pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Caleg Wajah Baru Lebih Diinginkan

MAKASSAR, BKM — Pertarungan memperebutkan 50 kursi di Dewan Perwalilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar pada pemilu legislatif (pileg) 17 April 2019 mendatang, cukup ketat.
Sedikitnya ada sekitar 800 calon anggota legislatif (caleg) yang berasal dari 16 partai politik, tengah adu strategi guna meraih dukungan masyarakat di lima daerah pemilihan (dapil), yang tersebar pada 15 kecamatan se kota Makassar.
Tak hanya itu, pileg juga menjadi pertarungan antara petahana dan ratusan penantang. Ada yang menyebut petahana masih diunggulkan lantaran memiliki berbagai pengalaman dan prestasi. Namun ada pula yang menyebut peluang penantang yang patut diperhitungkan.
Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulsel HA Kadir Halid, menilai peluang petahana lebih besar dari penantang. “Peluang petahana jauh lebih besar. Karena sudah punya basis tersendiri. Tapi tetap harus waspada. Khususnya penantang yang punya finansial yang besar,” ujar Ketua Komisi E DPRD Sulsel ini, Rabu (27/2).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel Ariady Arsal punya pendapat berbeda. Menurutnya, ini adalah era pemilu yang memiliki aturan dan berubah sama sekali dari sistem sebelumnya.
Demikian pula karakter pemilih saat ini yang semakin cerdas dan rasional. Itu terlihat pada pilwali lalu, di mana pemenangnya adalah kotak kosong.
“Masyarakat ingin berinteraksi lebih jauh dengan calon wakilnya, serta mengetahui agenda-agenda perubahan yang tentunya diharapkan sesuai dengan keinginan masyarakat,” ujar Ariady Arsal.
Untuk itu, Ariady yang juga caleg DPR RI dari Dapil Sulsel 1 ini menegaskan, semua hal tersebut akan memberikan peluang yang sama bagi yang menjadi calon, baik petahana ataupun penantang. “Siapa yang bisa merebut hati pemilih, akan menjadikan pemilih jatuh cinta dan menjatuhkan pilihannya,” ucapnya.
Meski begitu, Ariady yang tercatat sebagai anggota DPRD Sulsel dua periode ini, mengakui bila petahana tentu memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih dibanding penantang.
“Tentu ini menjadi perhatian tersendiri bagi penantang. Petahana yang berkinerja baik akan menjadi rival yang lebih tangguh. Sebaliknya, petahana yang berkinerja buruk akan dihukum oleh masyarakat dengan tidak memilihnya,” tegas Ariady.
Peneliti dari lembaga survei Sentra Strategi Indonesia (SSI) Muh Whiliadi Mansyur, menilai bahwa dari beberapa sampel yang diambil di lapangan, memang ada beberapa dapil terpotret jika keinginan warganya cukup tinggi ingin wajah baru yang mewakilinya.
“Kalau kami ambil sampel di dapil 3 Biringkanaya-Tamalanrea, ini sangat unik. Warganya mengharapkan wajah baru ada di sekitaran 65,25 persen. Selebihnya, 34,75 persen menginginkan wajah lama,” ujar Ady, panggilan akrab Muh Whiliadi Mansyur. Indikatornya, lanjut Ady, kinerja-kinerja petahana di DPRD Kota Makassar belum mewakili aspirasi mereka.
“Pemilih anggap petahana melupakan janji-janji politiknya waktu mereka berkampanye. Setelah duduk, mereka lupa janji-janji politiknya. Penantang jangan berbesar hati. Karena temuan kami di lapangan, mereka akan memilih wajah baru sebagai wakilnya. Dengan kriteria putra daerah bisa meyakinkan pemilih tidak sama dengan petahana dan tidak korupsi. Begitu diamanahkan sebagai wakilnya nanti di DPRD,” jelasnya.
Seperti diketahui, dari 50 anggota DPRD Makassar yang ada saat ini, tidak semuanya kembali bertarung di pileg. Ada sejumlah politisi tidak lagi maju. Seperti Muzakkir Ali Jamil dan Muhammad Iqbal Djalil dari PKS. Legislator Partai Demokrat Agung Wirawan, dan wakil rakyat dari PBB Muh Said.
Ada juga legislator yang maju tapi melalui partai lain. Seperti Saharuddin Said dari Golkar ke PAN. Arifin Dg Kulle dari PKPI ke Demokrat.
Selain itu, ada pula legislator yang naik kelas menjadi caleg DPRD Provinsi Sulsel. Yakni Rahman Pina dari Golkar, serta Abd Kadir dari Partai Hanura ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

”Rajin-rajinlah
Sambangi Konstituen”

PENGAMAT politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad memberi analisa jika peluang pendatang baru dan petahana sangat ditentukan ketokohan, jaringan politik, isu, dan program serta kekuatan finansialnya.
Menurut Firdaus, pendatang baru lebih diuntungkan. Karena pemilih cenderung menaruh harapan pada mereka. Sementara kepada sang petahana, masyarakat sudah mengukur kinerjanya.
“Selama petahana mampu menjaga citranya, tentu masih memiliki peluang besar terpilih lagi,” ujar Firdaus, kemarin.
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono menilai peluang caleg penantang dan petahana selalu sama. “Seringkali kita jumpai beberapa caleg penantang yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Demikian pula dengan caleg petahana, beberapa berhasil, tapi ada juga yang gagal,” terangnya.
Dijelaskan bahwa keberhasilan seorang caleg lebih ditentukan oleh gerakan politik apa yang dilakukan kepada calon pemilih. Tentu kedekatan caleg dengan konstituen di dapil masing-masing, juga akan sangat menentukan.
“Tapi saat ini, kedekatan saja ternyata tidak cukup. Butuh komitmen yang serius dalam menjaga konstituen,” tandasnya.
Dalam soal komitmen, caleg petahana biasanya lebih unggul dalam memberikan bukti ketimbang caleg penantang. Bahkan ada juga yang membuat komitmen atau kontrak politik hitam di atas putih secara tertulis dengan konstituennya.
“Tapi pada dapil-dapil yang sikap masyarakatnya lebih pragmatis, terkadang tanpa bukti pun, hanya janji saja, seorang caleg bisa meraup banyak suara. Ya, tentu saja dapat kita tebak gerakan politik apa yang dilakukan oleh caleg tersebut,” jelas Arief.
Faktor lain yang dapat menjadi indikator adalah keserempakan pelaksanaan pileg dengan pilpres. Pada banyak fenomena lapangan, seringkali juga ditemukan, bahwa pilihan masyarakat di level pilpres, ternyata tidak paralel dengan pilihannya di tingkat pileg.
Caleg dari partai tertentu yang mendukung atau mensosialisasikan capres tertentu, atau caleg dari partai tertentu yang melawan capres tertentu, juga tidak begitu disukai oleh preferensi masyarakat.
“Jadi intinya, supaya peluang caleg semakin terbuka, rajin-rajinlah menyambangi konstituen di dapil. Bangun komitmen yang jelas dan dapat diukur keberhasilannya, ketimbang komitmen yang tidak jelas dan mengawang-awang. Caleg juga harus pintar mensetting fokus, kapan baiknya mensosialisasikan capres tertentu dan kapan tidak perlu,” pungkas Arief yang juga dosen politik Unibos ini. (rif/rus)



×


Caleg Wajah Baru Lebih Diinginkan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar