GOWA, BKM — Selasa pagi hingga siang, Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) menetapkan status waspada terhadap Bendungan Bilibili yang terletak di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Kondisi elevasi air di bendung ini mencapai 101,36.
Elevasi terus bergerak naik, meski sudah relatif lebih lambat pergerakannya dibanding pagi dan siangnya. Pada pukul 16.03 Wita, elevasi muka air sudah mencapai 101,80. Statusnya pun ditingkatkan menjadi siaga.
Hal itu disampaikan Kepala Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Tengku Iskandar, kemarin. Menurutnya, sejak pagi sekitar pukul 07.00 Wita, pintu air Bendungan Bilibili dibuka untuk mengalirkan air.
Ia menjelaskan, elevasi air yang mencapai 101,36, berada pada sekitar satu meter dari saluran pelimpah. Air tersebut kemudian dibuang ke Sungai Jeneberang yang mengarah ke Bissua dan Kampili.
‘Saya sudah koordinasikan ke Pak Bupati status waspada naik menjadi status siaga, karena kondisi elevasi air terus bergerak naik menjadi 101,80 pada pukul 16.03 Wita,” kata Iskandar, Selasa (22/1).
Tengku Iskandar merincikan, saat ini kondisi tingkatan status dari bendungan Bilibili yakni pertama; status normal dengan tinggi muka air (TMA) mencapai elevasi +99,50. Kedua, status pemantau TMA mencapai elevasi +99,64.
Tiga, status waspada TMA mencapai elevasi +100. Empat, status siaga TMA mencapai elevasi +101,60. Lima, status batas awas TMA mencapai elevasi +103.00.
“Sekarang kondisi terkini sudah di atas elevasi +101.80 (SOP status siaga), dari semula kondisi air berada pada 101.36,” Iskandar.
Untuk itu, pihaknya sudah merilis dan menyampaikan early warning system kepada masyarakat. Khususnya yang bermukim di bawah hilir bendungan untuk mengambil langkah menghindar dari lokasi yang terdampak.
“Jadi kami sudah sampaikan peringatan dini melalui pengeras suara yang bisa terdengar hingga radius 4 km untuk mengambil langkah antisipasi. Khususnya yang berada di sekitar hilir bendungan, seperti Kampili, Bissua, dan Jeneberang,” ungkap Iskandar, kemarin.
Selain itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan gubernur, wakil gubernur, dan bupati Gowa untuk melaporkan kondisi yang berkembang seputar bendungan Bilibili.
“Saya sudah update ke gubernur dan pak wagub serta bupati informasi ini,” pungkasnya.
Tinggi Ombak 6 Meter
Badan Metereologi, Klimatologi,dan Geofisika (BMKG) merilis, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat terjadi pada Selasa (22/1) di berbagai wilayah Sulsel.
Tercatat, curah hujan paling tinggi terjadi di Panaikang dengan intensitas 122 mm, Maros 133 mm, Hasanuddin 197 mm, Gowa 101 mm, Paotere 84 mm. Sedangkan kecepatan angin tertinggi tercatat di Paotere 32 knot.
Menurut Plt Kepala Balai Besar MKG Wilayah IV Makassar Joharman, curah hujan yang tinggi disebabkan oleh adanya daerah tekanan rendah di sekitar Laut Flores dan daerah konvergensi di wilayah Selat Makassar. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di perairan Sulawesi Selatan dan kelembaban udara yang juga sangat tinggi, menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan sangat signifikan di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya pesisir Barat.
Dalam beberapa hari ke depan, lanjut dia, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang diperkirakan masih dapat terjadi di wilayah Sulawesi Selatan bagian Barat. Meliputi Kota Makassar, Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, dan Gowa. Juga wilayah Sulawesi Selatan bagian Selatan, mencakup Kabupaten Takalar, Jeneponto, dan Kepulauan Selayar.
Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau agar mewaspadai bencana hidrometeorologi yang potensial terjadi dalam beberapa hari ke depan seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai gelombang tinggi di perairan sekitar Sulawesi Selatan. Gelombang dengan ketinggian 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di dan Teluk Bone bagian Utara.
Gelombang dengan ketinggian 2,5-4,0 meter berpotensi terjadi di Teluk Bone bagian Selatan. Gelombang dengan ketinggian 4,0-6,0 meter berpotensi terjadi di Selat Makassar bagian selatan, Perairan barat Sulawesi Selatan, Perairan Kepulauan Sabalana, Perairan Kepulauan Selayar, dan Laut Flores.
Antisipasi perlu dilakukan dalam menghadapi kondisi hujan lebat dan angin kencang. Misalnya dengan membersihkan saluran-saluran air, hingga pemangkasan pohon.
Alt Berat Disiapkan
Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menginstruksikan seluruh stakeholder terkait untuk bergerak memberi bantuan menangani banjir di beberapa daerah. Termasuk yang terparah di Kabupaten Gowa.
