MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemkot Makassar menyiapkan 12 rumah sakit di kota ini bagi pasien korban gempa dan tsunami dari Sulawesi Tengah. Seiring gelombang pengungsian dari lokasi bencana, pasien yang dirawat pun terus bertambah.
Bahkan di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid, Daya, Makassar, pasien sudah melampaui daya tampung yang tersedia. Sebanyak 121 korban gempa dan tsunami dirawat di rumah sakit ini. Mereka menderita luka fisik, seperti patah tulang. Ada pula yang mengalami trauma berat.
Pasca Sarjono Patabang selaku Humas RS Dr Tadjuddin Chalid, menyebutkan dari 121 pasien yang dirawat, 34 di antaranya sudah dipulangkan.
”Sejak hari Senin (1/10) hingga sekarang, sudah ada 10 gelombang pasien yang dirawat di sini. Yang baru masuk ada tiga orang. Jadi jumlah keseluruhannya 121 orang. 34 sudah dipulangkan setelah kondisinya membaik,” terang Pasca Sarjono, kemarin.
Selain ruang perawatan bagian pasien korban gempa dan tsunami, pihak rumah sakit juga menyediakan tempat bagi keluarga mereka.
Semakin banyaknya jumlah pasien yang mesti dirawat, membuat kamar di RS Tadjuddin Chalid tak lagi memadai. Para korban bencana Sulteng pun mesti berampur dengan pasien umum lainnya.
”Kalau dibilang ruangan perawatannya cukup, ya…sudah tidak lagi. Karena sudah melampaui kapasitas yang tersedia. Makanya, ada beberapa pasien korban gempa yang bercampur dengan pasien umum,” terang Pasca Sarjono lagi.
Dia menyebut, RS Tadjuddin Chalid memiliki enam gedung dengan 100 lebih kamar. Semuanya kini telah terisi penuh pasien.
Di rumah sakit ini, BKM menemui Anto (50), salah seorang keluarga korban gempa Palu yang dirawat. Istrinya mengalami serangan jantung saat gempa dan lumpur meluluhlantakkan tempat tinggalnya.
Sang istri bernama Eni (43) terpaksa dilarikan ke Makassar dan harus menjalani cuci darah.
”Kalau rumah kami sudah tidak ada lagi di sana. Tenggelam semua,” cetus Anto sedih.
Sementara Nanang (40), korban gempa lainnya yang harus terpisah dengan istri dan kedua anaknya. Istrinya bernama Selfiana (30), serta anaknya Muh Yusuf (3) dan Muh Ali (2), tak pernah lagi ada komunikasi sejak gempa melanda.
”Saya sudah cari ke mana-mana di Petobo. Sampai saya jalan ke Pasangkayu dan minta sumbangan di sana untuk naik bus dengan anak ketiga saya ke Makassar. Rencananya saya mau pergi ke Kalimantan,” tuturnya.
Menurut Nanang, tempat tinggalnya di Petobo kini sudah tidak ada lagi. Hilang ditelan lumpur. Dirinya berhasil selamat setelah naik ke atap rumah bersama anak ketiganya bernama Fajar, yang kini berusia 5 tahun.
”Hancur semua, Mba. Saya rasa waktu itu rumah saya diputar-putar. Bahkan gunung di sana sudah terasa pendek akibat lumpur,” begitu kisah Nanang.
Dominan Ibu Hamil
Peningkatan jumlah pasien korban gempa dan tsunami Sulteng juga terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Wahidin Sudirohusodo. Termasuk di RSU Daya milik Pemkot Makassar.
Terhitung sejak 29 September hingga 5 Oktober, pasien yang dirawat di RS Wahidin berjumlah 164 orang. Sementara di RS Daya sebanyak 115 orang.
”Terhitung mulai 29 September sampai sekarang, kita sudah menangani 164 orang pasien korban gempa Sulteng. Terdiri dari pasien laki-laki 72 orang, dan perempuan 92 orang,” kata Nur Hasan, Kasub Humas RSUP Wahidin, kemarin.
Yang masih menjalani perawatan hingga kemarin, jumlahnya 93 orang. Pasien anak-anak dan remaja, yakni 10 laki-laki dan sembilan perempuan. Sedangkan pasien untuk usia dewasa hingga lansia (lanjut usia) yang masih dirawat, terdiri dari laki-laki 32 orang dan perempuan 42 orang.
Adapun pasien yang dioperasi sebanyak 44 orang. Laki-laki 21 orang dan perempuan 23 orang.
“Ada juga delapan orang pasien yang baru masuk. Tiga laki-laki dan lima perempuan,” sebut Nur Hasan.
Di RSU Daya, menurut Kasubag Humas Wisnu Maulana, pasien yang dirawat kebanyakan perempuan. Korban keluar masuk untuk menjalani perawatan.
Hingga kemarin, pasien yang masih menjalani perawatan medis dan masa observasi sebanyak 40 orang. Yang telah diperbolehkan pulang berjumlah 75 orang.
“Tiap hari rata-rata kita terima pasien sebanyak 20 orang korban gempa dan tsunami Palu. Sejauh ini belum ada pasien yang luka berat. Kita hanya menerima pasien yang luka sedang dan ringan. Kalau ibu hamil, paling banyak kita tangani. Yang telah tertangani 22 orang. Tujuh orang yang sudah melahirkan,” terangnya.
Sayangnya, lanjut Wisnu, ada seorang ibu hamil yang janinnya meninggal dalam kandungan. Sementara ibunya selamat. ”Janinnya sudah kita kebumikan,” ujarnya. (ita-mat/rus)

