BENCANA alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi di Sulawesi Tengah masih menyisakan duka. Mereka yang tak lagi punya tempat tinggal kini tidak tahu harus ke mana. Pengungsian pun menjadi pilihan.
Laporan: Rahmat
ASRAMA Haji Sudiang, Kota Makassar, Selasa (16/10) masih tampak ramai seperti hari-hari biasanya. Beberapa anak-anak tampak bermain di halaman. Sementara orang tuanya yang sebagian besar ibu-ibu tampak bercengkerama satu dengan lainnya.
Mereka ini adalah pengungsi korban bencana asal Sulteng. Tercatat sebanyak 661 orang tetap bertahan dan tinggal di tempat ini.
Sejak 29 September 2018, tercatat sudah ada 3.395 pengungsi yang ditampung di Asrama Haji Sudiang. Sebanyak 2.734 orang telah meninggalkan lokasi pengungsian. Ada yang melanjutkan perjalanan ke kampung asal. Ada yang dijemput oleh keluarganya. Ada pula yang telah kembali ke Sulteng.
”Sisanya yang masih menetap di posko pengungsian masih ada 661 orang. Rata-rata mereka tak lagi punya tempat tinggal di Palu,” kata Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Sulsel AR Saleh selaku penanggung jawab posko pengungsian Asrama Haji Sudiang, Selasa (16/10).
Menurut Saleh, warga korban bencana akan ditampung di posko pengungsian ini hingga masa tanggap darurat di Palu berakhir 26 Oktober 2018. Dia berharap, pemerintah daerah di sana bisa mempersiapkan tempat tinggal sementara bagi warganya, dan menginstruksikan mereka untuk bise kembali ke Palu.
”Masa tanggap darurat telah diperpanjang hingga 26 Oktober. Bisa saja itu diperpanjang lagi, karena situasi dan kondisi di Palu belum bisa dipastikan,” terang Saleh lagi.
Pemerintah daerah di Sulteng yang warganya mengungsi ke Makassar, nantinya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah di Sulsel apabila tanggap darurat telah dicabut.
Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah telah menginstruksikan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para pengungsi koban bencana Palu yang ada di posko pengungsian. Sejauh ini, menurut Saleh, para pengungsi belum pernah mengeluhkan soal pelayanan dan fasilitas yang disediakan.
“Semua kebutuhan dan fasilitas pengungsi di sini kita layani secara maksimal. Bahkan untuk makanan dan kebutuhan pengungsi, sukarelawan dan Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang membawakannya langsung ke wisma,” jelas Saleh. (mat/rus)

