MANTAN Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar Ridwan Muhadir menjadi narasumber pada sesi diskusi Mempoki ri BKM (Membahas Problematikan Kota Kita di Berita Kota Makassar), Selasa (15/1). Ia memaparkan sejumlah solusi yang bisa dilakukan untuk membenahi permasalahan di kota ini.
BERBAGAI pemikiran inovatif ada di benak Ridwan. Terutama terkait penanganan banjir maupun genangan yang selama ini terjadi di Makassar.
Makassar yang merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur memang memiliki berbagai permasalahan yang pelik dan cukup kompleks. Dari dulu hingga sekarang, persoalan banjir tak juga bisa teratasi secara tuntas.
Setiap hujan deras mengguyur, ada saja wilayah yang terendam. Rumah-rumah penduduk kebanjiran. Penghuninya pun terpaksa mengungsi.
Kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di Makassar ditengarai menjadi salah satu penyebab air meluber sampai ke perumahan warga. Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat untuk resapan air kini banyak yang telah beralih fungsi. Kompleks perumahan berdiri di atasnya. Juga ruko, serta bangunan lainnya.
Namun, hal ini bukan tanpa solusi. Ridwan menyampaikan bahwa ada berbagai jalan keluar alternatif guna memecahkan permasalahan tersebut.
Salah satu yang menjadi solusi inovatifnya adalah pembuatan kantong air. Di mana kantong air ini nantinya akan berfungsi menampung genangan, sehingga air tidak meluber ke permukaan.
“Fungsinya seperti waduk tunggu nantinya. Kita kan punya taman. Di bawahnya itu dibangun kolam. Kolam inilah yang nantinya berfungsi menampung air. Nanti kalau kemarau, baru air ini dipompa keluar,” katanya.
Gagasan yang disampaikan Ridwan ini bukan tanpa dasar. Karena ternyata, ketika menjabat sebagai kadis PU Kota Makassar ia pernah menghasilkan gebrakan inovatif yang cukup melekat di hati masyarakat.
Ia mencetuskan Gerakan Bersih Saluran Drainase. Melalui program ini, warga digerakkan untuk membersihkan drainase yang berada di sekitar rumahnya masing-masing. Programnya saat itu dianggap efektif di tengah alokasi anggaran yang minim.
Programnya tersebut pun hingga kini ia katakan masih menjadi andalan Dinas PU. Bahkan menjadi cikal bakal terbentuknya satuan tugas (satgas) kebersihan, yang kini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 480 orang.
Di bagian lain pemarapannya, Ridwan menegaskan bahwa Makassar ini harus diatur sedemikian rupa. Salah satunya yang perlu dan mendesak untuk dihadirkan adalah regulasi berupa peraturan daerah (perda) tentang ketinggian lantai bangunan. Supaya jika ada peninggian jalan untuk menghindarkan dari banjir, bangunan lain tak bersoal.
“Sekarang harusnya ada perda tentang ketinggian lantai bangunan. Semestinya ada acuan tinggi lantainya sekian. Kapan melanggar, langsung bongkar. Kita bisa lihat sekarang, orang seenaknya meninggikan bangunannya. Tak ada yang mengaturnya,” tandasnya.
Agar aturan yang ada tidak dilanggar oleh masyarakat, dikatakan Ridwan, sanksi tegas harus ditegakkan. Dan yang terpenting adalah sebelum bangunan berdiri, sudah ada langkah diantisipasi. Sebab akan sulit untuk melakukan penertiban jika bangunannya sudah jadi.
“Biasanya sudah jadimi itu apa-apa, baru mau dirapikan. Ini persoalan. Harusnya dari pertama diantisipasi memang. Biasanya juga itu, ada yang izin membangun bangunan biasa, tapi ternyata bangun hotel. Setelah itu pemerintah malah melanjutkan izinnya lagi. Ini perlu ketegasan dari semua stakeholder terkait,” tegasnya.
Selain soal kantong air dan bangunan, hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah pembangunan jalanan. Betonisasi, bagi Ridwan, memang baik. Karena dianggap lebih kuat dari jalan yang hanya berlapis aspal.
Namun, tingginya jalan beton biasa menjadi masalah tertentu. Jalanan yang biasanya lebih tinggi dari rumah warga setelah betonisasi, membuat air semakin mudah masuk ke rumah warga.
Karenanya, kata dia, betonisasi jalan perlu dibarengi dengan sistem drainase yang juga harus baik.
“Untuk jalanan, tidak semua harus dibeton. Kita lihat dari struktur jalannya juga. Apalagi jika tidak dibarengi dengan drainase. Jadi kalau mau dibeton, barengi juga dengan sistem drainase yang baik, supaya air mengalir dengan baik. Bukannya timbul masalah baru. Air masuk ke rumah warga yang letaknya lebih rendah dari jalanan,” kuncinya. (nug/rus/b)

