MAKASSAR, BKM — Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah-Andi Sudirman telah tiba di Makassar, Kamis (6/9). Keduanya kembali sehari pascadilantik di Istana Negara, Jakarta oleh Presiden RI Joko Widodo.
Penyambutan dipersiapkan untuk kedua pemimpin baru Sulsel itu sejak dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. ASS beserta keluarga tiba lebih awal. Ia disambut Penjabat Sekretaris Provinsi Sulsel Tautoto Tana Ranggina.
Selang satu jam kemudian, Nurdin Abdullah beserta keluarga juga tiba. Tidak sempat transit ke Lounge VIP Pemprov, Nurdin diikut ASS langsung keluar bandara.
Namun sebelum meninggalkan tempat itu, keduanya disuguhkan tarian Padduppa. NA juga melakukan ritual pemecahan kendi.
Keduanya langsung menuju Rumah Jabatan Gubernur, Jalan Sungai Tangka. Di tempat ini sudah menanti ribuan relawan, tim sukses, dan masyarakat umum. Mereka berkumpul di halaman rujab.
Sebelum menemui para pendukungnya, NA transit di rujab guna menunaikan salat dhuhur terlebih dahulu. Setelah itu, keduanya secara bersama-sama menemui ribuan orang yang telah menunggu. Euforia kebahagiaan dan kemenangan menyelimuti rujab.
Prof Andalan, sapaan akrab NA diberi kesempatan berorasi pertama.
Dia mengatakan, bersama wagub, dirinya akan menghadapi banyak pekerjaan besar. Itu akan berat jika masyarakat tidak bersatu. Dia berharap penyakit pilkada, yakni kekecewaan tidak menjangkiti masyarakat. Itu akan diperbaiki dengan komunikasi.
“Saya dan wagub ingin betul-betul bekerja dengan dukungan penuh masyarakat Sulsel. Saya sampaikan bahwa jabatan ini hanya lima tahun. Kemenangan ini adalah kemenangan masyarakat Sulsel. Jadi tidak ada yang kalah. Oleh karena itu jangan kita pernah merasa terlalu euforia,” ujarnya.
Ada yang menarik di sela-sela Prof Andalan orasi. Dari tenda pendukung, seseorang tiba-tiba berteriak,” Adakah!!”
Bersama Andi Sudirman Sulaiman, NA mengatakan dirinya akan membangun Sulsel secara rileks. Tidak perlu tegang. Dia berjanji akan membangun pemerintahan yang mengayomi.
Tugasnya sekarang, akan mendatangi semua orang yang tidak mendukungnya saat pilgub lalu. “Tidak usah lagi ada perbedaan karena jabatan ini sifatnya sementara,” kata NA.
Setelah NA, giliran Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman yang menyampaikan orasinya. Ia mengatakan, sebagai orang baru dalam pemerintahan, dirinya akan terus belajar, terkhusus kepada gubernur NA.
“Saya sendiri terus belajar ke Pak Prof. Saya harus terus belajar dan belajar pemerintahan. Saya jiwanya masih muda. Kadang-kadang kencang gasnya. Harus direm sedikit. Adanya Pak Prof, adalah keseimbangan,” jelasnya.
Dia juga meminta semua relawan, tim sukses dan para pendukung untuk menghapus sekat serta perbedaan. Saatnya untuk bersama-sama membangun Sulsel
Menurut rencana, hari ini, Jumat (7/9) pagi, akan digelar serah terima jabatan dari Sumarsono kepada gubernur dan wakil gubernur terpilih. Acara sertijab akan digelar di ruang pola.
Sebelum sertijab, NA akan memimpin apel besar di Kantor Gubernur pukul 07.30 Wita.
Setelah sertijab, baik gubernur maupun wagub untuk pertama kalinya akan berkantor di ruang kerjanya untuk pertama kali. Setelah itu, akan bersilaturahmi ke OPD lingkup kantor Gubernur Sulsel.
“Sebagai kepala rumah tangga di provinsi, saya kan harus tahu isinya siapa-siapa. Tugasnya apa saja. Targetnya apa. Itu dulu. Kita duduk sama-sama dulu. Jangan kita datang tanpa pesan. Jadi kita harus datang dengan punya pesan,” pungkasnya.
Mengganti Bukan Solusi
Sudah menjadi rahasia umum, pergantian kepempinan dalam lingkup pemerintahan, akan mengubah konstalasi susunan kepala OPD. Demikian juga di era NA-ASS.
Gubernur NA punya kriteria khusus pejabat seperti apa yang akan membantunya menjalankan roda pemerintahan di Pemprov Sulsel.
“Saya mau sampaikanki. Saya punya target. Jadi mengganti orang itu bukan solusi. Jika target saya tidak bisa dicapai, dia sendiri yang mundur. Jadi kalau saya, yang terbaik yang dimiliki pemprov harus tampil ke depan. Harus itu,” ungkapnya.
Kriteria lain dalam pemilihan OPD adalah bagaimana pejabat bersangkutan bisa berkomunikasi baik dengan para media. Supaya terjalin hubungan kerja yang baik. Jangan tutup-tutupi informasi yang harus dipublis.
“Kita ingin media bisa menjadi supporting pemerintah daerah untuk memacu pembangunan. Jangan alergi kritik. Karena kritik itu yang membesarkan kita,” tegasnya.
Dia mengaku tidak punya target evaluasi para kepala OPD. Yang jelas, semua bisa kerja, menyukseskan program yang sudah dirancang.
“Seperti lingkup PU, dalam tiga tahun kita harus menyelesaikan seluruh jalan provinsi yang mengalami kerusakan. Kalau setahun saja tidak ada kinerja, ya tidak mungkin kan kita pertahankan. Di bidang kesehatan, kita akan membangun enam rumah sakit regional. Sejauh mana ini dipersiapkan,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, di bidang perikanan misalnya. Kalau hanya sekadar menghabiskan anggaran setiap tahun, anak SD pun jadi kepala dinas bisa.
“Tapi saya ingin setengah corporate. Jadi orientasi pada hasil. Supaya amanahnya rakyat mengelola Rp99,9 triliun ini dirasakan. Ini kan yang penting,” tegasnya.
Nurdin menambahkan, seperti kebiasaan di Bantaeng, dirinya menerapkan pola assesment. Kecil kemungkinan ada non job pejabat. Namun, kalau rolling atau mutasi, itu yang akan terjadi.
“Misalnya, pejabat A ternyata cocoknya di posisi ini. Dan seterusnya. Kalau saya non job itu kita harus ingat, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Selama orang ini mau sempurnakan kelemahannya, Insyaallah kita bersama-sama,” tegasnya.
Dia juga menekankan, jangan pura-pura loyal karena dia mengetahui kalau ada pejabat yang begitu. Peringatan lain, jangan coba-coba membuat statemen yang merugikan pemerintah.
“Karena kita satu gerbong ini. Jangan pernah komandannya belok kiri, dia belok kanan. Itu aja yang saya ingatkan. Karena tidak ada yang sempurna,” tambah Nurdin.
Dia mengaku jika gaya kepemimpinan itu berbeda-beda. Selama menjabat di Bantaeng, tak satupun kepala dinas yang dinonjobkan. Kecuali bagi yang keluar dari aturan permainan yang telah ditentukan.
“Misalkan, tiga kali tidak terima telepon, dinonjobkan. Gitu kan. Jadi handphone harus di bawah bantal. Saya handphoneku tidak pernah mati,” pungkasnya. (rhm/rus)