Dia mengatakan, bupati Gowa meminta bantuan BPBD provinsi dan Basarnas untuk melakukan relokasi warga yang terdampak banjir. Khususnya yang terdampak overflow Bendungan Bilibili.
Dia pun langsung menginstruksikan ke Kepala BPBD Sulsel Samsibar untuk mengambil langkah-langkah strategis yang dibutuhkan. Selain itu, wagub juga meminta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Cipta Karya dan Tata Ruang untuk menyiapkan alat berat. Termasuk yang baru dibeli beberapa waktu lalu jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Alat berat tersebut adalah eskavator tipe PC 200 seharga Rp1,8 miliar, dan eskavator amfibi seharga Rp6 miliar. Eskavator PC 200 sudah pernah digunakan untuk ikut menanggulangi banjir di Kabupaten Barru beberapa waktu lalu.
Kepala BPBD Sulsel Syamsibar mengatakan, bencana banjir terjadi di beberapa titik seperti di Kabupaten Gowa, Pangkep, Maros, dan Kota Makassar.
“Semua anggota sudah terjun langsung memberikan bantuan di beberapa titik. Ada yang di Moncongloe, Gowa. Kabupaten Pangkep dan Maros juga kita telusuri langsung ke sana, karena daerah Camba banjirnya sudah parah,” ungkapnya.
BPBD juga sedang berjaga-jaga di daerah Barombong. Apalagi, kata dia, ada nelayan yang terjebak di sungai Barombong dan perlu dievakuasi.
“Banyak itu di Barombong, karena mereka sementara di atas perahu. Jadi kami bersama tim Basarnas membagi kelompok. Ada yang ke daerah dan ada yang kita dikhususkan di Kota Makassar. Karena di Makassar juga sedang siaga satu,” jelasnya.
Syamsibar mengatakan, beberapa hari ke depan pihaknya akan terus memonitor BPBD kabupaten dan kota se-Sulel untuk mendapatkan informasi terkait bencana banjir dan longsor. Bantuan logistik seperti perahu karet baru akan dikirim ketika kabupaten/kota sudah kewalahan. (rhm-sar/rus)
Jembatan
Moncongloe Rubuh
BUPATI Gowa Adnan Purichta Ichsan mengimbau kepada masyarakat agar mengungsi dulu ke tempat yang lebih aman. Sebab proses pembukaan pintu bendung Bilibili untuk melepas air keluar sementara berjalan.
Dalam proses ini, daya buang akan berdampak. Salah satunya adalah rubuhnya jembatan Moncongloe, sebab tidak bisa menahan derasnya aliran buangan air dari waduk. Ada sembilan kecamatan pada dataran rendah yang terkena dampak.
”Sembilan kecamatan dataran rendah ini akan terkena dampak pembukaan air di Bilibili. Sekarang terus dibuka agar mengurangi air untuk mengurangi volume yang ada,” jelas Adnan, kemarin. Meski telah dibuka, pasokan air dari hulu terus masuk. Sebab curah hujan di wilayah hulu dataran tinggi cukup tinggi. Namun, ia meminta masyarakat tidak kuatir berlebih, tapi tetap waspada.
Khusus jembatan rubuh di Desa Moncongloe, menurut Adnan, memang letaknya ada di dekat pintu air waduk. Sehingga ketika air dibuka, maka arusnya tentu menghantam fisik jembatan hingga patah.
“Untuk jembatan ini tentu akses jalur ke wilayah Tanakarang putus. Masyarakat diarahkan untuk melintas dari arah Kecamatan Pallangga jika mau ke kota. Sementara yang dari arah Manuju sebelah timur masih tersambung dan arus aman,” jelasnya.
Ditanya soal perbaikan jembatan tersebut, Adnan memastikan pemkab akan melakukannya. Namun butuh waktu, karena cuaca saat ini sedang tidak mendukung.
Terpisah, Kapolsek Manuju Iptu Kasmawati yang dikonfirmasi membenarkan jika jembatan Desa Moncongloe yang menuju Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju rubuh. Akibatnya, akses jalan menuju Desa Bilibili, Kecamatan Bontomarannu dan Desa Tanakaraeng terputus.
Iptu Kasmawati juga menyerukan agar masyarakat tidak terprovokasi dengan telah beredarnya foto yang pengambilan gambar lokasi mirip dengan bendungan Bilibili Gowa.
“Kami dari pihak Polsek Manuju, Polres Gowa menegaskan gambar tersebut bukanlah waduk atau bendungan Bilibili. Melainkan jembatan pelimpah yang melintang di atas sungai Jeneberang yang menghubungkan Kecamatan Parangloe dan Desa Tamalatea, Kecamatan Manuju. Tiap tahunnya pada musim hujan memang selalu dialiri air dari arah hulu Malino/Parigi,” jelasnya.
Fungsi jembatan pelimpah tersebut, lanjutnya, untuk menahan batu gunung, sedimen, dan material sungai yang terbawa arus air masuk ke wilayah bendungan Bilibili. (sar/rus)

