KEPALA Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Kota Makassar Budi Sarwono blak-blakan di redaksi Harian Berita Kota Makassar. Ia hadir dalam sesi diskusi Mempoki (Membahas Problematikan Kota Kita) ri BKM, Jumat (21/9).
Budi mengawali penjelasannya dengan sebuah harapan. Melalui diskusi ini, setidaknya bisa menepis masalah yang kerap dilekatkan terhadap lapas serta binaannya. Dan dapat melihat sisi positif dari keberadaan sebuah lapas.
”Ada lima dari 10 kasus-kasus besar di Indonesia terjadi di Lapas Kelas I Makassar. Kita ingin mencoba melawan berita negatif dengan berita positif,” kata Budi Sarwono.
Budi mengakui, Lapas Kelas I Makassar cukup produktif dalam membekali keterampilan terhadap warga binaannya. Bahkan mampu mencetak 100 tenaga kerja produktif. Di antaranya tukang kayu dan tukang batu. Keahlian mereka kemudian disalurkan.
”Siapa yang butuh tukang kayu dan tukang batu, silakan hubungi kami. Warga binaan kami antar jemput pakai mobil. Mereka diberi upah dari gajinya bekerja. Ini berlaku bagi warga binaan yang sudah tidak lama lagi bebas,” jelas Budi di depan Pemimpin Redaksi BKM Muh Arsan Fitri.
Saat di BKM, Budi didampingi sejumlah pejabatnya. Masing-masing Kepala Bidang Pembinaan Napi Sony Sofyan. Kepala Kesatuan Pengamanan Mutzaini. Kepala Bagian Tata Usaha Pahruddin Saputra. Kepala Seksi Perawatan Napi Amsar. Kepala Seksi Bimbingan Kerja Darmansyah. Kepala Seksi Pelaporan dan Tata Tertib Santy Sastriawati. Penyusun Kebutuhan Sarana dan Prasarana Supardi. Pengelola Simak BMN A Fardal Saleh. Serta Penjaga Tahanan Syamsul Alam.
Disebutkan olehnya, saat ini Lapas Kelas I Makassar memiliki 980 warga binaan. Kasus kejahatan yang paling banyak yakni tindak pidana korupsi (tipikor). Jumlahnya di kisaran 200 orang. Urutan kedua kasus pembunuhan. Ketiga, kasus pelecehan seksual. Sementara untuk yang terlibat kasus terorisme ada dua orang.
Guna memberdayakan warga binaan, pihak lapas menyediakan lahan dan lokasi untuk dikelola. Seperti kolam untuk budidaya perikanan. Juga tanah untuk ditanami sayur mayur. ”Kami punya produksi cabe yang terkenal sampai ke luar negeri,” tuturnya.
Program produktif juga intens dilakukan pihak lapas. Ditargetkan, 10 persen warga binaan saat ini bisa aktif dipekerjakan.
”Saat ini ada proyek pembangunan perumahan yang meminta warga binaan kita untuk praktik di sana. Program ini bisa menghasilkan. Itu bisa kita fasilitasi. Hanya saja yang menjadi masalah KTP. Karena banyak yang tidak memilikinya,” terang Budi lagi.
Melalui program yang dilaksanakan ini, Budi berharap, mantan warga binaan ini bisa menjadi tenaga terampil setelah bebas nantinya.
”Ada banyak kegiatan positif di dalam lapas yang perlu diketahui publik,” ujarnya.
Ia kemudian menyebut beberapa lagi program pemberian keterampilan lainnya. Seperti pembuatan roti. Pelatihan pengolahan limbah. Pabrik tempe serta furniture.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Napi Sony Sofyan, menjelaskan bahwa pembinaan dalam lapas dilakukan dalam tiga lapisan. Yakni maximum security, medium security (persiapan keluar), dan minimun security (keluar).
”Selama di dalam lapas, kiota memberikan keterampilan kepada warga binaan. Juga kemandirian serta pembinaan. Dengan begitu mereka sudah punya bekal setelah keluar. Cara pandangnya juga berubah,” jelas Soni Sofyan.
Kepala Kesatuan Pengamanan Mutzaini, memaparkan program pengawalan yang ada dalam lapas. Seperti pengawalan yang tidak melekat.
”Warga binaan yang tugas di luar ada pengawasan. Pengawasan terhadap yang sudah sidang bebas bersyarat, serta pengawalan CMK yang diketahui pemerintah setempat,” ujar Mutzaini. (jun/rus)
”Banyak Kegiatan Positif di Lapas yang Perlu Diketahui”
×

