MAKASSAR, BKM — Senin pagi (3/9) di Jalan HOS Cokroaminoto. Ratusan personel pengamanan berseragam lengkap terlihat. Sebagian dari Polres Pelabuhan. Sebagian lainnya anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Makassar.
Mereka bersiap mengawal relokasi para pedagang pasar sentral yang selama ini berjualan di lapak sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan KH Agus Salim, dan KH Wahid Hasyim.
Namum, upaya tersebut sempat mendapat perlawanan dari ratusan pedagang pasar. Mereka juga telah bersiap menghalangi upaya relokasi. Para pedagang pun telah berkumpul di beberapa titik sekitar Pasar Sentral demi menyuarakan aspirasinya.
Sekitar pukul 10.30 Wita, pasukan pengamanan yang bertugas mulai dihadang di Jalan HOS Cokroaminoto, depan PT Hadji Kalla. Setelah melakukan perundingan kurang lebih setengah jam lamanya, pasukan pengamanan dan para pedagang bersepakat. Petugas hanya sekadar memeriksa apakah beberapa lapak di sana telah kosong atau masih ditempati pedagang.
Setelah berkeliling memantau, ribuan Satpol PP mulai berjaga kembali pada sore harinya. Mereka lagi-lagi dihadang oleh puluhan pedagang yang melakukan aksi demonstrasi menolak relokasi.
Zainuddin selaku perwakilan Asosiasi Aliansi Pedagang Makassar Mal, mengatakan bahwa semua pedagang telah mengatakan jika mereka menolak relokasi. Alasannya, karena harga yang dipatok pemerintah dalam penempatan di New Makassar Mal (NMM) terlalu tinggi.
Zainuddin mengatakan, harga yang dipatok untuk membeli lapak di dalam NMM per meternya mencapai Rp100 juta. Angka tersebut dinilai terlalu mahal dan memberatkan bagi para pedagang. Padahal mereka sudah melakukan pertemuan dengan pemerintah untuk membahas harga yang lebih murah.
“Yang kita mau itu SK harga sudah keluar. Karena kita sudah lakukan pertemuan dengan pemerintah. Harga harga per meter yang disepakati itu Rp42.158.000. Bukan seperti sekarang, yang bahkan satu centimeter sampai Rp1 juta,” cetus Zainuddin.
“Makanya, kami tolak relokasi. Karena yang direlokasi itu yang nakal. Nah, kita ini kalau sudah sepakatki harga, akan kita bongkar sendirimi lapakta. Maumaki tempati di dalam. Kita cuma tidak mau dipermainkan seperti ini,” tambahnya.
Setelah dilakukan perundingan kembali, akhirnya tak ada lapak yang dibongkar. Relokasi pun tak jadi dilaksanakan.
Upaya penertiban ini sepertinya masih lunak. Personel pengamanan yang dikerahkan hanya melakukan penjagaan tanpa melakukan gerakan dan aksi pembongkaran lapaksemi permanen di Jalan Wahid Hasyim. Padahal, target relokasi pedagang yang diberikan Penjabat Gubernur Sulsel yakni awal minggu pertama bulan ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar Naisyah T Azikin mengatakan, apa yang dilakukan di sekitar gedung NMM untuk mengingatkan pedagang agar mengosongkan lapak ataupun kios jualan di Jalan Wahid Hasyim. Tujuannya untuk mengambil alih fungsi jalan.
“Ratusan personel Satpol PP Makassar dan polisi untuk membantu pedagang memindahkan barang-barang milik pedagang yang ingin masuk mengisi kios dan losd dalam gedung. Ini sementara pemindahan. Sudah ada pedagang yang pindah masuk dalam gedung. Surat pemberitahuan sudah ada kita sampaikan. Surat pemberitahuan untuk pengembalian fungsi jalan,” terang Naisyah di gedung NMM, kemarin.
