MAKASSAR, BKM — Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan mengambil langkah taktis terhadap dampak bencana alam gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah. Khususnya yang berhubungan dengan bidang pendidikan formal.
Disdik Sulsel menetapkan beberapa kebijakan yang sifatnya instruksi kepada satuan pendidikan (sekolah-sekolah) yang berada di bawah naungan Disdik Sulsel. Sekolah tersebut yakni jenjang SMA, SMK dan SLB negeri.
Instruksi yang dituangkan dalam bentuk surat edaran tersebut berisi enam poin. Kadisdik Sulsel Irman Yasin Limpo menandatangani surat Nomor 0045/6517-bidang SMA.1/Disdik tersebut pada Kamis (4/10).
Poin surat edaran yang ditujukan kepada Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan se-Sulsel tersebut, diarahkan untuk mengatasi persoalan siswa yang tidak dapat melanjutkan pelajaran sebagai dampak gempa dan tsunami.
KCD diminta menerima peserta didik yang terkena bencana alam, khususnya yang berasal dari Kota Palu, Donggala, dan Sigi. Status penerimaan mereka adalah siswa titipan untuk sementara waktu.
Bagi siswa yang ingin menjadi siswa tetap di Makassar, agar dapat dilihat dari aspek kebutuhan rasio proses belajar mengajar di sekolah.
“Bagi siswa titipan sementara, agar tidak dimintai kelengkapan administrasi dan seragam sekolah,” jelas None, sapaan akrab Irman, kemarin.
Kemudian untuk kelengkapan buku bacaan, dapat dipinjamkan dari perpustakaan atau sumber lain yang tidak melanggar ketentuan yang berlaku.
None juga menginstruksikan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk melakukan pembinaan kesiswaan bagi siswa yang terkena dampak bencana berupa trauma healing jika diperlukan.
Pihak sekolah juga diminta melakukan pengecekan dapodik terhadap siswa bersangkutan untuk memastikan bahwa siswa-siswi yang berasal dari Palu, Donggala dan Sigi sambil menunggu validasi dapodik siswa Sulteng.
“Jadi, jangan ada yang coba-coba memanfaatkan situasi ini untuk ambil keuntungan. Makanya, kita akan cek baik-baik dapodik siswa melalui sistem,” tegas mantan Kadis Perindag Sulsel tersebut.
Mahasiswa Untad di Unhas
Jumlah mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) yang terdaftar untuk kuliah sementara di Universitas Hasanuddin (Unhas) cukup banyak. Dari hasil rekapitulasi sejak pendataan dilaksanakan, Kamis (4/10), tercatat ada 711 mahasiswa yang terdata.
Mereka telah mengisi formulir. Bahkan, jumlah tersebut telah terdistribusi ke 12 fakultas dari 15 fakultas yang ada di Unhas.
Jumlah terbanyak terdata di Fakultas Teknik, yaitu sebanyak 140 orang. Disusul Fakultas Hukum 113 orang. Farmasi 86 orang. Fakultas Kedokteran 76 orang. Fakultas Ekonomi 74 orang, dan fakultas lainnya.
Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu sudah melaporkan hal itu saat melakukan pertemuan bersama Presiden RI Joko Widodo, Menristek Dikti, rektor-rektor PTN, serta kepala LLDIKTI, Rabu (10/10).
“Dalam pertemuan kemarin, presiden memberikan apresiasi pada perguruan tinggi yang telah membantu bencana Palu dalam berbagai upaya. Termasuk memberi kesempatan mahasiswa Untad untuk kuliah di berbagai PTN. Saat ini sudah ada 711 orang yang terdata untuk sit in di berbagai fakultas Unhas,” ungkap rektor di sela rapat, Rabu malam (10/10).
Langkah selanjutnya, setelah pendataan ini Unhas segera mengirimkan nama-nama mahasiswa tersebut ke Untad untuk memperoleh persetujuan, berupa surat pengantar atau rekomendasi. Setelah Unhas menerima persetujuan, proses sit in segera dimulai. Fakultas-fakultas di lingkungan Unhas telah siap melaksanakannya.
Khusus untuk mahasiswa Untad yang akan melanjutkan studi sementara di Unhas, Prof Dwia menjelaskan, bahwa hal ini dapat mendukung kelanjutan proses belajar bagi mahasiswa agar kuliahnya tidak terputus.
“Unhas juga akan memberikan fasilitas konseling jika ada mahasiswa Untad yang membutuhkan. Terutama untuk menghilangkan rasa trauma dan kesedihan. Jika ada yang mengalami cidera dan membutuhkan pengobatan, Unhas juga akan memberi fasilitas pelayanan kesehatan,” bebernya.
Pada prinsipnya, sit in adalah proses memindahkan sementara proses belajar mengajar mahasiswa asal Untad ke kampus Unhas. Selain untuk memastikan kelanjutan studi dan proses belajar mahasiswa yang terkena bencana, sit in juga merupakan upaya untuk membantu mahasiswa agar dapat secepatnya terlepas dari suasana trauma yang dihadapi.
Selama proses pendataan, relawan Unhas berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa asal Untad. Sebagian besar mahasiswa Untad ini masih terbayang-bayang dengan situasi bencana yang baru saja dialami. Ada yang merasa ketakutan memasuki ruangan. Ada yang selalu kaget setiap ada suara keras, hingga yang masih berwajah murung. (ita-rhm/rus)

