SOPPENG, BKM — Kamis sore (18/10) di kawasan persawahan Kelurahan Batu-batu, Kecamatan Maririawa, Kabupaten Soppeng. Banyak orang berkumpul. Orang dewasa dan anak-anak.
Di sawah yang tanaman padinya baru saja selesai dipanen, seorang pria berdiri. Berbaju kaus hitam, dipadu celana jins warna senada. Mengenakan topi coklat. Namanya Rudi. Berusia 30 tahun.
Ada sesuatu yang dibawa di tangan kanannya. Sebuah benda yang menyerupai jet tempur. Ukurannya tidak terlalu besar. Kira-kira ukuran 80×60 cm. Bodinya berwarna putih. Pada beberapa bagian dicat berwarna hijau.
Di leher Rudi melingkar gantungan berwarna hitam. Di bagian bawahnya tergantung sebuah remote control.
Tak lama kemudian, Rudi beraksi. Jet tempur mainan yang dibawanya coba untuk diterbangkan.
Awalnya jet tempur tersebut dipegangnya menggunakan tangan kanan untuk siap diterbangkan. Remote control lalu difungsikan. Ketiba pesawat dilepas, langsung melayang ke udara.
Mereka yang hadir di tengah sawah menikmati atraksi pesawat tempur milik Rudi. Melalui alat yang dipegangnya, Rudi mempertontonkan kemampuan jet tempur mainannya di udara. Seperti berakrobatik layaknya jet tempur sungguhan.
Memang, hobi seringkali memunculkan kreatifitas tinggi. Walau hanya tamatan Sekolah Dasar (SD), Rudi mampu merakit pesawat mainan dan menerbangkannya.
Jet tempur mainan buata Rudi terbuat dari gabus bekas tempat televisi. Biasanya barang semacam ini lebih banyak dibuang ketika seseorang membeli televisi baru.Oleh Rudi, gabung tersebut dimodifikasi menyerupai jet tempur. Kemudian diberi motor penggerak. Untuk menerbangkannya, digunakanlah remote drone.
Kepada BKM, Rudi menuturkan bahwa dari dulu dirinya suka melihat pesawat terbang. Sehingga suatu ketika terbetik ide untuk membuat jet tempur mainan yang terbuat dari gabus.
Sejak setahun lalu, obsesi itu coba direalisasikan Rudi. Gabus bekas mirip pesawat dipasangi serangkaian mesin sederhana. Terdiri dari motor penggerak yang dihidupkan dengan baterai. Ada pula alat penangkap sinyal yang bergungsi menerima perintah dari alat kendali atau remote control.
Ditemui di kediamannya, kemarin, Rudi mengatakan bahwa tidak ada yang sulit dengan proses pembuatan jet tempur mainan dari gabus ini. Ia hanya memanfaatkan gabus bekas dari tempat televisi ataupun kulkas.
”Ketebalan gabus bekas tempat televisi atau kulkas cocok untuk membuat pesawat, sehingga tidak mudah patah,” terang Rudi.
Hal penting dalam proses membuat pesawat dari gabus ini, menurutnya, adalah menyeimbangkan berat gabus sebagai badan pesawat dengan motor penggerak sebagai mesinnya. Kesesuaian berat dan proporsi ukuran pesawat akan menentukan kemampuan terbang pesawat.
Kendati pesawat mainan yang mampu terbang dengan kendali remote control buatan pabrik sudah banyak dijual di pasaran, namun dengan membuatnya sendiri menggunakan gabus bekas, menurut Rudi, jauh lebih murah
“Untuk satu pesawat jet dengan bahan dasar gabus bekas hanya butuh biaya sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 jutaan. Kalau mesinnya semua saya beli, Pak. Kalau untuk alat kendalinya, saya pakai remote control drone,” beber Rudi.
Sementara bahan dasar pembuatan pesawat, yakni bambu, tripleks, karet gelang, lem tembak, dan gabus bekas. ”Saya bukan orang kaya, Pak. Tapi hobi saya mahal,” ujarnya polos.
Anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Hasan dan Nurjannah in berharap, jet tempur mainan ciptaannya kelak bisa menarik minat masyarakat untuk membelinya. Apalagi, Rudi yang sudah menikah dengan Kasmawati dan dikaruniai seorang putri ini, telah menciptakan dan merakit beberapa pesawat mainan yang bisa diterbangkan.
”Sudah ada empat pesawat mainan yang saya buat. Semuanya bisa diterbangkan. Satu remote cocok untuk empat-empatnya,” terang Rudi.
Selain pesawat, Rudi juga mengembangkan kreatifitasnya merakit mobil dan kapal laut. Semuanya bisa digerakkan dengan remote.
Diakuinya, untuk membuat satu pesawat mainan hanya butuh waktu satu hari satu malam. Yang biasa perlu waktu adalah membuat konek antara mesin dengan remotenya. Semua ia pelajari secara otodidak melalui internet.
“Pesawat buatan saya ini mampu terbang 7-10 menit dengan ketinggian jelajah sampai 30 meter,” ujar ‘Habibie’ dari Batu-batu ini. (ono/rus/b)

