka banyak darah,” jelas Ahmad lagi.
Anak kedua Zakaruddin ini juga mengalami luka di bagian hidung dan harus diperban karena terkena besi. Pukulan itu ia terima kala membela ayahnya yang sudah tak berdaya dianiaya pelaku.
”Kita sudah lapor ke Polsek Panakkukang. Sekarang pelaku masih dicari. Tapi kita mengarah ke sana (kakak ipar Zakaruddin). Karena saya lihathji, walaupun dia tutup pakai helm,” beber Ahmad.
Di tempat yang sama, anak sulung Zakaruddin yang enggan disebutkan identitasnya, menjelaskan lebih detail tindakan pelaku terhadap korban. ”Motor pelaku melaju kencang dan datang dari arah belakang. Kendaraannya langsung menabrak kaki kiri bapak, hingga kemudian tersungkur ke tanah,” terangnya.
Tak puas dengan perbuatannya, pelaku turun dari motor sambil memegang sepotong besi. Kemudian diayunkan tepat di belakang kepala korban.
”Mungkin rencana awalnya pelaku mau tabrak saja bapak. Setelah itu melarikan diri. Tapi sepertinya rencananya tidak bagus, sehingga turun dari motornya dan memukul kepala bapak. Dua adik saya sempat melakukan perlawanan hingga akhirnya pelaku pergi,” jelasnya.
Baik Ahmad maupun kakaknya tidak mengetahui motif dari perbuatan sadis omnya tersebut. Namun, sebelumnya diketahui pelaku pernah terlibat beberapa kali tindak penganiayaan terhadap istrinya, yang tak lain adalah kakak Zakaruddin. Bahkan sempat menikmati dinginnya dinding sel tahanan.
”Kita juga tidak tahu apa masalahnya. Pelaku ini sudah beberapa kali diproses di kantor polisi karena kasus yang sama. Terakhir itu, pas habis lebaran lalu (Idul Fitri), ditahan karena dilapor menganiaya istrinya. Waktu itu bapak yang mediasi sehingga tidak diproses. Untuk kasus sekarang, saya tidak tahu apa motifnya,” jelas anak Zakaruddin.
Dari pantauan BKM di IGD RSU Wahidin, Minggu siang (29/7), Zakaruddin yang terbaring tak sadarkan diri tampak dibantu alat pernafasan. Ia disebutkan mengalami mati klinis, atau bisa disebut kematian semua organ tubuh. Pada bagian kepala selalu mengeluarkan darah.
”Kata dokter yang menanganinya, bapak mengalami mati klinis. Sistem sarafnya sudah tidak berfungsi. Terus, pernafasannya juga masih dibantu. Dokter tidak bisa mengambil tindakan. Karena dari hasil CT scan, dokter sarafnya bilang melemah. Bahkan tadi malam (Sabtu malam) kondisinya sempat drop. Kalau tetap dilanjutkan untuk operasi saraf, maka kecil peluangnya bapak. Sekarang yang dilakukan adalah melakukan pengecekan, ada respons atau tidak,” terangnya.
Ahmad beserta keluarga yang lain berharap ayahnya bisa bertahan dan melewati kondisi kritisnya saat ini. Selain itu, pelaku bisa ditangkap dan mendapatkan ganjaran hukum yang setimpal dengan perbuatannya.
”Sepertinya pelaku sudah merencanakan untuk menganiaya bapak. Dia sudah membekali dirinya dengan membawa besi saat melakukan penyerangan,” tandasnya.
Dihubungi terpisah, kemarin, Kapolsek Panakkukang Kompol Ananda Fauzi Harahap membenarkan adanya laporan keluarga korban yang masuk. Penganiayaan diduga dilakukan oleh kakak ipar korban.
Informasi yang diperoleh kapolsek, aksi penganiayaan yang dilakukan pelaku karena menduga korban menyembunyikan istrinya.
“Korban dituding oleh pelaku telah menyembunyikan istrinya. Hingga akhirnya pelaku menganiaya korban hingga tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit,” jelas Ananda.
Hingga kemarin, menurut perwira satu bunga melati di pundaknya ini, pelaku masih dalam pengejaran. (ita-ish/rus)
Guru SMAN 1 Kritis Dianiaya Ipar
×

