MAKASSAR, BKM — Perayaan Hari Jadi ke-349 Provinsi Sulsel, Jumat (19/10) dilaksanakan secara sederhana. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Puncaknya digelar dalam rapat paripurna
di gedung DPRD Sulsel.
Peringatan HUT Sulsel dikemas secara sederhana, sebagai bentuk keprihatinan terhadap musibah yang terjadi di Lombok, Palu, dan Donggala. Meski diklaim sederhana, namun perayaan ini menghabiskan anggaran sekitar Rp200 juta.
Menurut Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Sekwan DPRD) Sulsel Muhammad Jabir, anggaran itu digunakan untuk membiayai sejumlah item pengeluaran. Yang paling besar adalah untuk konsumsi.
Dengan estimasi jumlah undangan yang datang sekitar 2000-an orang, pihaknya mengalokasikan dana sekitar Rp75 juta. Selain itu, kata dia, pihaknya juga menyiapkan dua tenda besar yang dipasang di sisi kiri dan kanan gedung utama lantai 2 DPRD Sulsel.
Tenda itu diperuntukkan bagi undangan yang tidak muat di ruang rapat paripurna karena arealnya terbatas.
Jabir mengatakan, dibanding menyelenggarakan HUT Sulsel secara outdoor, anggaran yang digunakan untuk acara indoor lebih rendah.
Hampir seluruh undangan, termasuk gubernur/wakil gubernur, forkopimda, anggota DPRD Sulsel, pejabat eselon II Pemprov Sulsel hingga staf mengenakan pakaian adat.
Hanya ada beberapa acara inti dalam perayaan HUT Sulsel itu. Sambutan ketua DPRD, pembacaan sejarah singkat berdirinya Provinsi Sulsel dan sambutan oleh gubernur Sulsel.
Di akhir acara, paduan suara Unhas mempersembahkan tiga lagu daerah untuk menghidupkan suasana. Sejumlah tamu undangan bertanya-tanya kenapa lagu Mars Sulsel yang diprakarsai oleh Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, tidak dikumandangkan para peringatan hari bersejarah tersebut. Padahal, di era Soni, sudah diwanti-wanti jika lagu tersebut harus dikumandangkan di setiap event-event besar daerah.
Pj Sekretaris Provinsi Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo, mengatakan run down acara sepenuhnya diatur oleh sekretariat DPRD Sulsel.
“Nanti saya tanyakan. Saya konfirmasi ulang ke Pak Sekwan soal ini. Mungkin agak kelupaan,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan, yang paling penting dalam kegiatan ini, bagaimana poin-poin yang ingin disampaikan ke DPRD tepat sasaran.
“Kalau secara seremonial, saya bukan ahlinya. Semua agenda kan sudah disusun. Kita tinggal mengikuti. Hal lain yang ingin ditambahkan, silakan diatur,” kelitnya.
Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah (NA) dalam pidatonya melaporkan kondisi Sulsel saat ini. NA menyebutkan, bagi Provinsi Sulawesi Selatan, hari jadi memiliki makna penting bukan hanya sebagai penanda bertambahnya usia yang telah mendekati tiga setengah abad atau 349 tahun. Namun, menjadi wahana dan introspeksi diri terhadap apa yang membutuhkan perbaikan ke depan.
NA pada kesempatan ini juga menyampaikan, beberapa pokok-pokok pikiran berkenaan dengan arah pembangunan Sulawesi Selatan yang akan menjadi agenda bersama.
“Ini dalam rangka meletakkan pondasi yang kuat bagi perencanaan pembangunan di tahun-tahun mendatang. Sulawesi Selatan memiliki potensi yang sangat strategis untuk menjadi barometer pertumbuhan ekonomi di Indonesia, namun belum sampai pada kondisi ideal sebagaimana yang diinginkan dan diharapkan masyarakat secara umum,” paparnya.
Dari keberhasilan yang ada, ada beberapa indikator menunjukkan angka yang masih kurang menggembirakan. Seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih berada di urutan ke-14 dari 34 provinsi Indonesia. Rasio jumlah orang miskin dari jumlah total penduduk yang masih tinggi, yakni di angka 9 persen.
Tingkat kesenjangan pembangunan daerah yang diukur dari gini ratio menempatkan Sulawesi Selatan tertinggi kedua di Indonesia dengan nilai 0,42. Jumlah sawah tadah hujan seluas 250.000 hektare dengan persentase 40 persen belum teririgasi.
“Untuk itu, Sulawesi Selatan ke depan harus dibangun dengan misi yang jelas, terukur, terencana dan dapat diimplementasikan,” ujarnya.
Yakni, melalui Sulawesi Selatan bersih melayani yang bercirikan pemerintahan yang bersih melayani bebas dari KKN transparan dan partisipatif tanpa memiliki sekat dengan masyarakat, serta menyederhanakan birokrasi.
Ada yang menarik saat NA membacakan pidato. Orang nomor satu Sulsel itu batuk beberapa kali. Dengan sigap, Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono melangkah ke mimbar menuangkan air minum untuk gubernur.
Sementara itu, Ketua DPRD Sulsel HM Roem menyatakan rasa terima kasihnya karena puncak peringatan hari jadi dilaksanakan dalam bentuk rapat paripurna.
“Rasa terima kasih dan apresiasi yang sama, kami ucapkan kepada Bapak Gubernur oleh karena telah mempercayakan kepada DPRD untuk menyelenggarakan puncak peringatan hari jadi Sulawesi Selatan yang ke-349 dalam rapat Paripurna Istimewa,” kata HM Roem.
Dia menyebutkan, rentang waktu 349 tahun, suatu masa
perjalanan waktu yang sangat panjang. Juga telah menorehkan
berbagai bentuk peristiwa, dan memberikan begitu banyak bekal pengalaman bagi masyarakat dan pemerintah di daerah ini.
“Dalam pemahaman hakiki kita, bahwa momentum peringatan hari jadi, hari ulang tahun dan semacamnya, mestinya selalu menjadi wahana untuk menjadikan kita lebih mawas diri. Merenung dan mengenang kembali apa yang sesungguhnya masih kurang dan belum tercapai dalam membangun dan memajukan Provinsi Sulawesi Selatan,” paparnya.
HM Roem menyebutkan, kulminasi dari perhelatan demokrasi telah
menghasilkan gubernur dan wakil gubernur yang mendapat mandat dari masyarakat untuk memimpin Sulawesi Selatan kurun waktu 2018-2023, yaitu Nurdin Abdullah- Andi Sudirman.
“Lazimnya, pinta masyarakat kepada tomanurung (pemimpinnya) dikisahkan antara lain, selimutilah kami supaya terhindar dari kedinginan, payungilah kami agar terhindar dari teriknya matahari dan tuntunlah kami agar mendapat tempat berpijak yang patut,” paparnya. (rhm/rus)
HUT Tanpa Mars Sulsel Habiskan Rp200 Juta
×