Untuk merampungkan pengosongan aktivitas pedagang dan pengembalian fungsi Jalan Wahid Hasyim, menurut Naisyah, ditargetkan 5 September mendatang. Apalagi harga kios dan lods telah disepakati bersama.
“Tidak ada kendala. Kami target 5 September sudah selesai semuanya untuk pengembalian fungsi jalan,” tambahnya.
Bagian Humas PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) Imran Bachtiar menuturkan, sudah banyak pedagang di Pasar Sentral Makassar yang setuju dan menyepakati harga kios dan lodd. Dapat dibuktikan dengan ramainya para pedagang mengambil kios dan lodd dengan membayar uang muka dan melunasi.
“Hukum dagangnya seperti ini, kalau banyak yang bayar uang muka atau panjar, apalagi sampai melunasi, artinya harga sudah disetujui. Sementara dari 1.800 pedagang resmi yang ada, 80 persen sudah membayar uang muka dan ada melunasi. Itu kan berarti semua setuju dengan harga,” lanjutnya.
Bagi pedagang baru, tambah Imran, diberikan kios dan lods di lantai 2 dan 3. Dan pedagang resmi yang lama berada di lantai satu. Harga kios dan lods bergantung letak atau lokasi tempat.
“Pedagang di Jalan Wahid Hasyim ada 164 orang. Dari jumlah itu, pedagang resmi ada 87. Sisanya pedagang kakilima,” terangnya.
Saat proses relokasi berlangsung, ada beberapa pedagang yang memutuskan untuk mengangkut barang jualannya pulang ke rumah. ”Angkat barang saja sebelum dihancurkan. Selamatkan saja semua barang-barang,” ungkap Naysa, salah seorang pedagang.
Nasya mengaku tidak bisa lagi berjualan di NMM karena tingginya harga yang diterapkan oleh pengelola. ”Kami hanya pedagang kecil. Bukan yang besar. Saya cuma jualan obat-obatan, jamu dan madu. Sewanya saya tidak sanggup. Pedagang seperti saya banyak jumlahnya. Saya bersaudara sama-sama jualan di sini ada empat stand,” keluhnya.
Hal serupa dilakukan Fauzi. Penjual sendal dan sepatu ini lebih memilih mengangkut barang jualannya, diantar pulang dan memikirkan nasib serta dagangannya.
”Tidak ditaumi di manaki lagi mau menjual. Sekarang ini lebih baik angkat barang saja,” cetusnya.
Sekolah Tetap Beraktifitas
Dinas Pendidikan (Disdik) Makassar menjamin aktivitas belajar dan mengajar di sekolah-sekolah sekitar lokasi NMM tetap berjalan lancar dan baik, tanpa gangguan akibat dari relokasi dan penertiban pedagang Pasar Sentral.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Disdik Makassar Ahmad Hidayat mengaku, pihaknya belum mendapatkan laporan adanya sekolah diliburkan karena aliran listrik terputus. Utamanya sekolah-sekolah yang berada tak jauh dari Pasar Sentral.
“Belum ada laporan masuk adanya sekolah dekat Pasar Sentral diliburkan karena ikut merasakan aliran listrik terputus. Pasti pihak sekolah melaporkan kalau kondisi itu benar-benar terjadi. Tapi sampai sekarang ini kami belum terima laporan dan semua sekolah tidak ada libur hari ini,” ujar Hidayat, Senin (3/9).
Dia meminta pihak sekolah untuk tidak sekali-kali berani mengambil sikap meliburkan aktivitas di sekolah, apalagi karena alasan mati lampu. Perlu ada penyampaian dan koordinasi ke Disdik Makassar setiap aktivitas sekolah.
“Saya berharap pemutusan aliran listrik tidak berimbas ke sekolah-sekolah. Kalaupun terjadi, pihak sekolah harus menyampaikan ke Disdik Makassar. Hari ini (kemarin) tidak ada sekolah yang libur, baik SMP dan SD di Kota Makassar,” tambahnya. (arf-nug-jun/rus)

